Malam Ke-27 Ramadhan
“Tahun itu
tidak ada yang mengira, kalau kebahagiaan Ramadhan di tahun sebelumnya adalah
bahasa perpisahan.”
Awal tahun 2019,
ibu hanya
mengira bahwa nyeri yang dirasakan adalah nyeri biasa atau sekedar kecapekan.
Beberapa alternative pengobatan tradisional coba ditempuh, entah benar ada
perkembangan atau itu hanya sekedar pengakuan dari ibu untuk sekedar membuat anak-anaknya
tidak khawatir. Tetapi lambat laun, tampak penyakit ibu malah semakin memangkas ruang
geraknya. Terlihat beberapa ruam yang sebelumnya kata ibu, “Itu memang efek
dari pijatan. Adanya ruam, menandakan kalau penyakitnya pada keluar.” justru berubah menjadi biang tangis ibu pada suatu sore.
Tidak sampai satu bulanan, nyeri yang ibu rasakan
justru bertambah tingkatnya, sangat sakit. Ibu memang tidak bilang kalau yang
beliau rasakan sangat menyakitkan. Tapi, dari penurunan aktivitas beliau dan
tangisannya sudah cukup menandakan bahwa penyakitnya semakin parah. Sejak saat
itu aktivitasnya lebih
banyak terbaring di ranjang, sesekali di kursi roda atau hanya sekadar duduk di
tepi ranjang berpegang walker.
Tentang udara pagi, dapur, teras, dan halaman rumah terpaksa ia tinggalkan.
Tidak lagi ia nikmati setiap harinya.
Sewajarnya
orang sakit yang ingin sembuh. Semenjak itu obat-obatan yang beliau tidak suka
menjadi kebutuhan. Awalnya 3 kali sehari, hingga tiap dua jam sekali diminum
beliau sambil menahan mual karena obat yang
terlalu banyak dan sering. Tidak hanya itu, infus, treatment, dan suntikan obat tambahan menjadi asupannya. “Sakit?”
sempat ku tanya itu pada beliau. “Tidak, yang penting sembuh.” Jawabnya. Dalam hatiku, “Allahumma rabbannasi adzhibilba’sa isyfi antasysyafi la syifauka
syifa’an la yughodiru saqoma. Beliau wanita yang sangat baik Ya Allah.
Sungguh, sakit ini membuatnya tidak berdaya. Tabahkan dan kuatkanlah beliau.
Aamiin.”
Berbagai
pengobatan telah dijalani, selama itu tak pernah terlontar keluh penderitaan
dari mulutnya. Berulang kali ku tanya, “Sakit?” beliau hanya tersenyum lantas
menunduk menyembunyikan jawaban atas pertanyaan singkatku. Tasbih hijau yang ku
beri sejak beliau jatuh sakit dan tak tak bisa lagi berjalan, senantiasa
menghiasi jemarinya. Masih ku ingat, dua benda yang wajib ada semenjak beliau
sakit, ialah tasbih dan handuk kecil. Melalui tasbih beliau senantiasa
diingatkan untuk berdzikir sebagai wujud ibadah dalam kondisi apapun, dan
handuk kecil sebagai penyeka keringat yang sewaktu-waktu membasahi tubuh dan
wajahnya.
Jika
dilihat secara biasa beliau tidak nampak seperti orang yang sakit, bahkan
guratan senyum masih menghiasi cantiknya selama rasa nyeri yang hebat tidak tiba-tiba hadir. Saat itu aku hanya yakin, “Ibu orang
yang kuat, ibu pasti bisa sembuh dari penyakitnya.” Tapi, justru keyakinanku itulah sumber penyesalanku –Ibu berhasil
membuatku percaya bahwa dia wanita yang kuat– hingga, kami tak menyadarinya
bahwa serangkaian pengobatan yang dijalani selama ini hanya memperburuk
kondisinya.
Empat bulan berjalan. Di rumah sakit keempat
sebelum operasi beliau berkata, “Ibu sudah nggak kuat, kapan sembuh?” / “In
shaa Allah, setelah ini.” kataku pada beliau. Qodratullah, dua atau satu hari sebelum operasi dokter mendiaknosa penyakit baru imbas dari penyakit yang
diderita beliau. Penyakit
pertama ibu adalah tumor syaraf tulang belakang, karena dari awal ibu takut
operasi akhirnya memakai alternative lain yang justru memperlama penyembuannya
dan membuat tumor itu malah semakin berimbas ke organ tubuh ibu yang lain.
