Monolog 1
[Monolog] Kira dan Ibu
Ada suasana berbeda yang dirasakan malam itu. Sang ibu menemukan fase kehidupan baru buah hatinya yang beranjak dewasa. Di sebuah teras dengan cahaya lampu temeram, mereka berbincang santai berteman teh dan kue yang tersaji hangat.
“Bu,”
“Iya,” sahut ibunya usai menyeruput teh hangat.
“Ada yang mengganjal dihati Kira,” / “Apa?” tanya ibunya.
Kira terdiam sejenak tiga detik kemudian berkata, “Apa alasan Tuhan ciptakan hati untuk wanita?”
“Tuhan anugrahkan kelembutan dan kasih sayang dalam hati setiap wanita. Hanya dengan tutur katanya yang lembut, senyum ikhlas yang mampu menghilangkan kejenuhan, hingga sentuhan tangan penuh kasih sayang untuk sejenak menghilangkan beban masalah yang dihadapi. Tuhan juga anugrahkan wanita perasaan luar biasa dengan keahliannya mengontrol suasana hati. Kita harus banyak bersyukur atas keistimewaan itu.”
“Tuhan begitu mengistimewakan wanita, tapi kenapa Tuhan lebih sering membuat wanita menangis?”
Ibunya tertegun mendengar perkataan Kira. Ia terdiam sejenak, lantas menjawab dengan penuh kehati-hatian, “Tuhan itu Maha Adil. Sensitifitas wanita ada pada perasaannya. Itu salah satu bentuk perlindungan Tuhan. Wanita sensitif terhadap hal-hal yang kasar dan berlawanan dari fitrahnya yang memiliki sifat kelembutan, maka Tuhan membuat wanita menangis agar perasaan tak sesuai itu melebur.”
Belum cukup puas dengan jawaban ibunya, ia bertanya kembali, “Menangis. Apakah kekuatan wanita ada pada air matanya?”
Tersentak pertanyaan putri yang semakin membuat ibunya penasaran akan apa yang terjadi kepada Kira, “Air mata adalah cara terbaik wanita untuk menggambarkan perasaannya. Tak semua tangisan wanita berartikan kesedihan. Nyatanya, banyak seorang ibu yang menangis haru menyaksikan keberhasilan anak-anaknya. Dan tangis haru dalam hal itu adalah sebuah ungkapan kebahagiaan.”
“Lalu.. dengan keistimewaan-keistimewaan itu, di mana letak kekuatan hati wanita?”
Lagi-lagi, pertanyaan putrinya membuat Ibu Kira terkejut. Ibunya mencoba memancing perasaan putrinya dengan menjawab singkat, “Ada dalam diam..”
“Kenapa diam?? Apakah wanita harus diam jika ada pria yang mempermainkan perasaannya? Bahkan hingga mematahkan hatinya berulang kali. Kenapa Tuhan mengurung wanita dengan aturan sedemikian rupa, hingga terlihat begitu lemah dihadapan pria?” Kata Kira dengan nada penuh tekanan hingga air matanya menetes.
“Sayang…” kata ibunya dilanjutkan dengan memeluk Kira. “… Menangislah, nak! Air mata yang keluar akan sedikit menenangkan hatimu. Apapun yang saat ini sedang menuntutmu untuk belajar tentang makna kehidupan, semoga Tuhan senantiasa melindungi dan menuntunmu menjadi manusia yang baik.”
“… Putriku, dengarkanlah ibu! Hatimu sedang tidak baik-baik saja, tapi tidak ada yang salah dengan cinta. Ia hanya sebuah nama untuk mengartikan sebuah perasaan. Tak pantas dihujat. Jika dalam mencintai kau terlukai, diamlah! Diam untuk tidak membenci siapapun dan diam untuk merenungkan dirimu di hadapan Tuhan. Lapangkah hatimu dengan ikhlas, maka Tuhan akan siapkan yang lebih indah. Tuhan selalu bersama kita, Tuhan tak akan biarkan siapapun mengotori hati hambaNya yang tulus mencintai. Tuhan sendiri yang akan bertindak. Jeritan doa wanita yang hatinya terluka tak akan Tuhan biarkan begitu saja. Pasti ada waktu, dimana setiap luka kan berganti tawa, dimana setiap doa kan dijabbah, di mana Tuhan bertindak di luar ketentuan. Hingga kau sendiri yang akan menyaksikan kuasa Tuhan atas cinta tak tertandingi. Sertakan Tuhan dalam hatimu, percayalah Ia selalu bersamamu.” Ibu Kira memeluk putrinya, berharap Kira menjadi tenang setelah mendengar nasehatnya.
Komentar
Posting Komentar