The Story of God's Love

 Hasil gambar untuk foto orang mencintai secara islam


MUSIM 1

Pada setiap kata itulah, keindahan mampu tergambar tanpa perlu raga saling berhadap. Rahasia yang Tuhan sembunyikan, tentang sepasang cerita berbeda yang dibuat-Nya untuk membuat mereka saling mengenal.


Secarik surat beramplop merah ku temukan kembali di ransel sekolah milikku seusai olahraga. Berisi kata-kata  pujian tentang diriku dan makna cinta. Seakan sang penulis misterius itu tahu bahwa aku bukanlah wanita yang mudah jatuh cinta.
Ya.. begitulah, cinta bagiku adalah suatu anugrah Tuhan yang harus dijaga. Tak sembarang orang dengan mudah memberi dan menghujat cinta. Aku berusaha untuk menjaga cinta yang ada dalam diriku tetap halal. Dengan cinta kepada Tuhan adalah kunci diriku, agar aku kelak tak salah memaknakan cinta sesama hamba-Nya. Sebab, cinta yang tumbuh di dalam hati datangnya dari Allah. Cinta disebut dengan fitrah, sbelum mencintai ciptaannya, maka cintai dulu Sang Maha Pencipta.
Surat bertinta hitam ini tertulis bahwa, “Cinta dalam diam itu indah. Setiap manusia dianugrahi cinta oleh Allah. Dan mereka memiliki cara berbeda untuk mengungkapkannya. Perbedaan itulah yang menyatukan mereka, In shaa Allah(”.
Entah telah berapa lebar surat aku terima dari si pengirim misterius. Temanku bilang, “Itu mungkin fans beratmu yang pemalu.”. Tapi, tetaplah. Teka-teki si penulis misterius itu selalu menghantuiku. Aku ingin tahu, seperti apa dirinya? Siapa namanya? Dan, dengan maksud apa dia mengirim surat-surat itu kepadaku secara sembunyi-sembunyi? Bukan dalam kurun waktu sebentar, namun telah lama ku terima surat itu terhitung sejak semester dua aku duduk di kelas sepuluh. Sampai sekarang, hanya Tuhan yang tahu siapa pelakunya.
Setelah ku baca surat tersebut, ku letakakan dalam kotak yang ku buat khusus untuk menampung surat-surat misterius itu. Seandainya aku tahu siapa pengirimnya, aku ingin membalas, “Terima kasih. Dan maaf, tolong berhenti menerorku!”. Tapi apa daya, aku tak tahu siapa penulis dan pengirimnya. Sudah aku coba mengirim surat balasan kepadanya. Ku letakkan surat tersebut di tempat yang sama ia mengirim suratnya kepadaku, namun hasilnya zonk. Surat itu masih rapi tak terbaca.
Aku sudah lelah menyelidiki pengirimnya, namun tak ku temukan. Akhirnya, ku biarkan surat itu terus-menerus menerorku. Sampai lulus SMA, surat itu masih saja aku terima. Kali ini, diberbagai tempat yang biasa aku kunjungi bersama temanku, ku temui kembali surat itu. Seakan si penulis itu punya mata-mata yang mengikuti diriku kemanapun aku pergi. Aku sampai mengeluh kepada temenku Hasana, “Astagfirullah, Ana. Ini itu surat dari siapa, sih? Aku ingin sekali marah dengan si penulis surat ini. Coba bayangkan! Dari duduk di bangku SMA sampai kuliah masih saja menerima surat yang tidak jelas asal-usulnya. Aku harus bagaimana?”
Dengan santainya Ana menjawab, “Ya terima dengan ikhlas saja, lah! Mungkin suatu saat kamu akan berjodoh dengannya.”
“Apa hubungannya? Untuk sekadar tahu pengirimnya laki-laki atau perempuan saja sampai sekarang aku tidak tahu. Kau malah dengan santainya mendoakan ia menjadi jodohku.”
Ana mulai menanggapi perbincangan dengan serius. Ia menghentikan kegiatannya mengoprasikan HP dan menghadap padaku dengan tatapan serius, “Allah punya banyak cara untuk mempersatukan tulang rusuk dengan pemiliknya. Tidak peduli pria atau wanita orang yang telah mengirimkan surat kepadamu. Aku hanya ingin menasehatimu, cobalah bersikap sedikit ramah kepada pria! Sikap cuek yang kamu rumat sekian lama itu keterlaluan. Toh di dunia ini Allah tak hanya menciptakan kaum wanita saja, namun ia menciptakan kaum pria juga. Dan dengan cara Allah, pria dan wanita itu bersatu. Namun, jika kamu seperti ini terus. Akan jadi apa masa depan keluargamu nanti. Aku jadi khawatir.”
“Kenapa kamu yang khawatir? Kan aku yang menjalani hidupku.”
“Itu tandanya aku peduli sama kamu.”
“Tapi Ana, aku cuek karena ada alasannya.”
“Trauma? Atau kapok karena pernah tersakiti?”
“Bukan. Aku hanya tidak ingin bernasib sama seperti wanita lain, yang hatinya selalu dipermainkan oleh para lelaki yang tidak bertanggung jawab. Aku hanya menjaga diriku, hatiku yang Tuhan titipkan bukanlah tempat percinggahan sesaat, bukan pula bahan taruhan atas berbagai rayuan yang terlontar dari mulut para lelaki. Aku tak ingin terjebak, walau hanya sekali. Na’udzubillahimindzalik.”
“Aku paham maksudmu. Tapi sebagai muslimah, Allah telah tetapkan bagaimana baiknya wanita menjaga diri. Pertama, dengan menutup aurat. Dalam al-quran surah al-ahzab ayat lima puluh sembilan, ‘Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin. “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya merela lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’. Kedua, dengan menundukkan pandangannya. Dalam quran surah an-nur ayat tiga puluh satu, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluaannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya...’. Allah memerintahkan untuk menundukkan pandangan, menjaganya, bukan melarang wanita atau menahan wanita untuk berteman dengan lelaki. Apalagi sampai mencuekkannya, kita ini sesama muslim. Bahkan senyum dalam islam terhitung ibadah, berbuah pahala,”
Seperti tersambar petir ditengah guyuran hujan lebat, Aku yang berjalan tenang di bawah payung tersentak mendengar gemuruh petir menyadarkan lamunanku. Payungku terjatuh, dan aku basah kuyub. Dari kejadian itulah aku tersadar, bahwa seharusnya aku mencoba keluar dari zona nyamanku. Aku hanya tertunduk diam, sambil merenungkan kata-kata Hasana. Ia melanjutkan berbicara, “... bukan aku tidak mendukung apa yang kamu lakukan, aku hanya ingin kamu baik-baik saja. Al-quran surah adz-dzariyat ayat empat puluh sembilan, ‘Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.’. Allah punya maksud mencitakan lelaki dan perempuan di muka bumi ini. Kamu cantik Alya, kamu cerdas, kamu juga baik, semoga Allah mempertemukanmu dengan lelaki yang setara denganmu. Laahaulawalaquwwatailla billah, semua akan baik atas seijin Allah. Percayalah, mereka tidak seburuk yang kamu pikirkan. In shaa Allah.”
“Iya, An...” tertunduk tanpa berucap sepatah katapun setelahnya.
Aku terus merenungkan perkataan Hasana, perihal menjaga diri, dan jodoh. Juga perihal kata, “Mereka tidak seburuk yang kamu pikirkan.”. Mungkin itu yang akan menjadi motivasi diriku untuk tidak lagi mendiskriminasi pria. Akhirnya, Aku mulai membiasakan diri untuk sedikit ramah terhadap pria. Membuka diri dengan ikut bergambung dalam forum diskusi mahasiswa yang menyertakan pria didalamnya. Canggung? Pasti. Namun beruntungnya, ada teman wanitaku yang mendampingi dan mendukung perubahanku. Akbar, Tio, Herman, dan Saham menjadi teman pria baruku. Kami berkenalan atas perantara Hasana, Salwa, dan Rere yang telah lebih dahulu berteman dengan mereka.
Memang benar kata Hasana, mereka tidak seburuk yang aku pikirkan. Tidak semua pria sesuai perkiraanku, justru yang aku kenal sekarang adalah pria-pria baik yang menghargai keberadaan wanita. Mereka mengamalkan cara berteman yang sesuai tuntunan agama, kami saling akrab layaknya seseorang yang telah lama saling mengenal.
Hingga suatu hari, untuk pertama kalinya aku mengagumi seorang pria. Aku merasakan keanehan tersendiri dalam diriku. Saat harus tertunduk menahan malu berpapasan dengannya, saat fokusku membaca terpecah karena mengingatnya. Hingga mataku yang terkadang liar mencari-cari sosoknya yang terbiasa singgah di mushola kampus.
Sikapku yang demikian ternyata telah lama menjadi objek perhatian teman-temanku. Dipaksalah aku mengakui dan bercerita oleh mereka, mau tak mau akhirnya aku mengaku tentang kekagumanku terhadap pria tersebut. Imbasnya, dalam waktu tiga hari aku menjadi bahan bully-an mereka. Tak habis pikir, kalau tahu jadinya akan seperti ini, akan lebih baik jika aku tidak memberitahukan hal ini kepada mereka.
Puncak bully-an terhadapku terjadi ketika pria tersebut mengembalikan bukuku yang tertinggal di teras mushola. “Ini bukumu, tadi tertinggal di mushola.” katanya kepadaku saat di parkiran mobil kampus sembari menyerahkan sebuah buku. Aku menerima buku itu dan mengucapkan terima kasih kepadanya, “Terima kasih ya, maaf telah merepotkan.”
“Tidak apa, kok. Lain kali hati-hati!”
“Iya. Sekali lagi, terima kasih.”
“Sama-sama. Saya permisi dulu, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam warahmatullah.” jawabku.
Setelah pria itu menjauh dari kami. Mulailah mereka bersekongkol membully-ku dengan memojokkan ku jatuh cinta kepada pria tersebut. Empat lawan satu, bukan tandingan yang imbang jika harus ku hadapi seorang diri. Aku hanya akan lelah menghadapi ocehan-ocehan mereka. Akhirnya, aku memutuskan untuk lebih dahulu pulang meninggalkan mereka.
Ku kendari mobil seorang diri, meninggalakan bully-an mereka. Syukur, hari ini aku tidak semobil dengan mereka. Karena jika kami semobil, bisa-bisa sampai rumah aku gila gara-gara asupan bullyan dari mereka selama perjalanan. Hehehe...

###



MUSIM 2
Hari ini kegiatan ekstra kampus cukup membuatku lelah, beberapa tugas dari dosen ku anggurkan di atas meja kerjaku. Kegiatan organisasi yang mengasikkan ternyata mampu membuat pikiranku teralihkan. Sepertinya, cukup sampai disini rasa malasku berkuasa. Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum waktunya tiba. Meskipun rasa lelah masih melanda, aku tidak boleh mengesampingkan kewajiban ini.
Secangkir susu hangat menjadi teman begadangku malam itu. Satu per satu tugas mulai ku kerjakan. Beberapa referensi buku ku ambil dari rak bukuku, serta beberapa buku di ransel yang ku kenakan siang tadi.
Ketika tanganku memegang buku yang tadi siang diberikan Hakim, aku teringat kembali kejadian itu. Pertemuan singkat yang tak disengaja masih jelas terlihat dalam pikiranku, bahkan ucapan dan warna pakaian yang dia kenakan pun aku masih mengingatnya. Apa aku sungguh dibuat kagum olehnya?
Beberapa menit pekerjaanku tertundu hanya untuk memikirkan itu. Fokusku terpecah beberapa saat tergantikan angan-angan oleh Hakim. Astagfirullah, setan memang selalu mencari celah untuk melemahkan keimanan seseorang.
Ku alihkan kembali fokusku untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Ku seruput sedikit susu dalam gelas yang masih hangat itu, lalu mengambil sebuah buku untuk dijadikan referensi. Tanpa tengaja sebuah kertas tiba-tiba keluar dari buku yang hendak ku baca, bukuku yang tadi siang dikembalikan oleh Hakim, “Apa ini?” tanyaku penasaran. Ku ambil, lalu ku buka kertas itu dan ku baca isinya.