Flash Back
Sejak di rumah sakit
pertama, ibu sudah citiscen dan cek darah. Di rumah sakit pertama itulah
penyakit tumor syaraf tulang belakang ibu diketahui. Dokter yang menangani ibu
sudah menyarankan untuk segera dioperasi, tapi ibu takut sampai menangis saat
dibujuk bapak dan kakak-kakakku. Akhirnya, kakak memintaku untuk mencoba bujuk
ibu. Aku kemudian mecobanya sambil ku ajak bercanda ibu dan kujelaskan
pentingnya operasi ini. Alhamdulillah, ibu bersedia. Langsung, kami tanda
tangani persetujuan operasi dari rumah sakit.
Rencana operasi
berubah seketika, saat ada seseorang yang membesuk ibu dan memberikan saran
selain operasi. Ibu yang memang setengah hati menyetujui untuk dioperasi
merespon baik saran dari orang tersebut. Akhirnya, hari itu yang tadinya telah
takend persetujuan untuk operasi dibatalkan. Malam itu juga, ibu dibawa pergi
ke rumah sakit yang dimaksud tersebut. Di rumah sakit inilah, pengobatan yang
ibu jalani justru semakin memperburuk kondisinya padahal biaya perawatan
rutinya tidak murah. Di rumah sakit inilah, obat yang diberikan sampai membuat
ibu mual bahkan muntah. Di rumah sakit inilah, kedatangan kami untuk terapi dan
pengambilan obat yang kesekian kalinya (lebih dari 4 kali) membuat kakak
menyadari bahwa, “Cukup! Nggak ada perubahan di sini, ibu justru semakin parah.
Sedangkan uang kita habis jika diterus-teruskan.”
Sore itu, kakak
kemudian memutuskan untuk meminta surat rujukan dari rumah sakit tersebut untuk
pindak ke rumah sakit yang lain. Tetapi, rumah sakit tersebut tidak
memberikannya. KAMI BARU SADAR SELAMA INI MENYENGSARAKAN IBU lewat pengobatan
di rumah sakit tersebut.
Meski tidak medapatkan
surat rujukan, kami putuskan untuk pindah rumah sakit atas saran dari sahabat
kakakku. Kakak juga menyesal, sejak awal telah di sarankan sahabatnya agar
jangan ke rumah sakit tersebut. Tapi kakak tidak berdaya menolak, bahwa terapi
di rumah sakit tersebut paling hanya butuh waktu 1,5 bulan dan di rumah sakit
tersebut yang menangani adalah ahlinya. Kenyataannya, telah berjalan 3 bulanan
bolak balik terapi dan minum obatnya kondisi ibu justru semakin parah.
Setelah semua urusan
di rumah sakit tersebut selesai, malam itu juga pukul 11.30 WIB kami bawa ibu
ke rumah sakit tempat praktik sahabat kakakku, itu rumah sakit ketiga yang ibu
tempati. Di rumah sakit tersebut, ibu lebih mendapatkan pelayanan yang
maksimal. Ibu jadi doyan makan, sampai bilang, “Baru sakarang ibu bisa
merasakan makanan enak lagi, sebelum-sebelumnya hambar.” Merespon itu,
“Alhamdulillah”. Di rumah sakit ketiga tersebut ibu hanya singgah tiga malam
saja. Dan di rumah sakit ini, ibu dengan kondisinya pasrah meminta dokter untuk
segera dioperasi. Atas rekomendasi sahabat kakak, ibu kemudian dirujuk ke Rumah
Sakit Pusat Dr. Kariyadi Semarang. Ini, rumah sakit keempat. Rumah sakit
terakhir lebih tepatnya.
Di rumah sakit keempat, ibu di UGD satu malam dan
kemudian dipindah ke ruang rawat inap untuk menunggu antrian hari beliau
dioperasi. Beberapa dokter mengecek ibu, menanyakan keluhannya dan beberapa
dokter memberikan pelayanan terapi. Qodratullah, saat ibu bersedia dengan
senang hati untuk dioperasi dan tinggal menghitung harinya, justru Dokter
Urologi mendiaknosa terdapat penyakit lain imbas dari penyakit tersebut.
