Monolog 2

  [Monolog] SURAT UNTUK IBU

Di sebuah teras.

Seorang anak menantikan perjumpaannya dengan sang ibu. Pikiran anak tersebut dipenuhi kerumitan yang tak siapapun tahu, kecuali ia dan Tuhan yang Maha Mendengar tiap deru tangis yang menyertainya dalam keheningan sepertiga malam.

Pada malam pukul 21.20, sebuah surat ia tuliskan untuk ibunya.

Dari     : buah hatimu

Untuk  : ibu

Selamat malam bu, terimalah salam rindu dariku yang kau sayang. Bu, apa Tuhan sudah sampaikan padamu? “Aku baik-baik saja.” Itu pesanku. Jika Tuhan memberitahumu perihal keadaanku sekarang selain pesanku itu, percayalah bu “Aku baik-baik saja”.

Kehidupan ini tengah menempa diriku untuk mandiri, yang ku pikir adalah salah satu permintaanmu pada Tuhan –kau ingin buah hatimu mandiri– Tuhan sedang wujudkan. Semangati aku ya bu, proses ini cukup menguras tenaga dan pikiranku. Tapi tak apa selama Tuhan masih bersamaku, “Aku baik-baik saja.”

Bu, semenjak menanti perjumpaan denganmu. Tuhan adalah teman terbaikku. Ketika aku merasa telah menghancurkan banyak kebahagiaan, memupuskan banyak harapan, dan menciptakan banyak derita pada orang-orang terdekat, Tuhan tak memandangku demikian, Dia masih membuka kesempatan bagiku untuk bercerita saat sepertiga malam-Nya tiba. Apa Tuhan sempat mengadukan isi ceritaku padamu? Ah tak apa, percayalah bu “Aku baik-baik saja”. Bahkan ketika aku kelewat batas, Tuhan menyadarkanku. Lalu, jika aku menyertakan perbuatan baik dalam permohonan maafku, Dia tak segan memberiku hadiah yang membuatku perlu memperbanyak syukur. 

Bu… memang ada beberapa kerumitan yang hadir, tapi percayalah bu “Aku baik-baik saja”, karena  Tuhan masih bersamaku…

 

Apa ibu mengira aku sedang menyembunyikan sesuatu?

Apa ibu mengira aku sedang tak baik-baik saja?

Apa ibu mengira aku perlu memeriksakan diri?

Bu… aku hanya rindu

Selebihnya…

Percayalah, aku baik-baik saja.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam Ke-27 Ramadhan

Yang Terbaik Dari-Nya