Assalamualaikum.. Duhai Akhwat yang ku kagumi,

Takkah kau lihat, dimalam yang tenang ada sebuah rembulan yang bersinar begitu terang. Yang ingin diperhatikan setiap pasang mata. Dan, di bawah sinarnya, ada satu orang yang menantikan sesosok bidadari untuk menemaninya menikmati anugrah Sang Kuasa. Itulah diriku.  Aku terdiam dalam sebuah penantian. Aku diam menyakini sebuah pilihan.. pilihan yang menyakut hati juga kehidupan. Karena aku yakin, aku tak salah memilih diam sebagai cara untuk mencintaimu, diam untuk menjagamu, diam dalam memperjuangkan cintamu. Dan saat aku merindukan mu, aku pun juga diam. Diam dengan hati yang berdoa kepada Allah, “Ya Allah.. aku merindhukannya. Dia yang ku perjuangkan cintanya. Atas nama Mu, sampaikan rindhu ini padanya,” Duhai Akhwat yang ku kagumi, Maaf, selama ini aku telah berbohong dengan berlagak biasa dihadapanmu. Itu karena, aku ingin menjaga cinta ini tetap murni hingga Allah menyatukan kita. Ku mohon, anggaplah.. anggaplah saat ini adalah sebuah pertemuan yang tertunda. Dan, percayalah! Allah telah persiapkan waktu yang tepat, yaitu saat aku mendatangi rumahmu bersama keluargaku. Duhai Akhwat yang ku kagumi, izinkan aku mengkhitbahmu..?Wassalamualikum warahmatullahi wabarakatuhHakim Abdullah


Aku terkejut, tertegun, bercampur haru membaca surat ini. Sungguh indah kata-kata disetiap kalimatnya, tertata rapi seiring kata hati. Namun, diluar itu semua. Aku sungguh tak habis fikir, saat Allah menjadikannya idola kaum hawa di kampus justru ia lebih memilih diam mengagumi seorang wanita. Padahal, ia mempunyai peluang keberhasilan jika ingin menaklukan hati wanita, bahkan ia bisa memilih salah satu diantara wanita kampus yang mengaguminya. Sungguh sangat beruntung sekali Akhwat tersebut. Secara diam-diam dikagumi oleh Ikhwan yang sempurna dimata kaum hawa zaman sekarang.
Aku berfikir, jika surat ini dibaca seluruh wanita di kampus yang mengagumi Hakim. Entah ekspresi apa yang akan mereka tunjukkan. Termasuk Akhwat yang dimaksud dalam surat ini, akan seperti apa ekspresinya? Lalu kenapa surat itu bisa terselip dalam bukuku? Seceroboh itukah seorang Hakim Abdullah? Atau justru memang surat itu untukku? Ada-ada saja diriku, hanya gara-gara sebuah surat khayalanku melayang-layang tak karuan. Semoga saja aku tak kecanduan, kecanduan berkhayal memiliki Hakim yang belum jelas itukah jodoh yang Allah peruntukkan padaku. Astaghfirullah.
Ku letakkan surat itu dalam laci. Aku berusaha mengembalikan fokusku, “Belajar! Belajar! Belajar! Stop Hakim! Stop!” beberapa kali perkataan itu menggerutu dari mulutku. Dan akhirnya, fokusku kembali ku dapat. Aku mengerjakan tugas-tugas kuliah hingga pukul satu malam.
###





MUSIM 3

“Hai mentari, terima kasih telah menyapaku setiap pagi di musim kemarau ini. Cahayamu yang menembus di sela-sela jendela senantiasa mendamaikan seisi rumah. Semoga Tuhan senantiasa menganugrahkan kenikmatan, dan kami sekeluarga dimudahkan untuk selalu berucap syukur pada-Nya.”

Begadang semalaman membuat tubuhku cukup lelah menjalani aktivitas di hari itu. Mataku yang terlihat lebam ku kelabuhi dengan kacamata agat tidak menjadi bahan perhatian teman-temanku.
Setelah berpamitan, aku menuju kampus bersama umi yang kebetulan berjalan searah denganku. “Semalam kamu tidur jam berapa?” tanya umi padaku sembari menyetir mobil.
“Jam satu.”
“Jangan lagi diulangi tidur larut malam! tidak baik buat kesehatan.”
“Iya, mi.”
“Bagaimana perkembangan beasiswamu? Mau daftar kemana?”
“Alya rencana mau ke Australia, kalau ndak ya ke UGM saja sudah cukup. Bagaimana menurut umi?”
“Ya.. umi sih terserah kamu, umi akan mendukung apapun pilihan terbaikmu.”
“Mi, doakan Alya ya. Semoga kuliah Alya lancar dan dapat diwisuda dengan IPK terbaik.”
“Aamiin... dalam setiap doa orang tua, apalagi yang tidak lebih penting dari mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Bersyukurlah Nduk, kita diberi cukup rizki oleh Allah untuk mengisi kehidupan ini. Manfaatkanlah waktumu, pikikiranmu, dan tubuhmu untuk kebaikan. Karena semua yang kita gunakan kelak akan dimintai pertanggung jawaban.”
“Iya, mi.”
Sesampainya di kampus, aku turun di gerbang depan kampus. Lalu berjalan masuk menuju gedung perkuliahan bertemu teman-temanku yang sudah lebih dulu kumpul di tempat biasa kita ngobrol.
“Assalamualaikum...” sapaku kepada mereka.
“Waalaikumsalam...” jawab mereka.
“Sedang diskusi apa?” tanyaku.
“Tidak berdiskusi Alya, kita tadi habis video call-an sama Aisha. Dia sudah merampungkan ibadahnya, dan sudah mau balik ke Indonesia.”
“Alhamdulillah.”
Tiba-tiba HP ku berdering, ternyata Aisha yang menelphon. “Assalamualaikum...” salamku.
“Waalaikumusalam warahmatullah, Alya. Aku kangen...”
“Aku juga kangen. Apa kabar?”
“Alhamdulillah sehat. Tadi aku barusan video call teman yang lain, tapi kok ndak ada kamu?”
“Aku belum datang. Jam kuliahku rada siangan tadi. Bagaimana ibadahmu?”
“Alhamdulillah lancar, ini aku baru prepare buat nanti sore pulang ke Indonesia.”
“Alhamdulillah. Semoga ibadahmu diterima Allah, dan berkah buat dirimu.”
 “Aamiin...”
“Sampai Indonesia jam berapa? Nanti biar aku sambut.”
“Kurang tau Al, katanya mau mampir ke Turki dulu. Paman Hasan juga mau surve tempat yang bakalan jadi tujuan kuliah Hakim selanjutnya. Sekalian, aku mau berlibur. Hehehe...” kata Aisha dengan tawa kecilnya.
“Semoga liburanmu menyenangkan... segera balik ke Indonesia! Itu loh teman-temanmu sudah merindukan.”
“Siap. Ya sudah Al, aku tutup dulu ya. Sampai jumpa di Indonesia, assalamualaikum.”
“Waalaikumusalam.”
Telphonpun berakhir, lalu aku menuju kelas untuk menerima materi perkuliahan. Dua jam habis di dalam kelas, mendengarkan sejenak penjelasan dosen dan disambung dengan diskusi kelompok di sisa waktunya.
Selesai perkuliahan, aku keluar menuju mushola untuk melaksanakan sholat zuhur. Beberapa orang tampak telah siap berjejer rapi mengisi shaf- shaf mushola. Aku menyulus mereka. Beberapa menit kemudian, iqomah pun dikumandangkan. Semua orang lalu berdiri, dan bersiap melaksanakan sholat berjamaah yang diimami salah seorang dosen.
Gerakan sholat zuhur empat rakaat kami jalankan dengan khitmat, setelahnya disambung dengan zikir pendek, diakhiri doa dengan dipimpin imam dan diamini jamaah mushola.
Selesai sholat, aku bergegas mengambil ranselku di tempat penitipan barang. Tiba-tiba, ibu-ibu yang menjaga tempat penitipan memberiku sebuat surat beramplop merah.
“Permisi mbak, ada titipan buat mbak.” Kata ibu-ibu itu sembari menyodorkan surat kepadaku. “Dari siapa ya, bu?” tanyaku.
“Dari seseorang, maaf ibu hanya diamanahkan untuk memberikannya kepada mbak.”
“Tolong beritahu saya bu siapa orangnya. Saya akan kasih imbalan buat ibu, kalau ibu bersedia memberitahu saya pengirimnya. Saya mohon, bu...”
“Maaf mbak, ndak bisa. Ibu tadi sudah janji hanya menyerahkan surat itu kepada mbak, itu saja.”
Aku cukup kecewa tidak dapat mengetahui pengirimnya, dan hanya bisa menerima surat tersebut lalu membacanya seperti biasa. “Sandarkan bahagiamu, lelahmu, dan amarahmu pada-Nya. Tuhan yang memberimu itu, maka mintalah pertolongan-Nya! Semoga engkau senantiasa dalam perlindungan-Nya.”
Dalam hatiku hanya membatin geram, “Kapan berakhir? Siapa pengirimnya...?”
###



MUSIM 4
Dua hari sudah surat Hakim itu bersamaku, dan telah empat kali aku baca. Tak siapapun mengetahuinya, termasuk orang tuaku dan teman dekatku. Sebenarnya, ingin segera aku kembalikan surat itu kepada Hakim, tapi aku takut kalau dia akan marah kepadaku, kemudian membenciku. Lalu, orang-orang yang mengaguminya juga akan ikut membenciku. Akhirnya, tidak akan ada lagi yang mau berteman denganku.
Kebingungan itu menggelayuti perasaanku. Apa surat milik Hakim akan bernasib sama seperti surat beramplop merah milikku? Apa aku harus mengembalikannya? Bagaimana kalau Hakim marah? Apa aku sudah siap dibenci Hakim dan teman-temanku? Semua ini gara-gara surat itu.
Ku letakkan kembali surat itu dalam ranselku. Dihari ketiga ku urungkan kembali niatku untuk mengembalikannya. Akan ku coba mengembalikannya dihari yang tepat, tapi kapan lagi? Ini bukan barang milikku. Orang tuaku tidak mengajarkan menyembunyikan barang milik orang lain, itu salah. Kesalahan yang ku perbuat itu bertambah manakala surat itu telah aku baca diam-diam. Aku telah menimbun kesalahan berlipat-lipat, dan satu-satunya cara menghapus kesalahan itu adalah dengan mengembalikannya kepada Hakim lalu meminta maaf.
Lantas ku ambil kembali surat itu dari dalam ranselku. Aku memberanikan diri, tidak perlu lagi menunggu hari-hari berikutnya untuk mengembalikan surat itu. Niatku harus terlaksana hari ini juga, mau tidak mau aku harus mengembalikannya, dan siap tidak siap aku harus menerima risiko atas perbuatanku sendiri.
Hari itu juga, aku mencari Hakim di sekitaran kampus. Aku mencari di semua ruangan, karena aku tidak tahu ia masuk fakultas apa di kampus ini. Sampai akhirnya, ku jumpai ia tengah membaca buku di cafe. Aku mendekat kearahnya, “Assalamualaikum.” salamku kepadanya.
“Waalaikumsalam warahmatullah.” jawabnya, “..ada yang bisa aku bantu?” tanyanya kepadaku.
“Maaf, ini milikmu?” sambil ku sodorkan surat itu kepadanya.
Dia mengambilnya. Lalu berkata, “Kenapa bisa ada bersamamu?”
“Surat itu mungkin tidak sengaja terselip di bukuku sejak dua hari yang lalu. Dan maafkan aku...” mohonku kepada Hakim.
“Maaf, untuk apa?”
“Maaf untuk... untuk kelancanganku yang telah membacanya tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Aku telah membacanya empat kali, dan surat itu telah bersamaku dua hari. Tapi percayalah! Selama surat itu bersamaku, tidak ada yang mengetahui isinya selain diriku. Aku berani berjanji. Tolong maafkan aku..”
Pria itu terdiam sejenak, lalu menyuruhku untuk duduk. Aku pun duduk. Kemudian, Ia berkata, “Tidak masalah...”. Aku terheran, dengan tenangnya ia tidak mempermasalahkan prilakuku. Pria macam apa dia? Sedikitpun tidak ada ekspresi kemarahan pada dirinya, padahal jelas-jelas aku telah lancang menyusup ke ‘zona pribadinya’.
Ia patahkan seketika prasangkaku tentang yang akan terjadi setelah ku kembalikan surat miliknya. Pantas saja jika banyak orang mengagumi sosok Hakim, mereka tidak salah mengagumi orang sepertinya. Tetapi, Aku masih tidak percaya respon Hakim setenang itu. Lantas, ku beranikan diri bertanya, “Aku telah membaca surat pribadimu. Apa kamu tidak marah?”
Mendengar pertanyaanku, Hakim malah tertawa kecil beberapa saat, lalu menjawab, “Untuk apa marah, dengan marah apa bisa menyelesaikan masalah? Toh surat ini sudah kembali kepadaku, dan masih utuh.”
“Aku sungguh minta maaf atas kelancangan yang telah aku perbuat. Sebenarnya, aku sudah berniat mengembalikannya dua hari yang lalu, tapi aku takut kalau kamu marah. Maafkanlah aku...”
“Sudahlah tidak usah berlarut-larut menyalahkan dirimu sendiri, ini juga karena kecerobohanku yang kurang berhati-hati menyimpannya. Kau sudah aku maafkan.”
“Alhamdulillah, terima kasih. Aku berjanji akan merahasiakan isi surat itu.”
“Terima kasih kembali.” sambil tersenyum.
“Masalah surat sudah selesai. Sekali lagi terima kasih. Aku permisi dulu, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam warahmatullah.”
Aku pun berjalan pulang dengan hati yang tenang. Melewati halaman kampus menuju parkiran untuk melaju pulang mengendarai mobilku. Semua yang terjadi beberapa hari ini atas kehendak Allah, aku harus lebih percaya bahwa masalah telah Allah buat sepaket dengan solusinya.