Singkat kata, ibu harus dua kali operasi: operasi pertama, pengangkatan tumor
syaraf tulang belakang. Dan kedua, operasi penanganan infeksi usus besar yang
menempel dengan kandung kemih sehingga membentuk lubang. Itulah yang
menyebabkan ibu tidak bisa mengeluarkan air kencingnya. Infeksi tersebut
terjadi karena melemahnya kemampuan syaraf ibu.
Kali
ini, Allah menambah level ujian keimanan kami, kami pasrah. Menuju hari-H operasi, pikiran kami
dipenuhi kekhawatiran. Bukan tentang bersegera membawa pulang ibu ke rumah,
bukan tentang merencanakan Idul Fitri di rumah, atau mempertimbangan hidangan
dan pakaian lebaran. Bukan, bukan itu. Kami bahkan telah siap jika saat Idul
Fitri tiba hanya pintu rumah kami yang tertutup rapat, karena kami merayakan
lebaran bersama di rumah sakit. Namun yang kami khawatirkan saat itu hanya
kondisi ibu. Harapan dan kemungkinan buruk meracuni otak kami. Seolah-olah
saling beradu menyakinkan nurani untuk percaya. Sebagai penawarnya, melihat
kebahagian ibu hendak menjalani operasi cukup mengalihkan kekhawatiran kami.
Kami bersyukur, ibu bersemangat kembali untuk sembuh setelah sempat down mendengar diaknosa dokter mengenai adanya penyakit lain, sehingga
harus direncanakan operasi dua kali.
Alhamdulillah,
Allah beri kelancaran setelah hampir 9 jam operasi pertama pengangkatan tumor
di syaraf tulang belakang. Beliau kembali dipindahkan ke ruang perawatan, aku memandangi
wajahnya dengan mata berkaca-kaca. Dihadapanku adalah seorang wanita
berperawakan tinggi, sehat, yang selalu ku pandang wajahnya sebelum
beraktifitas seharian. Ia yang selalu ku perhatikan prilakunya, disetiap sisi
dan geraknya adalah didikan. Namun kini pandanganku disuguhkan kenyataan bawa
raganya terkulai lemah di pembaringan ranjang putih rumah sakit. Dalam kondisi
pascaoperasi, setengah sadar ibu berkata lirih, “Sholat...” beliau seperti
mengingatkan kami yang saat itu memang betul belum melaksanakan sholat isya’
sebab menunggu selesainya operasi beliau. Kami bergegas sholat bergantian.
Ketika giliranku menjaga disisi beliau, lirih ku dengar “Junjung...” beliau
meminta diangkat, mencari bapak, dan kedua kakakku. Ku bisikkan di telinga
kanan beliau, “Ibu sudah selesai operasi, sudah keluar ruang operasi. Istighfar
bu, istighfar dalam hati. Astaghfirullah aladzim...”.
Hingga
pagi, kondisi beliau masih setengah sadar. Alhamdulillah, sudah mampu sedikit
membuka mata dan menggerakkan tangannya. Ku tanya, “Ibu haus?” beliau
mengangguk, ku beri beliau minum. Ku tanya lagi, “Ibu lapar?” beliau
menggelengkan kepala. Lalu ku katakan, “Ibu makanlah sedikit, biar cepat
sembuh. Sedikit saja...” ku bujuk beliau. Dan alhamdulillah beliau mau makan,
walau hanya sedikit sekali.
Seharian
itu, kesadaran beliau masih belum sepenuhnya pulih dari operasi. Beberapan
perawat bergantian mengecek kondisinya yang dinilai janggal, hingga akhirnya
seorang dokter pun menyarankan penggunaan ventilator
untuk ibu. Yang memang sejak masuk pertama ke rumah sakit tersebut, beberapa
perawat telah menawarkan pada ibu alat bantu pernafasan, namun berulang kali
ibu menolaknya karena beliau masih mengganggap dirinya mampu tanpa alat
tersebut. Aku kembali menangis, merasa saat itu adalah waktu-waktu terakhir
bersama ibu, namun aku masih mengharap keajaiban Allah.
Pukul
4 sore ibu pasang oksigen, pukul 6 manghib beberapa dokter datang mengecek
kondisi ibu, lantas meminta persetujuan kakak yang saat itu berada disana untuk
pemakaian Nasogastric
Tube (NGT) karena setelah pemeriksaan
terakhir kondisi ibu menurun. Miris sekali, aku menolak membayangkan bagaimana
proses yang dokter jelaskan berserta risiko-risikonya. Tapi apa mau dibuat,
jika itu yang terbaik untuknya, kami hanya ingin ibu sembuh. Disetujuilah saran
dokter tersebut. Tirai ditutup, dan dokter menjalankan prosedurnya.
