Kardus Berkat
Dari teras rumahnya, seorang anak berusia 6 tahun bernama Sarah memandang serombongan bapak-bapak yang berjalan beriringan dengan menenteng berkat (istilah Jawa untuk bingkisan yang didapat dari acara tahlilan). Bapak-bapak tersebut baru saja selesai menghadiri acara tahlilan pra-pernikahan yang biasa dilakukan oleh salah seorang warga di desanya. “Sarah, masuk nak!” kata ibunya.
“Nanti bu, sebentar lagi,” kata Sarah. Ia masih terduduk beberapa lama di teras tanah rumahnya sampai semua bapak-bapak yang dapat terjangkau indranya tadi lenyap dari pandangan Sarah. Tangannya masih menggenggam kitab, kepalanya masih berbalut jilbab, dan pandangannya masih menatap kearah yang sama. Namun, raut wajahnya berubah setelah cukup lama ia menunggu tak satupun orang menghampiri rumahnya untuk memberikan berkat. Angan-angan yang bercampur imajinasi anak kecil yang dibangunnya selama ia menunggu tadi perlahan-lahan tenggelam, “Aku akan bermain dengan kotak indah itu, aku akan isi dengan beragam bunga warna-warni dan akan ku simpan dengan rapi.” Begitulah kiranya susunan batin Sarah yang ia gantungkan pada berkat penantiannya.
Dari sisi pintu terdengar kembali suara ibunya memanggil, “Sarah, sudah malam nak. Ayo masuk!” suara lembut ibu mengakhiri penantian Sarah. Ia memutuskan masuk ke dalam rumah dengan perasaan kecewa karena tidak mendapatkan berkat itu, “Apakah aku harus ikut tahlilan agar aku dapat berkat? Bukankah tahlilan hanya untuk laki-laki? Apa hanya karena di rumahku tidak ada laki-laki, lalu aku tidak mendapat berkat? Atau aku harus menyamar jadi laki-laki agar bisa dapat berkat? Kenapa mereka tidak memberiku berkat, padahal rumahku tepat di belakangnya.” Gerutu Sarah dalam batinnya.
Malam sudah mulai larut, pukul 21.00 WIB mereka memasuki kamar untuk beristirahat. Di sebuah kamar berukuran 3x3 meter mereka merebahkan diri bersama. Ibunya yang tampak lelah langsung memejamkan mata setelah tubuhnya bersentuhan dengan ranjang dan bantal. “Ibu…” ucap Sarah. Ia berusaha menyampakan hal yang mengganjal dalam hatinya. “Hm” sahut ibunya. “Bu, kita nggak dapat berkat?” tanya Sarah. “Tidak,” jawab ibu. “Kenapa kita nggak dapat? Rumah kita kan dekat dengan mereka yang punya khajat,”. Ibu membuka mata lalu menghadapkan tubuhnya kepada Sarah, “Allah belum tetapkan itu menjadi rizki kita,” kata ibu. “Kenapa begitu? Sarah sudah berdoa sama Allah,” kata Sarah. Ibu mampu membaca suasana hati putrinya, “Kamu kenapa?” / “Sarah nggak kenapa-kenapa.” Jawab putrinya. Ibu berusaha menggali jawaban lebih dengan bertanya lagi. Sebab ibu tahu tidak mungkin Sarah menginkan isi dari berkat itu, karena ia berbeda dari anak seusiannya yang lain. Sarah tidak begitu tertarik dengan makanan-makanan ringan, ia hanya menyukai susu. Susu sudah menjadi kebutuhannya sebagaimana manusia membutuhkan nasi yang menjadi makanan pokok.
“Kamu ingin makan ayam?” tanya ibu. Sarah menggelengkan kepala, lalu menangis dengan mengatakan, “Sarah ingin kardus berkat.” Hati ibu tersentak mendengar ucapan putrinya. Ia akhirnya mengetahui alasan putrinya tadi duduk di teras cukup lama ternyata hanya untuk menanti sebuah kardus berkat. “Bu, Sarah ingin kardus berkat,” kata Sarah mengulang rengekannya. Dalam dekapan sang ibu, Sarah terus menangis dan ibu mengusap-usap kepala putrinya hingga tertidur.
Keesokan harinya, Sarah telah melupakan kejadian tadi malam, pikirannya telah digantikan oleh urusan anak kecil yang lain. Namun tidak dengan ibunya. Sang Ibu merasa gagal karena telah memicu tangis anaknya. Ia berusaha mencarikan kardus berkat bekas kepada beberapa tetangga di dekat rumahnya. Namun usaha ibu nihil, tidak ada satupun kardus berkat bekas yang ibu dapatkan. Usaha yang saat ini ia bisa lakukan hanyalah membuat putrinya tidak lagi mengharapkan kardus berkat sebagaimana yang digunakan bermain teman-temannya hari itu. “Suatu saat, kau yang akan berperan mewujudkan harapan anak-anak lain. Jika saat ini kau tak bisa mendapatkan kardus berkat, suatu saat kau yang akan menghapus setiap duka dari orang-orang yang mengharapkan sesuap nasi dan aneka makanan yang dibungkus rapih dalam kardus berkat yang lebih baik. Aamiin” harapan sang ibu.
Kejadian saat itu menjadi pemacu ibu Sarah untuk mendidik putrinya tentang pentingnya bekerja keras dan menjadi dermawan. Sang ibu tidak ingin Sarah tumbuh menjadi anak yang memiliki karakter sama seperti orang-orang yang meremehkan mereka ketika kesulitan. Ia tidak ingin membalas perlakuan buruk orang lain di masa lalunya dengan perlakuan buruk yang sama, meskipun saat ini ia mampu melakukannya. Ya, atas kuasa Allah. Takdir mengubah kehidupan keluarga Sarah. Ia bersama ibunya kini hidup dengan berkecukupan. Meskipun demikian, keluarga mereka tidak pernah mengumbar harta yang dimiliki kepada orang lain. Mereka lebih suka berbagi secara diam-diam dan berpenampilan sederhana seperti masyarakat pada umumnya. Hal itu terus membudaya dalam keluarga, telah menjadi kesukaan Sarah dan Ibunya untuk dapat berbagi dengan orang lain. “Kita tidak pernah tahu kapan Allah akan ambil balik titipannya terhadap kita. Jadi, apa yang Allah kasih lebih saat ini sempatkanlah banyak-banyak berbagi dengan orang lain. Ingat, hiduplah dalam jalan kebaikan. Berbuatlah kebaikan pada siapapun dan jangan menghitungnya, itu bukan tugasmu. Tugasmu dalam hidup hanya berbuat baik, selebihnya itu urusan Allah.”
Komentar
Posting Komentar