###



MUSIM 5

Tuhan mengetahui apa yang hamba-Nya butuhkan.
Dalam bait-bait doa, bukankah permintaan yang terbaik senantiasa menjadi andalan?
Maka, hanya hati yang terjaga pada-Nya saja yang mampu merasakan bertapa pertolongan dan kasih sayang-Nya itu nyata dirasa.


Beberapa hari setelah aku mengembalikan surat itu, ku temukan kembali surat beramplop merah di ranselku. Di surat itu tertulis, “Terima kasih, tetap jaga hati!”
Dari ucapan si penulis, aku berusaha mengambil petunjuk. Dan yang ada dalam fikiranku adalah, “Dia adalah orang yang kemarin ku tolong, itu sebabnya ia mengucapkan terima kasih.”. Berarti dalam kurun waktu  minggu ini, ada kemungkinan orang-orang yang ku tolong adalah pelakunya. Sempat terbesit dalam benakku sebuah nama, “Hakim?”. Namun ku buang jauh-jauh prasangkaku. Mustahil jika pelakunya adalah Hakim, karena kejadiannya bukan aku menolongnya. Tapi, karena itu kesalahanku dan aku mengembalikan surat itu untuk meminta maaf, bukan untuk menolongnya. Lalu, siapa pelakunya?
Bisa-bisa waktuku habis percuma hanya untuk memikirkan pelaku teror surat beramplop merah itu. Tak ku pedulikan lagi surat itu, langsung ku gendong ranselku untuk berjalan pulang. Tanpa sengaja aku melihat Hakim berbincang di halaman kampus bersama tiga orang wanita yang nampaknya setara ilmu agamanya dengan Hakim. Aku memperhatikan mereka beberapa saat, membayangkan betapa kotornya diriku diantara mereka berempat yang semuanya adalah orang-orang ahli agama. Siapakah aku yang hanya wanita pengagum Hakim, yang memiliki seberkas harapan untuk dapat tampil satu forum diskusi bersamanya. Sungguh tandus rohaniku akan kesejukan keagamaan. Jika diibaratkan sebuah bangunan, tak menjadi sebuah gedung yang meneduhkan tanpa adanya atap pelindung. Tak ada artinya semua yang ku lakukan karena dunia dan akhiratku tak ku imbangi.
Tiba-tiba, Hakim berada dibelakangku. Seketika pangilannya membuyarkan lamunanku, “Alya..? Alya...?”
“Allahhu Akbar?!” aku terkejut, “Ha... Hakim. Sejak kapan kamu berada disini?”
“Sejak aku hendak memberikanmu bingkisan ini. Titipan dari Aisha, sepupuku.” menyerahkannya kepadaku. Aisha adalah temanku yang baru pulang dari umrah, kebetulan dia adalah sepupunya Hakim.
“Terima kasih,” kataku sembari menerima bingkisan itu. “Kenapa tidak dia langsung yang memberikannya?”
“Dia masih istirahat, katanya ini harus segera diberikan padamu. Jadi Aisha menitipkannya padaku.”
“Oh begitu, terima kasih ya. Sampaikan salam pada Aisha.” Kataku.
“In shaa Allah akan ku sampaikan,” (hening tiga detik) ”Al, aku boleh menebak sesuatu tentangmu?” tanya Hakim kepadaku.
Aku tertawa kecil, lalu berkata, “Seperti peramal saja, apa yang ingin kamu tebak dariku?”
“Akan lebih baik jika niat baikmu itu disegerakan.”
“Niat baik, maksudmu tentang...”
Hakim menyela perbincangan, “Tentang keinginanmu lebih serius mendalami ilmu agama, aku bersedia membantumu.”
Aku tertunduk malu. Bagaimana mungkin pria ini tahu apa yang tengah aku pikirkan. Ia memang bukan peramal, namun ia seorang ahli agama. Dan mungkin ini adalah salah satu kelebihan yang Allah berikan padanya. “Kamu serius?” tanyaku meyakikannya.
“Iya, aku serius,” jawabnya dengan penuh keyakinan, “... hal yang baik kenapa tak disegerakan. Aku akan mengajarimu islam. In shaa Allah.”
Aku hanya menundukkan kepala, tak berani menatap wajahnya. Takut jika tumbuh harapan lebih diluar batas kepantasanku.
Tanpa berlama-lama, saat itu juga Hakim mengajakku berkunjung ke sebuah pesantren tahfidz al-quran yang dikelola keluarganya.
Disinilah, aku mulai mengenal islam lebih dalam. Kami saling mengajari, mengingatkan, dan menasehati satu sama lain. Lingkungan yang dami, sarat akan nuansa islam, karena memang ini seperti markas orang-orang yang haus ilmu agama. Termasuk diriku, ada pula anak kecil yang begitu bersemangat mengikuti kegiatan demi kegiatan pesantren yang dilaksanakan. Mulai dari setoran hafalan, ceramah, sholat berjama’ah, dan kegiatan lainnya. Perlahan aku menikmati babak baru kehidupanku, bergaul disekeliling orang-orang alim tanpa skat perasaan canggung. Dimana keramahan, toleransi, dan sopan santun sangat berharga di tempat tersebut.
Banyak yang ku pelajari dari mereka, para penguni pesantren tahfidz. Meskipun aku tidak nyantri di pesantren tersebut, para ustadzah dan yang lainnya sangat ramah menyambutku, dan berusaha membantuku mengenal islam dengan lebih baik lagi. Hingga, karena terlalu seringnya Hakim mengajakku berkunjung, aku sampai akrab dengan kedua orang tuanya. Beliau berdua adalah penerus pesantren tersebut, generasi keempat.
Dari ibunya Hakim juga aku banyak mengetahui sejarah islam, khususnya tentang wanita. Beliau menerangkan dengan saksama kandungan surat an-nisa, surat maryam, dan surah yusuf kepadaku. Beliau juga mengajarkan ku perihal menjaga diri bagi wanita muslim. Banyak ilmu yang Beliau ajarkankan padaku. Bahkan, sempat beberapa kali Beliau bercerita perihal keluaganya. Sepenggal percakapan beliau, “Allah memberiku amanah tiga orang anak, dan semuanya laki-laki. Alhamdulillah Allah beri kemudahan mendidik dan menjaga mereka. Yang pertama telah berkeluarga, dan sekarang menetap di Salatiga, yang kedua adalah Hakim, dan yang ketiga kini berusia 16 tahun sedang nyantri di Gontor. Hakim dulu sempat mau ditaruh di Malang, tapi dia tidak mau. Dia masih kecil, umi masih ingat betul betapa lucunya Hakim merengek ketika menolak tawaran itu. Dia memohon kepada umi beruang kali agar membatalkannya. Hingga pada suatu malam selesai umi sholat tahajjud, Hakim menghampiri umi diam-diam. Dia memeluk umi sambil berkata, “Umi, Hakim sayang umi. Umi sayang Hakim bukan?” tentu saja umi menjawab sayang kepadanya. Hakim lalu kembali membujuk umi lagi sampai dia menangis. Umi tidak tega melihatnya, keesokan harinya umi mendiskusikan keinginan Hakim dengan abinya. Alhamdulillah, atas izin Allah hati abinya bisa umi luluhkan. Akhirnya, kami memutuskan bahwa Hakim tidak akan dipondokkan jika dia bersedia menghafal al-quran di pesantrean ini seperti santri yang lain. Dia pun berjanji, dan berhasil memenuhinya. Sekarang, dia masih disini menemani umi dan abi mengelola pesantren.”
“Masya Allah, Alya terkagum atas didikan yang umi dan abi berikan.”
“Kelak engkau juga dituntut untuk bersikap demikian. (terdiam 2 detik) Nduk, lelaki dalam sebuah keluarga adalah pemimpin. Ibarat kapal, ia adalah nakoda yang mengendalikan laju kapal berlayar. Diantara bentangan samudra, ia harus mampu menguasai segala medan. Pada lautan tenang yang mampu membuatnya terlena, hingga badai yang siaga menggulingkan kendalinya. Semua itu butuh perbekalan yang cukup, dan hanya nakoda-nakoda terbaiklah yang akan berlayar bersama kapal dengan kemudi terbaiknya. Telah menjadi tanggung jawab orang tua untuk mencukupi dan mempersiapkan perbekalan yang cukup. In shaa Allah, atas izin Allah.”
“In shaa Allah, umi dan abi telah berhasil mendidik mereka. Buktinya Hakim, dia anak yang baik, umi. Di kampus, dia menjadi kepercayaan dosen, bahkan banyak mahasiswi yang mengidolakan Hakim. Sebagian berasalan karena ketampanan dan kecerdasannya, sebagian lagi karena akhlaknya. Umi mungkin sudah tahu?”
Umi tertawa kecil, “Belum, yang umi tahu sampai sekarang itu tentang seorang wanita yang dari dulu sangat dikagumi Hakim. Namun, dia tidak memberitahukan umi alasannya mengagumi wanita tersebut. Umi saja tidak tahu siapa wanita yang Hakim maksudkan, karena setiap bercerita perihal wanita tersebut Hakim sama sekali tak pernah menyebutkan namanya. Padahal umi dan abi sudah sering kali mendesaknya untuk segera menghalalkan wanita itu, tapi kata Hakim nanti dulu. Dia bilang, wanita itu harus kenal umi, abi, dan pesantren ini terlebih  dahulu.”
“Sadar Alya!!!” seolah-olah ada hentakan suara keras  yang terlontar hanya padaku, tamparan keras untuk diriku yang masih memegang harap untuk dapat memiliki seseorang yang jelas-jelas telah melabuhkan hatinya untuk wanita lain. Harapanku telah hancur, mendengar penjelasan singkat perihal wanita yang telah berhasil membuat Hakim menaruh kagum padanya. Diriku ini siapa? Wanita yang menaruh kagum pada Hakim, yang menaruh harap dan tak malu berangan-angan bisa memiliki sesosok lelaki yang bernama Hakim Abdullah.
Oh Allah... untuk siapa hatiku ini? Seharusnya aku tak menghancurkan gembok berkarat yang bertahun-tahun mengeraskan perasaanku terhadap lelaki. Seharusnya aku tetap cuek, tetap tak mempedulikan lelaki yang berlalu lalang di hidupku.
Oh Allah... untuk siapa hatiku ini? Salahkan aku membukanya? Oh Allah, jika perasaan ini timbul dari pandangan-pandangan jahat. Ku mohon lindungilah aku! Ku mohon pada-Mu, Allah.