Dulu
hanya obat, suntikan, infus, lalu kini ditambah ventilator, NGT, dan Oximeter. Aku duduk disamping beliau, tidak ingin beranjak
menghapus keringatnya, mengaji di samping kiri, mendengar frekuensi nafas yang
tidak normal sambil sesekali menyeka air mataku
yang tak henti mengalir. Aku tak ingin berpindah, tak ingin jauh darinya. Aku
ingin menjadi orang pertama yang beliau lihat ketika telah sadarkan diri. Aku
ingin menatap bola matanya, ingin melihat kembali senyumnya, atau sekadar
gerakan butiran tasbih dari jemari yang mengiringi dzikirnya. Itu saja harapanku saat ini, atas
kondisi ibu yang masih tidak sadarkan diri.
Perawat
masih bergantian mengecek, namun saat ini lebih intensif. Hingga pukul 21:30 WIB dokter putuskan, ibu dirujuk ke ruang ICU untuk
mendapatkan menanganan yang lebih intensif.
Pikiranku
tak karuan mengiringi pemindahan ibu ke ruangan tersebut. Ruang yang dikenal menjadi rujukan bagi pasien-pasien
dengan kondisi yang telah akut, atau malah dipaksa hidup dengan ditopang
alat-alat medis rumah sakit.
Diposisi paling ujung, sebelah kanan tembok dan
sebelah kiri ibu seorang pria yang sudah terbaling lemah dengan serangkaian
alat yang menopangnya. Menyaksikan kondisi tersebut, Aku masih berharap Allah memberi keajaiban-Nya untuk ibu. Pada telinga ibu yang telah dalam kondisi koma aku berbisik, “Bu, ibu wanita yang kuat. Ayo, ibu
pasti bisa. Ibu nggak boleh lemah. Aku disini...” berharap ibu mendengar,
meskipun tidak ada respon balik.
Bergantian
orang memasuki ICU melihat kondisi ibu, lalu keluar dalam ekspresi wajah sebam
sebab tangisan. “Bagaimana mungkin orang seperti ibu seketika bisa selemah ini?
Allah, apa yang sebenarnya terjadi padanya? Jika orang tua menanggung dosa
anak-anaknya, dan kondisi ibu saat ini adalah karena dosa-dosaku maka aku
mohon, aku mohon ya Allah ampunilah ibu. Jangan timpakan dosa-dosaku pada ibu. Aku
akan memperbaiki diri, aku akan menjadi anak baik. Tapi tolong sembuhkanlah ibu
ya Allah, aku tidak tega menyaksikan kondisi ibu seperti saat ini.”
NB:Bagi
pasien yang telah dalam kondisi sangat parah di ICU, keluarga diperbolehkan
keluar masuk bergantian untuk menemani, meskipun dalam ruangan tersebut
sepenuhnya telah dikontrol otomatis oleh computer dan di bawah pengawasan
dokter.
Malam telah berganti pagi. Semalaman aku tak tertidur,
bahkan untuk makan sahurpun tidak ada selera sama sekali. Aku hanya diam, duduk
di kursi, ke toilet, atau menonton televisi di ruang tunggu untuk keluarga
pasien yang dirawat di ICU.
Ketika waktu
menunggu berbuka puasa tiba, entah mengapa
aku sempat berdoa seusai sholat asar dengan doa, “Ya Allah, jika kondisi ini
menyiksa ibu. Dan kesembuhan beliau adalah ketika bersama-Mu, maka aku ikhlas,
aku ikhlas. In shaa Allah. Tapi maaf ya Allah, aku masih memohon akan keajaiban
dari-Mu.”
Setelah
sholat maghrib kakak berkata, “Ikhlaskan ibu ya, kasihan ibu sudah kesakitan.
Ibu sudah capek.” Seketika itu air mataku tumpah. Apa ini
sinyal bahwa aku harus siap kehilangannya? Apakah keluarga sudah pasrah dan tak
ingin mengusahakan lebih lagi sampai ibu sembuh? Apakah kalian sudah menganggap
ibu merepotkan untuk diurusi hingga selama itu? Kenapa aku yang harus diminta
bilang seperti itu kepada ibu? Sedangkan saat pertama kali ibu masuk ICU, aku
bilang pada ibu untuk kuat. Tapi sekarang, kakak memintaku untuk membisikkan
bahwa aku siap untuk ikhlas?