###



MUSIM 6
“Isyarat mentari yang duduk di singgasananya, terang semakin terik. Langit abu-abu yang tadi tampak kembali lagi bersembunyi. Hujan tak jadi turun, namun waktu terus menuntun setiap orang berlalu maju. Tak peduli siapa jatuh tersungkur, atau bangkit merakit kembali deret kisah bersama langkah yang kian tergopah-gopah.
Ada yang merana menggelayuti nestapa kisah cinta tak sampai, ada yang menghitung waktu menunggu seruan hingga hilang tak tahu. “Dan kau?” Kau tanya padaku? Aku bukan bagian darinya. Aku telah pasrah.”
Selesai jam kuliah, aku diajak Hasana berdiskusi disebuah kafe tak jauh dari kampus. Kafe yang biasa mahasiswa kunjungi karena menyediakan jaringan wifi gratis dengan sajian menu yang terjangkau oleh kantong mahasiswa.
Dua orang yang lebih dahulu berjanjian dengan Hasana telah menunggu, kamipun bergambung mendiskusian sebuah topik materi kuliah yang tadi telah diajarkan. Satu jam dua puluh menit telah berlalu, kami rasa cukup diskusi kami saat itu. Dua orang telah lebih dahulu meninggalkan aku dan Hasana.
“Al, habis ini kamu mau kemana?” tanya Hanana.
“Mau ke pesantren.”
“Aku ikut ya?”
“Baiklah, ayo..!”
Kamipun meninggalkan kafe, lalu melajukan mobil menuju pesantren. Sesampainya di sana, ku lihat rumahnya Umi tengah ada tamu. Aku putuskan untuk mampir dahulu ke asrama santriwati. Bertemulah kami dengan Khomsa, salah seorang santiwati di pesantren tersebut.
“Assalamualaikum, kak Alya...”
“Waalaikumsalam, Khomsa...”
“Ayo kak mampir ke bilik Khomsa. Mumpung sedang sepi.”
“Lah, teman-temanmu pada kemana?”
“Mereka ada piket persiapan pengajian nanti sore.”
“Oh, baiklah.”
Menujulah kami ke bilik Khomsa. Ruangan 3x4 meter dengan corak khas wanita tampak tertata rapi. Beberapa buku dan kitab berjejer di rak kayu yang menempel pada dinding ruangan. Disisi lain, berjejer tas berjumlah enam, yang menandakan bahwa penghuni bilik tersebut ada enam orang.
Kami duduk di lantai, Khomsa terlihat menggambil sesuatu dari balik almari kecil yang ternyata adalah sebuah air mineral gelas sejumlah tiga. Satu untukku, satu untuk Hasana, dan satunya lagi untuk Khomsa sendiri.
“Ayo kak, silahkan diminum!. Maaf, Khomsa punyanya cuma air putih.”
“Tidak apa-apa. Oh ya, kenalkan ini kak Hasana temanku.”
Khomsa dan Hasana berjaba tangan, “Khomsa Ramadhani...”
“Hasana Putri Maharani.”
“Pengajiannya nanti jam berapa?”
“Ba’da Asar di joglo santriwati. Kak Alya mau ikut?”
“In shaa Allah. Memang tidak apa-apa kalau aku ikut?”
“Pengajiannya buat umum kok kak, tidak apa-apa. Nanti bareng Khomsa saja kesana.”
“Emm... sepertinya aku tidak bisa ikut.” kata Hasana.
“Kenapa?” tanyaku. “Ada janji sama ibuku di rumah sekitaran jam empat, nggak apa-apa kan?”
“Iya, ndak apa-apa kok. Terus kamu pulangnya nanti bagaimana?”
“In shaa Allah naik taksi saja.”
“Baiklah kalau begitu.”
Kamipun melanjutkan perbincangan seru, saling sharing ilmu antara diriku, Hasana, dan Khomsa. Sungguh, terkadang terbesit rasa iri melihat Khomsa yang telah mampu menghafal al-quran sekitar dua puluh delapan juz. Ia telah mengabdikan dirinya selama empat tahun di pesantren ini, bersekolah dan jauh dari keluarga.
Sempat suatu kali aku bertanya, apa yang membuatnya betah disini? Jawabannya sangatlah sederhana, “Karena aku merasa dekat dengan Allah.”. Inikah definisi wanita sholeha Allah? Mengabdikan sepenuhnya hidup hanya padaMu, takut akan Engkau, dan memasrahkan segala miliknya kepada-Mu.
Ia baru berusia tujuh belas tahun, tapi telah berhasil menunjukkan kemampuannya di hadapan Allah. Tak banyak orang tahu, wanita yang kesehariannya hanya sibuk memperbaiki keimanannya, dan berbaur hanya disekitaran lingkungan pesantren. Sedangkan aku? Aku yang berlumur banyak dosa merasa malu dengan gadis tujuh belas tahun itu.
“Allah... Sang Penguasa Semesta, Tuhan Yang Maha Esa. Allah, telah berapa tingkat aku di mata-Mu? Diantara milyaran hamba-Mu, apakah aku termasuk yang mendapat naungan-Mu? Ataukah karena terlalu banyak dosa yang ku perbuat, hingga menutupi padangan-Mu terhadapku. Masihkah terbuka pintu taubat-Mu, Allah? Maka ku mohon, izinkanlah aku menjadi salah seorang yang bersungguh-sungguh bertaubat pada-Mu. Allah, Senantiasa lindungi dan ingatkan diriku untuk bersyukur kepada-Mu, aamiin...” doaku.
Usai sholat asar, Hasana berpamitan denganku untuk pulang terlebih dahulu. Aku mengantarkannya hingga depan gerbang pesantren. Setelah mendapatkan taksi, aku kembali masuk untuk mengikuti pengajian sore.
Baru lima langkah kakiku berjalan, tanpa sengaja berpapasan dengan Hakim yang hendak keluar pesantren. Ia berhenti beberapa jengkal dari tempatku berdiri, lalu mengucap salam, “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Mau mengikuti pengajian?”
“Iya. Kamu sendiri mau kemana?”
“Mau menemani abinya Aini jalan-jalan. Duluan ya, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam warahmatullah...”
Aini, Siapa Dia? Sepertinya Hakim tidak punya saudara bernama Aini. Apakah Dia yang tadi bertamu ke rumahnya? Wanita berjilbab biru dongker dengan gamis toska itu? Yang berjalan beriringan dengan umi ketika menuju masjid. Siapa Dia?
Ah, apa lagi yang ku pikirkan. “Bukan Hakim prioritasmu disini, tapi Allah. Kembalikan fokusmu... kembalikan fokusmu... ada pengajian yang waktunya sempat kau tunda untuk memikirkan hal yang tak guna.” Batinku berusaha memberontak.
Menujulah aku ke joglo pesantren, bergabung dengan jamaah lain. Tak berselang lama, pengajianpun dibuka oleh seorang santri yang mengajak para jamaah untuk berdoa terlebih dahulu dan melantunkan asmaul husna bersama. Selanjutnya, baru umi mengisi pengajian dengan ceramah yang saat itu berisikan tentang “Maryam, Teladan Wanita Muslim”.
Ceramah umi, “...Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah Swa, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah. (HR. Hakim). Maryam, kita berbicara tenang Maryam. Ia adalah wanita terbaik sepanjang masa. Wanita terbaik dalam kurun sejarah wanita, dari Hawa hingga kelak yang terakhir, entah siapa. Kenapa demikian? Dalam quran surat Ali Imran ayat 42 disebutkan dan ingatlah ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia.” Allah saja mengakui keteladanan Maryam yang seorang putri dari ayah yang bernama Imran, laki-laki sholeh dari kalangan bani Israil, dan ibunya adalah wanita sholehah yang telah menyerahkan putrinya sejak dalam kandungan untuk berkhidmat kepada Allah.
Quran surah Ali imran ayat 35 disebutkan (ingatlah), ketika isteri Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Sejak dalam kandungan saja Maryam telah dikenalkan oleh ibunya kepada Tuhan. Lalu bagaimana masa kecilnya? Ia terlahir dalam keadaan yatim, namun karena keberkahan dan kesholehan kedua orang tuanya, banyak ahli ibadah di Baitul Maqdis yang hendak mengasuhnya. Kemudian, Rasulullah Zakariyah yang menjadi pengasuhnya, karena kedekatan hubungan keluarga.
Dalam pengasuhan Rasulullah Zakriyah, Maryam tumbuh menjadi wanita yang sangat menjaga kesuciannya, ia tidak sembarangan berdekatan dengan laki-laki yang bukan mahramnya, ia tidak menggoda laki-laki dan menjahui godaan mereka.
Pernah suatu ketika Allah menutus Jibril datang kepada Maryam dalam fisik yang sangat-sangat sempurna. Ia mendekati Maryam, lalu bagaimana respon seorang Maryam? Quran surat Maryam ayat 17 – 18 disebutkan maka Ia mengadakan takbir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma dihadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.”
Melihat laki-laki yang sangat sempurna ketampanannya, Maryam tidak terkecoh, tidak lantas merendahkan dirinya dan mencoba menarik perhatian laki-laki tersebut. Ia malah meminta perlindungan Allah, hingga akhirnya Jibril mengatakan, “Sesunggunya aku ini hanyalah utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” Quran surat Maryam ayat 19. Barulah saat itu Maryam tahu bahwa laki-laki tersebut tidak bermaksud menggoda dan mengganggunya. Ternyata ia adalah malaikat yang Allah utus untuk menemuinya.
Sungguh, Allah memuji Maryam dengan wanita yang benar, “Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar...” quran surat Al-Maidah ayat 75. Dari kisah singkat Maryam tersebut, hendaklah seorang muslimah menjaga diri dari laki-laki. Karena itu adalah sebuah kemuliaan. Contohlah Maryam! Wanita yang Allah sebut langsung sebagai wanita terpilih, wanita baik-baik, wanita yang disucikan, namun ia masih enggan berdekatan dengan laki-laki karena takut tergoda. Ia takut, kalau kedekatannya dengan laki-laki akan menimbulkan sesuatu yang Allah haramkan. Masya Allah, semoga Allah mengasihi kita semua. Aamiin. Wassalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh.”. Serentak jamaah menjawabnya dangan salam, “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh...” Selanjutnya, pengajian ditutup dengan bacaan doa yang dipimpin oleh umi.
Tidak berselang lama, selesai pengajian terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Semua orang bergegas untuk menunaikan sholat berjamaah di masjid. Akupun demikian, menunaikan sholat maghrib di masjid pesantren sebelum beranjak pulang ke rumah.
Ketika hendak merapikan mukena dalam ranselku, ku temukan surat beramplop merah. Aku mengambil, lalu membukanya, “Semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungimu dalam istiqomah yang tengah engkau jalani. Aamiin.”
Begitulah isi surat beramplop merah, tidak panjang lebar, tidak ada nama, hanya sebuah kata yang disusun menjadi sebaris, dua baris, atau tiga baris kalimat saja. Sejenak surat itu masih berada dalam genggamanku hingga seorang wanita mengagetkanku dari belakang dengan tepukan tangan di pundakku.
“Assalamualaikum.” salamnya.
“Waalaikumsalam.”
“Sedang apa? Sebaiknya jangan terlalu sering melamun, apa lagi malam-malam. Tidak baik, mending ikut aku mengaji bersama umi.”
“Maaf, kamu siapa? Kita kan belum saling kenal,” ku sodorkan tanganku kepadanya, “Aku Alya As-syifa.”. Ia menanggapiku dengan jaba tangan, “Aku Aini Nadzifa. Salam kenal...” katanya begitu ramah terhadapku.
“Kamu tamunya umi bukan?” tanyaku.
“Iya, betul. Untuk  satu minggu ini aku tinggal disini untuk berta’aruf.”
“Berta’aruf?”
“Iya, in shaa Allah untuk sebuah pernikahan.” Katanya. “Menikah dengan siapa?”
“Baru berta’aruf.” Katanya mencoba membuat suasana lebih akrab.
“Maksudku, berta’aruf dengan siapa?”
“Dengan salah seorang putra Kyai Hasan, in shaa Allah. Kamu mengenalnya?”
Jawabanku tertunda cukup lama, “Dia sangat baik, in shaa Allah engkau akan berjodoh dengannya.” kataku dengan nada suara yang sedikit bergetar.
“Aamiin...”
Tak kuasa diriku berbicara dengan wanita tersebut. Ajakannya untuk mengaji bersama umi terpaksa ku tolok, aku langsung berpamitan padanya untuk pulang ke rumah.

###

MUSIM 7
Setibanya di rumah, aku langsung menuju ke kamar. Tak menghiraukan tawaran umi untuk bergambung menikmati makan malam. Tubuhku sudah lelah, pikiranku meminta bergegas menuju ‘ruang serbaguna’, sebutan kamarku.
Ku letakkan ransel dan bukuku pada tempatnya, mengambil amplop merah dan menaruhnya dalam kotak yang biasa untuk ku simpan surat-surat itu. Lampu kamar tak menyala terang, aku duduk di kursi kerja menghadap planing-planing kegiatan harian yang telah ku rancang. Aku memandangi angka satu sampai tiga puluh yang disetiap angka terdapat coretan-coretan huruf sebagai penanda kegiatan yang harus ku lakukan dihari itu.
“Dulu yang tertulis di situ harus terlaksana apapun yang terjadi, aku berhasil. Tapi, untuk sekarang... aku seperti tidak mengenal diriku sendiri. Ku kemanakan disiplinku? Ku kemanakan fokusku? Ku kemanakan semua itu?. Allah... aku ini kenapa?” kataku pada diriku sendiri.
Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk. Aku berdiri dan bergegas membukanya, ternyata ayah. “Ayah bawakan susu untukmu.” Menyerakan segelas susu kepadaku.
“Terima kasih, yah...”
“Kamu kenapa?” tanya ayah padaku. Aku hanya menggelengkan kepala.
Ayah bertanya kembali, “Ada apa? Cerita sama ayah!”
Aku menutup pintu kamar, lalu kami duduk di sofa yang tak jauh dari kamarku berada. Ku sruput sedikir minuman susu itu, lalu ku letakkan diatas meja dan mulai bercerita kepada ayah. “Yah, Alya sekarang sedang bingung. Bolehkah Alya bertanya sesuatu?”
“Bertanya saja.”
“Tapi, ayah harus menjawabnya jujur dan tidak ada yang disebunyikan.”
“Janji, in shaa Allah ayah akan jawab jujur.”
Diam beberapa saat, “Ayah ingin Alya yang bagaimana?”
Ekspresi ayah seketika berubah. Kerut di keningnya terbentuk jelas ku lihat, ayah sedang menahan haru.  “Maksud kamu?” tanya ayah padaku.
“Apa yang bisa Alya lakukan untuk ayah dan umi?”
Ayah diam beberapa saat, perasaan harunya tak dapat lagi disembunyikan. Ia lantas berkata,  “Kehadiranmu sudah cukup membuat kami bahagia. Menemanimu tumbuh menjadi gadis dewasa merupakan sebuah bonus dari Allah. Melihatmu bahagia adalah kebahagiaan ayah dan umi.”
Ku sandarkan kepalaku di bahu kiri ayah, “Ayah tidak sedang berbohong bukan? Jika Alya bahagia, tapi menghabiskan uang orang tua. Apa ayah dan umi tidak bersedih? Ayah tahu Alya sudah dewasa, tapi Alya merasa masih sangat dimanja. Yah, dewasa bukan hanya tentang pertambahan usia, tapi tentang meninggalkan sikap dan pola pikir kekanak-kanakan.”
“Ayah paham itu. Tapi kamu harus tahu, mendidik seorang gadis berbeda dengan mendidik seorang putra.”. Aku terdiam tak melanjutkan percakapan perihal itu.
“Yah... cerita dari umi, ayah dulu membuat puisi untuk menyambut kelahiran Alya. Benarkah?”. Ayah menganggukkan kepala.
“Bolehkan Alya mendengarnya saat ini?”
“Lain kali saja, puisi ayah tidak lebih bagus dari puisi yang kamu buat. Ayah juga telah lupa beberapa baitnya. Ayah akan carikan salinannya, biar kamu nanti baca sendiri.” Kata ayah.
“Alya maunya sekarang, ayah yang membacakannya. Alya tidak peduli itu puisi baik atau tidak. Alya ingin mendengarkannya, yah.”
Terdiam sejenak, aku bangkit dari bersandar di bahu ayah. Memposisikan diri siap mendengar puisi yang ayah akan bacakan. Ayah lantas membacakannya.
Hadirmu menorehkan senyum sehabis derita
Hadirmu sebuah akhir penantian
Hadirmu legakan kekhawatiran
Hadirnya jadikan tangis bahagia
Putriku... yang terlahir tanpa dosa
Suci dari rahim wanita mulia
Tangis dari mata beningnya
Sentuhan dari tangan mungilnya
Pelukan hangat dari tubuh dinginnya
Hingga gerakan-gerakan sederhana
Yang amat dinanti sekian lama...
Ayah tak kuasa lagi membacakannya untukku, ia pun berhenti. Aku lalu memeluk ayah untuk menenangkannya.
Waktu telah menunjukkan pukul 21.45, ayah menyuruhku untuk kembali beristirahat di kamar. Dan ia lantas meninggalkanku setelah memastikannku menghabiskan segelas susu yang tadi ayah bawakan.

Bandung, 2 Juli 2010
22:10

Malam ini aku bercerita dengan ayah. Tidak lama, tapi mengesankan. Alhamdulillah, pikiranku sedikit terobati dengan percakapan sederhana di sofa bersamanya. Ia, ayah adalah lelaki pertama yang ku kagumi, lelaki yang mengerti betul kelebihan dan kelemahanku.
Entah, lelaki seperti apa yang kelak mampu menerimaku sebagaimana ayah. Aku telah pasrah, tak ingin lagi memenuhi dadaku dengan harap yang akhirnya mengecewakan. Percakapan dengan ayah malam ini telah cukup menyadarkanku, bahwa yang pantas diharapkan hanyalah Allah dan kebahagian orang-orang tersayang. Masalah Hakim dan lainnya, cukup sampai disini kerumitannya. Aku harus kembali bangkit memperbaiki planing-planing yang berantakan beberapa hari ini. Pekerjaan-pekerjaan yang tertunda dan tak karuan jadinya. Bismillah...
###



MUSIM 8
Seusai sarapan bersama, aku langsung berpamitan dan melajukan mobilku menuju kampus. Dua hari berturut-turut sengaja aku ijin dari rutinitas kampus dan pesantren, menenangkan diri dan menyusun kembali planing-planing baru yang sebelumnya telah berantakan karena perbuatanku sendiri. Beberapa pesan masuk membuat notifikasi handphonku penuh, dari mulai temanku hingga seorang pengurus pesantren yang berusaha menghubungiku. Namun, semua ku diamkan saja. Baru pagi ini ku balas beberapa pesan yang mereka kirim kepadaku.
Sesampainya di parkiran mobil, tak langsung diriku keluar menuju ruang kelas. Aku terdiam sekitar lima menit didalam mobil untuk menyiapkan diri fokus pada tujuan yang telah terencanakan. Setelah siap, aku keluar dengan menggendong ransel hitam yang biasa ku bawa.
Beberapa mahasiswa terlihat aneh melihat penampilan baruku yang mengenakan gamis syar’i lengkap dengan jilbabnya, menanggalkan pakaian rapih bercelana dengan jilbab simpel yang biasa ku kenakan. Aku berusaha percaya diri dengan berjalan biasa, tak mempedulikan mata-mata aneh mereka yang tertuju padaku.
Bertemu teman-temanku di ruang kelas. Mereka pun juga ikut terkejut dengan penampilanku yang tak seperti biasanya. Kemudian aku duduk menghadap ke mereka berempat, lalu menjelaskan kepada mereka alasanku merobak penampilan.
“In shaa Allah, ini adalah yang terbaik. Dalam dua hari aku ijin, sebenarnya adalah caraku menyeleksi diri. Jujur, tiga hari yang lalu aku merasa kacau. Aku melihat rencana hidupku hancur, bahkan aku seperti tak mengenal diriku sendiri. Dan disaat seperti itu, aku merasa tak siapapun akan siap mendengar curhatanku selain Allah. Aku hanya berdoa, sesekali menulis, dan bercakap sederhana dengan keluargaku. Aku berdoa lagi dan terus. Hingga aku menemukan jawabanku sendiri. Aku butuh Allah. Dan, aku rasa ini salah satu cara Allah menegur diriku yang telah kelewat batas. Aku pasrah, semua telah terjadi. Dan dihari berikutnya aku terbangun, seperti ada sesuatu yang membisikiku untuk bangkit, menyusun kembali rencana-rencana kedepan dengan menyertakan Allah. Alhamdulillah, berpenampilan seperti ini adalah langkah awalku, untuk selanjutnya aku mohon dukungan kalian untuk mendampingiku memperbaiki diri menjadi Alya yang lebih baik lagi.” Jelasku kepada mereka yang membuat Hasana, Salwa, Rere, dan Najwa terharu.
“Sebagai teman, kami akan menudukung apapun yang membuat dirimu menjadi lebih baik.” Kata Najwa. Yang berlanjut pada pelukan kami berlima.

Bandung, 4 Juli 2010
Fakultas Arsitektur UGM
Allahu akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... walillahilham. Alhamdulillah, terima kasih Allah atas segala kasih sayang dan perlindungan-Mu selama ini. Atas hidayah yang Engkau berikan padaku, atas jalan keluar  dari permasalahanku, atas segala kegelisahan yang menggelayutiku. Semua atas kuasa-Mu.
Allah, dengan kemantapan hatiku untuk merubah penampilan. Semoga Engkau meridhoinya, dan sesantiasalah ingkatkan diriku untuk memperbaiki diri di hadapan-Mu. Terima kasih Allah.