Semua
telah bergiliran masuk menemui ibu, bapak dan kedua kakakku sudah
berbisik pada ibu untuk beristirahat sembari menuntun ibu mengucap kalimat
syahadat. Dengan langkah yang amat berat, aku masuk ke
ruang ICU bukan
lagi untuk menguatkan ibu. Tetapi untuk berbisik
ke telinga ibu sambil berkata, “Bu... sudah nggak usah
dipaksa, aku tau ibu orang yang kuat. Allah pun tau, in shaa Allah aku ikhlas. Ibu
akan sembuh bersama Allah. Ashaduallailahailallah wa
ashaduanamuhammadarrasulullah...” sambil ku tuntun ibu beberapa kali.
Malam
ke-27 ramadhan. Setelah sholat isya’, entah
mengapa aku langsung tertidur ditemani isteri kakakku. Pukul 22:30 WIB, iparku yang
tidur disampingku dibangunkan kakakku, seketika aku
ikut terbangun dan keluar dari ruang tunggu mengikuti kakak dan isterinya. Dalam jalan sekelebat pikiranku, “Apa kakak ingin memberitau bahwa ibu
telah sadarkan diri?”
Sampai di luar ruangan. Tak sempat berucap apapun, kakak tiba-tiba memelukku dan berkata dengan suara bergetar, “Ikhlaskan ya, ibu sudah nggak ada.” Tangisku tumpah, tubuhku lemas seketika, entah sadar atau tidak aku masih tidak percaya kondisi ini. “Ini hanya mimpi buruk,” kataku tidak percaya. Aku memberontak dari pelukan kakak, berlari masuk ke ruang ICU menuju posisi ranjang ibu. Mataku menyaksikan di sudut ruangan beberapa perawat melepaskan alat-alat yang menepel padanya, selimut putih sudah membalut hampir seluruh tubuh ibu. Nafasku sesak, tangisku meluap, aku tidak bisa lagi menyangga tubuhku sendiri lantas kakak langsung memelukku dan membawaku keluar ruangan dengan kenyataan pahit kehilangan ibu selamanya.
Di
luar ruang ICU tangisku masih tidak terkendali, “Ibu... nggak mungkin kan
kak...” kata-kata itu terucap berulang kali. Aku lemas, pikiranku kacau. Berulang kali kakak
menasehatiku, dan berusaha menenangkanku dengan tuntunan lafadz istighfar.
Namun tetap saja, nuraniku masih belum bisa menerima kenyataan yang terjadi.
Seseorang yang baru beberapa hari lalu bilang akan pulang dan mengajariku
memasak lagi, yang baru kemarin bilang akan pulang dan kembali sholat
berjama’ah di mushola belakang, yang baru kemarin bilang akan pulang
menggendong cucunya, dan yang kemarin bilang bahwa beliau akan sembuh besok.
Kini, semua itu tinggallah kenangan.
Malam itu juga, kami pulang untuk mengkebumikan jasad
ibu di peristirahatan terakhirnya. Bapak dan kakak mendampingi ibu di mobil
ambulans, sedangkan aku ditemani isteri kakak di mobil terpisah.
Untukmu….
Ya Allah... tak kusangka waktuku bersamanya telah habis di tahun ke-17. Terima kasih atas nikmat hidup yang Engkau berikan, akan sosok wanita hebat yang mendedikasikan sepanjanghayatnya untuk mendidikku, merawatku, dan membahagiakanku. Tolong siapkan tempat terbaik untuk istirahatnya, ya Rabb...
Dan terima kasih, ia sekarang benar-benar
sembuh, rasa nyeri dan guratan kening menahan sakit tidak akan lagi ada,
keinginannya untuk segera kembali ke rumah akan betul-betul terwujud. Ya Allah, percayalah dia orang baik, dia sangat baik. Maka ku mohon ampunilah ia, lapangkan kuburnya,
dan Engkau jauhkan ia dari siksa kubur serta api neraka. Tuntun kami untuk bertemu di surga-Mu bersama golongan orang-orang beriman. Aamiin...
Komentar
Posting Komentar