Seusai mengisi buku harian, handphoneku berdering. Terihat nama tertera “Ustadzah Zahra”, aku mengangkatnya.
“Assalamualaikum, ustadzah.” Salamku kepada ustadzah Zahra.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Alya. Apa kabar kau? Kenapa dua hari ini tak nampak mampir ke pesantren?”
“Em... maafkan Alya ustadzah, sulit untuk Alya menjelaskannya lewat handphone. In shaa Allah bila bertemu, Alya akan beritahu ustadzah.”
“Baiklah. Hari ini kau mampir ke pesantren tak? Bu Nyai menanyakanmu.”
“Sepertinya tidak, Alya ada urusan penting. In shaa Allah lain kali.”
“Mampirlah ke pesantren, bertemu ustadzah lagi dan mengaji bersama.”
“Iya, ustadzah.”
“Baiklah kalau begitu, ustadzah dapat jawab keadaanmu bilamana bu Nyai bertanya. Sudah dulu ya, ustadzah mau memasak buat acara nanti. Ramai orang sekarang, kau rugilah kalau tak mampir.”
“Iya ustadzah,, maafkan Alya.”
“Baiklah kalau macam itu, tak apa. Ustadzah sudahi ya, Salam buat keluarga. Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh.”
“Waalaikumslaam warahmatullahi wabaraktuh.” Telphone pun terputus.
Logat melayu campuran Ustadzah Zahra sangat khas terdengar di telinga, menggugah kerinduan tiba-tiba akan pesantren dalam hatiku. “Astaghfirullah... astaghfirullah... astaghfirullah...” beruangkali ku sebut, berharap mampu meredakan perasaan ini.
Hasana mendekatiku, merangkul bahuku dari samping, “Kamu kenapa, Al?” tanyanya. “Aku bingung...” Jawabku singkat. “Kenapa?” tanyanya kembali.
“Orang pesantren tadi menephoneku, beliau memintaku untuk mampir ke sana. Tapi aku takut An, jika kedatanganku dapat memancing kembali perasaanku terhadap Hakim Abdullah. Dia sedang berta’aruf dengan seorang wanita, in shaa Allah menuju pernikahan. Aku tengah belajar mengikhlaskannya. Tolong bantu aku An, bantu aku menghapus semua hal tentangnya.”
“Mintalah kekuatan pada Allah, kesanggupan untuk mengatasi kesulitan yang engkau hadapi. Alya, jika kau sudah berniat karena Allah. Mantabkan! Percayalah Allah melindungimu, Allah bersamamu, dan senantiasa mengawasimu. Untuk apa kau merubah penampilan jika yang kau takutkan masih saja Hakim. Ingat Alya, Hakim pun dalam kendali Allah. Mintalah perlindungan Allah, in shaa Allah semuanya akan baik-baik saja. Jangan takut untuk mampir ke pesantren! Luruskan niatmu!”
“Terima kasih, An.”
Diriku digertak Hasana. Temanku yang paling sering memberiku nasehat-nasehat perihal agama dan ketaatan terhadap Allah. Uswatun Hasana nama lengkapnya, temanku sejak SMA yang telah menutup rapat auratnya sejak usia sepuluh tahun, pernah menjadi santri di Semarang dan saat ini sedang menjalani proses hafalan quran berjalan tiga puluh juz.  Ia berencana melanjutkan S-2 di Kairo, Mesir untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang sejarawan islam. Kini, aku dan Hasana sedang fokus mengurusi beasiswa untuk kelanjutan pendidikan kita masing-masing.
Seusai berbincang kala itu, aku lantas berpamitan kepada Hasana untuk pulang terlebih dahulu. Kamipun berpisah di parkiran.
Dalam perjalanan, mobilku terhenti di depan sebuah cafe. Aku turun, mampir sejenak kedalam cafe tersebut, memesan minum dan makanan ringan. Sembari menikmati hidanganya, ku oprasikan laptopku. Mengecek perkembangan kelanjutan formulir beasiswaku, dan mengirim rancangan skripsi ke dosen pembimbing.
Beberapa telah ku selesaikan. Hidangan yang ku nikmatipun telah habis. Ku rapikan berkas dan laptopku, lalu menuju kasir untuk membayar pesanan makanan. Tanpa disengaja, mataku memandang sosok yang rupanya adalah Hakim Abdullah, ia tengah berkumpul dengan temannya mendiskusikan sesuatu. Segera ku palingkan penglihatanku darinya, lantas keluar dari cafe mengabaikan yang telah terjadi barusan.
Di dalam mobil yang melaju perlahan, aku memikirkan kejadian yang tadi dan menghubung-hubungkannya dengan kejadian yang lain. Terpikirlah dalam benakku, bahwa sepertinya ini salah satu rencana Allah mengijinkanku untuk mampir ke pesantren.
Segeralah ku lajukan mobil menuju pesantren dan bertemu dengan ustadzah Zahra dan umi. Ketika sampai, tampak disekeliling orang-orang terlihat wara-wiri mempersiapkan acara yang akan dilaksanakan pesantren hari itu. Kakiku masih berjalan mendekat, namun tak tahu mana yang akanku tuju lebih dulu. Mataku menatap sekeliling, namun orang yang ku tuju juga tak terlihat penglihatanku.
Setelah mencari-cari, bertemulah aku dengan ustadzah Zahra yang selesai mengarahkan beberapa santri untuk melaksanakan persiapan acara. “Assalamualaikum, ustadzah.” Sapaku kepada ustadzah Zahra.
“Waalaikumsalam warahmatullah, Alya...” jawab ustadzah, lalu aku menyalami tangan Beliau. “Kau bilang tak nak mampir hati ini, macam mana kau ini.” kata ustadzah memprotes.
“Maaf ustadzah, Alya berubah pikiran.(hehehe) Em... ustadzah sedang sibuk?”
“Alhamdulillah sudah selesai, tinggal cek-cek saja sudah betul apa belum. Ada perlu apa?”
“Alya mau berbincang serius dengan umi dan ustadzah tentang proses hijrah Alya.”
“Kalau macam itu, kita ke rumah bu Nyai saja. Mari sama-sama ustadzah!”
Aku dan ustadzah pun menuju rumah umi. Setelah sampai, aku duduk di kursi sedangkan ustadzah memanggil umi yang tengah berada di dalam. Tanpa berselang lama, mereka keluar. Aku lalu mengucap salam dan menyalami tangan umi.
“Ada perlu apa, nak Alya?” tanya umi padaku.
“Begini umi, beberapa hari ini Alya merasa masih setengah-setengah mendalami ilmu agama. Alya masih mudah tergoyang perasaan yang tak seharus Alya miliki. Alya takut itu dapat menghambat perjalanan hijrah. Dua hari Alya tidak kemari, karena Alya bingung. Alya memikirkan semuanya dalam dua hari itu. Tentang diri Alya, kegiatan kuliah, hingga kedala yang mucul dalam proses belajar Alya. Sampai, jawaban untuk memperbaiki semuanya Alya dapatkan setelah bercakap singkat dengan ayah. In shaa Allah Alya siap jika harus mondok disini, kalaulah itu memang lebih mendekatkan diri Alya kepada Allah.”
Umi menganggukkan kepala, lalu melontarkan beberapa pertanyaan kepadaku. Aku pun menjawabnya dengan lugas. Akhirnya, umi menyarankanku mendalami al-quran, mempelajari al-quran, dan menghafalkannya. Beliau bersama ustadzah sendirilah yang akan mendampingi dan menyimak perkembanganku, tanpa perlu aku mondok di pesantren tersebut. Cukup beberapa hari dalam satu minggu kesitu menyetorkan hafalan quran.
###


MUSIM 9
Waktu terus berlalu, siang malam bergantian mengubah latar waktu bumi ini. Orang-orang dengan watak yang senantiasa berkembang, sebagian menuju bahagia, sebagiannya lagi masih sama saja. Properti-properti Allah perlahan juga ikut berubah, corak gelap kala malam terlihat berwarna mengiringi siang.
Aku yang menjadi salah satu tokoh dalam kehidupan, dengan nikmat yang Allah berikan masih senantiasa bergerak mendekat pada-Nya. Sebagian keresahan akan kekosongan agama perlahan mulai terpenuhi. Diawali sikap dan penampilanku yang mulai ku perbaiki. Memakai pakaian syar’i, dan menjaga kehormatan diri dihadapan Sang Ilahi. Selanjutnya, ku dalami ilmu al-quran dengan bimbingan umi dan ustadzah. Alhamdulillah, Allah senantiasa memberiku kemudahan untuk berbuat yang lebih baik lagi.
Berbagai tahapan perubahan telah ku pijaki. Tinggal setengah tahun lagi aku selasai studi S1, bebarengan dengan hafalan quranku yang menginjak dua belas juz. Sembari menunggu tanggal wisuda tiba, aku memfokuskan diri menyelesaikan hafalan quran. Mengabaikan teman-temanku yang pada ribut mempersiapkan pakaian yang akan mereka kenakan pada waktu wisuda tiba. Aku hanya ingin hijrahku diterima Allah, aku ingin mendekat pada Tuhan-ku, menyukuri anugrah-Nya yang senanantiasa ku rasa.
Ketika hari wisuda tiba, seperti mahasiswi yang lain. Aku mengenakan kebaya, kebaya pilihan ayah dengan jilbab krem yang ditata serasi oleh kakak iparku. Sedangkan umi dan yang lain mengenakan batik dengan warna senada. Setelah semua siap, dua mobil yang kami tumpangipun melaju meninggalkan rumah menuju tempat wisuda. Sesampainya di sana, mobil kemudian diparkirkan, lalu kami menuju gedung tempat digelarnya wisuda. Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat Hakim Abdullah. Semua kebaikannya yang telah membantuku untuk hijrah menjadi wanita yang lebih baik.
Akupun memisahkan diri dari keluarga, berkeliling mencari Hakim di sekitaran halaman gedung, tempat digelarnya wisuda. Akhirnya pencarianku berhasil, dia tengah merapikan pakaian di samping Pajero hitam. Aku pun mendekat dan mengucap salam, “Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam warahmatullah, Alya. Ada apa?”
“Bisa bicara sebentar?”
“Silahkan!”
“Hakim, aku ingin bilang terima kasih. Karena telah membantu dalam berhijrah.”
“Jangan berterima kasih kepadaku, berterima kasihlah kepada Allah! Karena semua ini adalah kehendak Allah. Allah-lah yang telah merencanakan segalanya.”
Aku hanya tertunduk sambil tersenyum tipis. Hakim lalu bertanya, “Apa kabar keluargamu?”
“Alhamdulillah, baik.” Jawabku. (saling diam 3 detik) “Bagaimana reaksi keluarga saat mengetahuimu menghafal al-quran?” tanya Hakim lagi.
“Kamu tahu ndak, umiku menangis. Beliau bilang, terima kasih telah membangunkan umi dan ayah istana di syurga,” mataku berkaca-kaca karena terharu.
“Masya Allah, betapa bahagiannya keluargamu saat mengetahui ada salah seorang anggota keluarganya  menjadi penghafal al-quran,”
“Alhamdulillah...”. Hakim menyodorkan sebuah sapu tangan kepadaku, “Ini! Hapus air matamu!”. Aku mengambilnya, “Terima kasih.”
“Siapa anggota keluargamu yang menghadiri wisuda nanti?”
“Umi, ayah, kakak bersama isterinya, dan keponakanku,”
“Wah.. satu keluarga hadir semua?”
“Tidak, kakakku yang satu tidak bisa hadir. Sebab, ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan,”
“Oh..” paham Hakim.
Ku beranikan diri bertanya mengenai Aini kepada Hakim, “Ngomong-ngomong, Aini hadir juga di wisudamu?”
“Aini? Aini Nadzifa maksudmu?” tanya Hakim. Aku mengganggukan kepala.
“Tidak, dia sudah balik ke Kairo.”
“Bagaimana dengan prosesi ta’aruf kalian?”
“Ta’aruf? Oalah... Aini bukan berta’aruf denganku, tapi dia berta’aruf dengan Amir, salah seorang santri. Sengaja keluarganya ke pesantren meminta tolong umi dan abi menjadi penghubung prosesi ta’aruf tersebut, dan alhamdulillah empat hari yang lalu mereka telah melangsungkan pernikahan. Bukan denganku Alya, aku hanya teman akrabnya sejak kecil.”
Nafas lega seolah-olah keluar dariku. Kelegaan yang membuatku terdiam membisu di hadapan Hakim beberapa saat sebelum berkata, “Jadi... bukan kamu yang berta’aruf dengan Aini?”
Hakim tertawa kecil, “Kamu salah sangka selama ini.”
“Astaghfirullah aladzim, maafkan aku yang telah berprasangka yang tidak-tidak kepadamu.”
“Tak apa-apa. Suatu saat juga kamu akan tahu yang sebenarnya.”
“Maksudnya?”
“E.. sudah hampir dimulai wisudanya, kita lanjutkan perbincangannya lain kali saja. Salam buat keluargamu. Assalamualaikum.”
“Terima kasih atas waktunya, waalaikumsalam warahmatullah.” jawabku.
Aku kembali ke ruang wisuda tiga puluh menit sebelum semua mahasiswa masuk memenuhi ruang wisuda. Acara wisudapun dimulai, aku mengikuti acara demi acara dengan khitmat. Hingga tiba saatnya, pengumuman mahasiswa terbaik. Jantungku berdetak kecang, seraya berharap bahwa diriku lah yang dipanggil ke depan untuk menerima penghargaan tersebut.
“Dan, mahasiswa dengan lulusan terbaik pertama ialah.... ananda Alya Assyifa.”
Para tamu yang hadir bersorak diiringi bertepuk tangan. Terdengar, ada beberapa orang yang menyebut-nyebut namaku, mengucapkan selamat, sampai bersorak sesukanya sebagai tanda ikut berbahagia atas prestasiku.
“Silahkan, ananda Alya Assyifa dipersilahkan menuju mimbar untuk menerima penghargaan.”
Dengan basmalah, aku mengumpulkan sikap percaya diriku saat itu lantas berdiri dan berjalan menuju panggung untuk menerima penghargaan. Selanjutnya, pembawa acara mempersilahkan ku memberikan sedikit sambutan atas prestasiku.
Aku berjalan mendekati microfon. Dihadapanku saat ini ada lebih dari seratus mahasiswa diwisuda, ada lebih dari seratus orang berkumpul dengan tatapan mata tertuju padaku yang saat itu tengah berdiri diatas mimbar, dan diantara mereka ada keluargaku yang menyaksikan peristiwa bersejarah, yaitu Alya Assyifa dinobatkan sebagai wisudawati dengan lulusan terbaik.
Ku perbaiki sedikit letak microfonnya, dan aku memulai berbicara, “Bismillah...assalamualaikum warahmatullahhi wabarakatuh..”
“Waalaikumsalam warahmatullahhi wabarakatuh...”
“Alhamdulillah, alhamdulillahhirabbilalaamin, tak hentinya hati ini menyebut kalimat tersebut. Kenikmatan berlimpah yang Allah berikan kepada saya saat ini tak bisa saya gembarkan dengan apapun. Saya hanya bisa berucap alhamdulillah.. alhamdulillah.. alhamdulillahhirabbilalaamin atas apa yang telah saya raih baik kemarin, hari ini, maupun yang akan datang. Dan penghargaan ini tak akan saya dapatkan tanpa hadirnya orang-orang yang selama ini berpengaruh dalam kehidupan saya, yang membuat saya menjadi lebih baik hari demi hari. Terima kasih kepada para dosen pembimbing, Bapak Dekan Universitas, Rektor, para dosen, dan.. teman-teman saya yang selama ini selalu mendukung apapun yang saya putuskan. Tak lupa, kepada umi dan ayah saya yang alhamdulillah saat ini bisa hadir, terima kasih. Mungkin, apa yang Alya berikan kepada kalian ini bukalah apa-apa. Tapi, Umi.. ayah.. Alya tepati janji Alya kepada kalian. Penghargaan ini.. untuk kalian.. (menangis) terima kasih, wassalamualaikum.”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” diiringi riuh tepukan tangan para hadirin yang memenuhi ruangan tersebut.
Tangis bahagia tak bisa ku sembunyikan, kelulusanku tahun ini menjadi hadiah paling berharga selama hidupku. Karena ditahun ini pula, Allah memberiku kepercayaan untuk menghafal al-quran. Kebahagiaan ini Allah tambahkan dengan penobatanku sebagai mahasiswa dengan lulusan terbaik tahun ini.
Setelah acara wisuda selesai, aku dan keluargaku berfoto untuk mengabadikan kebahagiaan yang hari ini kita rasakan. Seusai berfoto, tiba-tiba umi dan abinya hakim menghampiri kami yang tengah melihat hasil fotonya.
“Assalamualaikum...”
“Waalaikumslam warahmatullah...”
Umi dan abinya Hakim tersenyum ramah memandangku, aku membalasnya dengan senyuman pula. Mereka kemudian mengajak ayah dan umiku untuk berbincang berdua di cafe dekat kampus. Aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Namun, haruskah aku menemui Hakim dan menanyakan semuanya. Itu seperti tidak sopan dan terlalu ikut campur urusan orang lain. Akhirnya, aku biarkan mereka berbincang, dan menunggu di mobil bersama kakak beserta istrinya, dan keponakanku.

###



MUSIM 10
Siang telah berganti malam. Prosesi wisuda telah berlalu, dan tinggallah aku menunggu pengumuman beasiswa yang telah ku ajukan. Seusai sholat Isya’, aku terus memandangi selempang cumlaud kebanggaanku. Tak sia-sia pendidikan kuliahku selama ini. Tiba-tiba umi mengetuk pintu kamarku, lalu masuk.
“Alya..?”
“Iya, mi. Ada apa?”
“Baru selesai sholat?”
“Iya.”
“Ada waktu ndak?” tanya umi.
“Apa sih yang ndak untuk umi.”
Umi lantas duduk disampingku dan berkata, “Umi ingin bicara serius denganmu.”
“Baiklah, Alya akan mendengarkannya.”
Seraya memegang erat tanganku, umi berkata, “Alya Assyifa, Putri Umi Husna dan Ayah Rahman. Umi tahu, kamu sudah berusaha keras untuk membanggakan keluarga ini. Dan kamu telah berhasil membuktikan janjimu pada umi dan ayah. Namun diluar itu semua, Bolehkan umi meminta sesuatu padamu?”
“Maksud umi apa? Umi tidak perlu meminta ijin Alya untuk mengharapkan sesuatu. Katakanlah! Apa yang umi inginkan?”
“Begini, ada satu keinginan ayah dan umi yang belum terwujud. Kami masih memegang tanggung jawab terbesar atas dirimu. Umi berharap, kamu dengan senang hati bersedia mewujudkannya,”
“In shaa Allah, apa yang harus Alya lakukan?”
“Besok pagi akan ada  sebuah keluarga yang hadir bertamu ke rumah kita dengan tujuan baik. Umi harap, kamu bisa menerima mereka dengan baik juga,”
“Alya? Kenapa hanya Alya, mi? Bukankah memang menjamu tamu dengan baik itu wajib hukumnya,”
“Tamu ini berbeda, mereka datang untuk... mengkhitbahmu.”
Aku terkejut, “Allahhu Akbar.. Allahhu Akbar.. Allahhu Akbar...”
Mataku berkaca-kaca dengan wajah tertunduk di hadapan umi. Umi langsung memelukku, dan berkata, “Walillahilham.. percayalah, sayang! Pilihan orang tua adalah pilihan Tuhan. Umi yakin, pria yang nantinya akan menggantikan tugas ayahmu itu baik agamanya juga bertanggung jawab. In shaa Allah, kamu akan berjodoh dengannya. Tapi, jangan takut jika kamu ingin menolak pinangan ini. Kamu harus jujur, karena ini menyangkut kehidupanmu! Restu umi dan ayah selalu menyertaimu, putriku.”
Aku menganggukkan kepala. “Siapa pria yang akan mengkhitbah Alya, mi?”
“In shaa Allah dia pria yang baik, kau akan mengetahuinya besok. Ingat putriku, jangan takut berkata jujur!”
“Tapi sebelumnya, jika keputusan Alya nantinya mengecewakan umi dan ayah. Alya minta maaf...”
Umi hanya tersenyum, lalu berkata, “Kamu tidak pernah mengecewakan umi dan ayah. Apapun keputusanmu, itu yang terbaik. Umi dan ayah menyerahkan semuanya kepadamu, karena ini menyangkut masa depanmu. Kamu dan dia yang akan menjalaninya. Umi tinggal dulu, ya. Bersiap-siaplah! Mintalah petunjuk kepada Allah! Bismillah, bahwa apapun keputusannya in shaa Allah itu yang terbaik,”
Aku menganggukkan kepala sebagai tanda memahaminya.
Umi meninggalkan kamarku. Membiarkan ku sendiri dalam kegelisahan, lebih tepatnya memberikan aku waktu untuk mempertimbangkan pinangan ini. Banyak pertanyaan yang menghantui pikiranku, setelah sebelumnya hati ini tenang telah menyelesaikan kuliah S1 dengan sempurna.
Apa yang akan terjadi besok? Dalam sholat malamku, aku berdo’a, “Ya Allah..ya Robb, siapakah dia? Berikan petunjuk pada hamba, ya robb..! Tenangkan lah hati ini. Yakinkan hamba! Jika memang dialah pilihan terbaik-Mu, aamiin..”
Ku pasrahkan segalanya hanya kepada-Mu. Engkau yang selama ini menjadi tempatku mengadu, meminta, dan berkeluh-kesah. Yang menguasai takdirku, menentukan hidupku, dan menepatkan jodohku. Aku hanya berharap yang terbaik yang Engkau ridhoi.
Semalaman mata ini tak ingin beristirahat. Masih terjaga hingga adzan subuh berkumandang, aku lantas sholat dan kembali bermunajad hingga kakak iparku menghampiriku di kamar membawa sarapan untukku. Pintu kamarku diketuk, lalu dibuku sembari berucap salam, “Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam warahmatullah.” jawabku yang masih duduk diatas sajadah.
“Layyudhoyyia’nallah, Allah tidak akan mengecewakan kita.” Kata kakak ipar sembari meletakan nampan saji berisi susu hangat di atas meja kamarku.
Aku berdiri, dan duduk di tepi ranjang. Kakak ipar menghampiriku dan memintaku untuk meminum segelas susu hangat pagi itu. Aku lantas meminumnya, lalu bertanya, “Kak, dulu kakak segelisah apa saat berada diposisi Alya sekarang?”
Kakak ipar tersenyum lalu menjawab, “Kegelisahan itu memang wajar. Pasrahkan semua pada Allah, bergantunglah pada Allah. Allah akan berikan yang terbaik. In shaa Allah, semua akan baik-baik saja.”
“Kakak tahu siapa orang yang hendak mengkhitbah Alya?”
“Kakak tidak tahu, yang tahu hanya umi dan ayah. Yang lainnya hanya diminta untuk membantu mempersiapkan kedatangan tamunya,”
“Segitunya umi dan ayah merahasikan pria itu. Alya takut, kak.”
“Tidak usah takut, in shaa Allah semuanya akan baik-baik saja. Tidak mungkin ayah dan umi memilihkan pria sembarangan untukmu. Bismillah... sekarang bersiap-siaplah, sebentar lagi tamunya akan datang.  Mari kakak bantu kamu bersiap-siap!”
Aku melepas mukena dan meletakan al-quran pada tempatnya semula. Menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian memakai pakaian yang telah disiapkan umi tadi malam.
Di depan cermin diriasi kakak ipar dengan dandanan natural, aku memandang wajahku untuk meyakinkan diri bahwa aku harus siap untuk pagi ini. Jika ini adalah kebahagiaan umi dan ayah, in shaa Allah ini yang terbaik.
Setelah selesai bersiap-siap, aku yang hanya ditemani kakak ipar di dalam kamar menunggu untuk dijemput umi, tepat pukul 09:30 umi datang mengetuk pintu dan masuk.
“Sudah siap?” tanya umi. “Alhamdulillah, sudah.” jawab kakak ipar sembari berpamitan meninggalakan kamarku untuk menyambut para tamu.
Umi berjalan mendekat padaku, “Masya Allah.. cantik sekali putri umi.” kata umi dengan mata berkaca-kaca.
“Umi, peluk Alya...” akupun memeluk umi dengan haru.
“Jangan menangis putriku, nanti cantikmu luntur,” kata umi sambil menyeka air mataku. “... nduk, katakan perasaanmu yang sejujurnya! Umi dan keluarga ingin mendengar kejujuranmu. Jangan anggap ini sebuah beban dan tekanan yang umi dan ayah berikan. Ini adalah penentuan masa depanmu, kamu adalah tokoh utama yang Allah tunjuk untuk melanjutkan sebuah cerita yang belum usai.”
Aku memandang wajah umi selama umi menasehatiku. Kita terdiam sejenak, aku lantas kembali memeluk umi dan menangis, “Jika ini yang membuat umi dan ayah bahagia. Apapun akan Alya lakukan untuk menggapai surga kalian.”
“Bagi umi, kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami.”
Melepas pelukan, umi lalu memberikanku sebuah lembaran kain yang digunakan untuk menutupi diriku sebelum aku mengetahui siapa orang yang akan meminangku. Bismillah, In sha Allah ini jalan yang terbaik untukku. Aku berjalan keluar dari kamar dengan dituntun umi, menuruni anak tangga hingga sampai di bawah tepat dihadapan keluargaku dan keluarga para tamu yang hadir pagi itu.
Jantungku semakin berdebar kencang, aku sedikit sulit bernafas karena perasaan gelisah yang menyelimuti diriku. Ya Allah.. tenangkan diri ini! Tak hentinya ku bersholawat guna menenangkan hatiku.
Saat waktunya tiba, kain penutup yang ku kenakan pun dibuka. Aku masih belum berani memandang seseorang yang sekarang tengah berdiri tepat menghadap padaku. Mata masih terpejam takut. Dengan bismillah, ku buka perlahan kedua mata ini.
“Allahhu Akbar..” betapa terkejutnya diriku. Pria yang mengkhitbahku adalah ia yang selama ini aku kagumi. Lahaulawallaquaataillabillah, apa aku sedang berkhayal, ataukah bermimpi? Ya Allah, sungguh inikah pilihanmu untukku? Dialah calon imamku? Dialah masa depanku? Sungguh dia kah ya Allah?
Aku terdiam kaget melihat pria yang berdiri sejajar di hadapanku. Mengenakan batik rapi seragam dengan keluarganya, berpeci hitam, berdiri gagah tersenyum padaku. Hakim Abdullah, idola kaum hawa mengkhitbah ku. Allahhu Akbar... tak ada yang tahu rencana Allah selanjutnya. Hal mustahil akan jadi nyata atas kehendak-Nya.
Aku terdiam memandanginya. “Assalamualikum...”salam Hakim kepadaku.
Aku masih tidak percaya, pandanganku masih terfokus untuk meyakinkan hati ini bahwa dihadapanku benar-benar Hakim Abdullah. Sampai-sampai salam yang Hakim ucapkan tak cukup ampuh meruntuhkan lamunanku. Tangan umi pun bergerak menyadarikan ku dengan kejahilannya menggoyangkan sedikit hidungku. Aku lantas tersadar, “Sudah cukup kekagumannya. Apa kamu ndak mau menjawab salam dari Hakim?” tanya umi terhadapku.
“Wa.. waalaikumsalam, Hakim.” jawabku dengan gerogi sambil sedikit  tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Semua tamu tertawa kecil melihat diriku yang terbatah-batah menjawab salam dari Hakim.
Setelah saling mengenal satu sama lain. Acara selanjutnya pun terlaksana. Diacara yang terakhir, sesudah pemasangan cincing pertunangan keluarga Hakim menanyakan perihal tanggal dan hari terbaik pernikahan beserta maskawin yang aku inginkan.
Karena kedatangan mereka yang menurutku mendadak, aku belum bisa menentukan maskawin apa yang aku inginkan. Yang pasti seperangkat alat sholat beserta surah ar-rahman yang akan dilantunkan Hakim kelak di hari pernikahan adalah impianku, untuk selebihnya aku pasrahkan pada keluarga Hakim hantaran apa yang hendak dijinjing kelak dihari pernikahan. Aku berharap semoga Allah meridhoi apa yang sedang dan akan berlangsung antara aku dan Hakim.
 Perasaan bahagia tak bisa aku sembunyikan, lagi-lagi Allah berikan kejutan yang indah diluar dugaanku. Hakim Abdullah adalah hadiah terbaik Allah yang namanya kini Allah tuliskan dalam hatiku. Dia adalah takdirku, pria yang bertahun-tahun Allah persiapkan untuk dipasangkan denganku. Begitu sayangnya Allah dengan Hakim, hingga tingkah Hakim kepadaku pun tak tertebak bahwa ia menaruh hati padaku. Benarkah aku? Hakim adalah hayalanku yang nyata, kini aku tak lagi harus berbohong menyembunyikan perasaanku padanya.
Oh Allah... kini Kau pertemukan aku langsung dihadapannya. Sesosok lelaki terbaik pilihanmu. Alhamdulillahi rabbil’alamin. Sungguh, aku hanya ingin berdoa semoga cinta kami menambah kecintaanku pada-Mu.

###



MUSIM 11
Beberapa hari setelah acara pertunangan itu. Masing-masing dari kami sibuk mengurusi kelanjutan pendidikan, kami terpisah sementara untuk menggapai tujuan masing-masing. Setelah lulus S1 Hakim melanjutkan kuliah di Turki dan aku melanjutkan S2 ku di UGM. Selama satu tahun lebih kita LDR an (Long Distance Relationship). Hingga akhirnya, setelah menyelesaikan tesisnya di Turki. Hakim kembali ke Indonesia untuk menemuiku dan membicarakan lebih lanjut tentang hubungan kami.
Saat itu hari ramadhan, Hakim mengajakku berbuka puasa disebuah restoran dekat Masjid Raya Bandung. Pukul 04.00 Hakim menjemputku di rumah, ia berpamitan dan meminta ijin kepada orang tuaku untuk mengajakku pergi.
Mobil pun melaju menyusuri jalanan Kota Bandung di sore hari, tampaknya Hakim sedikit lupa tenang nama-nama jalan dan tempat-tempat di Kota Bandung. Aku membantu mengarahkannya hingga mobilpun ia berhentikan di sebuah taman. Kamipun turun dan berjalan kaki disekitaran taman sambil berbincang. Hakim yang lebih banyak bercerita perihal Turki kepadaku, tentang orang-orangnya, bangunan-bangunannya, hingga tentang kerinduannya akan masakan Indonesia ketika ia berada di Turki. Ia berjanji padaku, suatu saat ia akan mengajakku berlibur ke Turki.
Aku hanya tersenyum mendengarkan ceritanya. Alangkah beruntungnya diriku, Allah perkenalkan ku dengan seorang pria sholeh dan berpendidikan seperti Hakim.
Kami pun duduk disebuah kursi taman. Melihat lalu-lalang orang berburu takjil, melihat sekumpulan keluarga mengajak bermain anak-anaknya, melihat sekumpulan forum diskusi para remaja mengisi wantu sebelum berbuka.
“Alya?” panggil Hakim kepadaku.
“Iya?”
“Apa yang kamu pikirkan?”
Aku tertawa kecil merespon pertanyaan Hakim. “Kenapa tertawa?” tanya Hakim.
“Tidak apa-apa, lucu saja. Kenapa kamu bertanya tentang pikiranku sekarang?”
“Aku ingin tahu.”
“Itu saja?” tanyaku selidik. “Iya. Memang tidak boleh?”
“Tidak boleh, itu pikiranku biar aku saja yang memikirkan dan mengetahuinya. Kamu cukup memastikan kalo aku baik-baik saja.”
“Aku sudah pastikan kamu baik-baik saja, tapi aku belum memastikan kalau pikiranmu baik-baik saja.”
“Kamu sungguh ingin tahu sekali apa yang aku pikirkan sekarang?”
“Iya, aku ingin tahu. Jika kamu tidak keberatan, beritahu aku!”
“Baiklah, aku memikirkan anak-anak.”
“Anak-anaknya siapa?”
“Tidak tahu. Hakim, antarkan aku membeli coklat di supermarket, yuk!”
“Untuk apa membeli coklat?”
“Untuk aku berikan pada anak-anak, pasti mereka suka. Aku ingin memberikan coklat pada anak-anak disekitaran sini yang kurang mampu. Ya.. mungkin ideku konyol hanya memberikan sebuah coklat. Tapi, entah kenapa hari ini, itu yang aku pikirkan dan aku ingin lakukan. Kamu mau kan membantuku?”
“Baiklah, akan aku bantu. Jadi, sekarang kita ke supermarket?”
“Iya, ayo...!”
Kamipun berdiri dan berjalan menuju mobil untuk selanjutnya ke supermarket memberi coklat. “Kita hanya punya waktu tiga puluh menit untuk membeli dan membagikan coklat-coklat itu, sepuluh menit sebelum berbuka kita sudah harus selesai membagikannya.” kata Hakim menghitung perkiraan waktu yang dapat kami lakukan untuk membagikan coklat sebelum berbuka puasa.
“Kalo begitu, supermarket dari sini sepertinya lumayan jauh. Kita berhenti saja di mini market dan memoborong coklat yang ada, bagaimana?”
“Itu ide yang bagus.”
Mobilpun berhenti di sebuah mini market, dua mini market semua coklatnya kami borong. Selanjutnya, kamipun bergegas membagikan coklat-coklat itu kepada anak-anak yang berada di sekitaran pinggir jalan searah laju mobil kami, beberapa kantong telah habis. Masih tersisa satu kantong coklat, aku melihat ada segerombilan anak tengah berjalan pulang habis berjualan takjil di tepian jalan Kota Bandung. Kamipun turun dan menghampiri mereka untuk memberikan coklat-coklat itu.
“Assalamualaikum, adik-adik..”salamku kepada mereka.
“Waalaikumsalam, mau beli takjil kak?”
“Adik jual takjil apa?”
“Tinggal gorengan, kak. Yang manis-manis kebetulan sudah habis.”
Seorang anak kecil di sampingnya menyahut, “Yang manis-manis sudah pindah, kak.”
Aku bertanya, “Pindah kemana?”
“Pindah ke kakak yang manis.”adik itu mencoba bercanda dengan kami. Aku dan Hakim tak bisa menahan tawa mendengar celotehan anak kecil itu.
“Adik bisa saja. Kalau begitu, kakak beli gorengan lima ribu saja.”
“Siap kak, aku bungkusin.”
“Anak kecil yang berdagang disini banyak ya, dik?”
“Iya kak, kami inisiatif sendiri berdagang. Saat ramadhan, ada program di panti asuhan dimana anggota panti boleh memilih kegiatan yang bermanfaat salah satunya berdagang, dimana uang hasil berdagang nantinya sebagian akan kami tabung sendiri dan sebagian lagi untuk keperluan panti.”
“Wah.. hebat. Semoga dagangannya laris. Aamiin...”
Doa ku pun diamini Hakim dan anak-anak yang lain.
“Oh ya, kakak punya sekantung coklat untuk kalian berbuka puasa.”kataku sambil menyerahkan kantung tersebut kepada salah satu dari mereka.
“Wah... hari ini kita berbuka dengan coklat. Terima kasih banyak, kak. Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kakak. Aamiin...” doa mereka untukku dan Hakim.
“Aamiin...”kataku dan Hakim.
“Kakak permisi dulu, semoga kalian suka dengan coklatnya. Assalamualaikum...”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Betapa bahagianya raut wajah anak-anak itu menerima coklat pemberian kami. Puas rasanya ramadhan hari ini, berbagi kebaikan kepada anak-anak. Semoga ini termasuk bentuk syukur kami kepada Allah atas segala kasih sayang-Nya.
Usai membagikan coklat, kamipun menuju restoran tujuan awal kami untuk berbuka. Hakim telah memesan tempat sebelumnya, jadi ketika kami datang telah disediakan tempat sesuai yang Hakim pesan.
“Indah sekali tempatnya, kamu sendiri yang memilihnya?” tanyaku kepada Hakim.
“Iya, alhamdulillah kalau kamu suka.”
“Ku harap ramadhan ini adalah ramadhan terakhir kita berteman. Untuk ramadhan selanjutnya, semoga Allah meridhoi hubungan kita untuk saling menghalalkan.”
Hakim hanya terdiam mendengarnya. Beberapa saat hening, kemudian Hakim mengalihkan perbincangan, “Oh ya Al, tadi aku bertanya apa yang kamu pikirkan dan kamu telah menjawab kalau saat itu kamu tengah memikirkan anak-anak. Dan muncul pertanyaanku tentangmu lagi, kenapa pada saat puasa kamu malah memberikan mereka sebuah coklat? Kenapa tidak buku atau kitab saja?”
“Memang buku lebih bermanfaat untuk pengetahuan. Tapi, aku berfikir tidak semua anak-anak seperti mereka menyukai membaca, bahkan mungkin ada yang masih kesulitan membaca. Nanti malah bukunya dijual, atau lebih buruknya dibuang, dijadikan alas tidur. Oleh karena itu, agar semua anak-anak bahagia aku memberikannya coklat. Aku tahu kalau saat ini ramadhan, dan aku malah memberikan mereka coklat. Kenapa? Karena yang aku pikirkan saat itu adalah kita berbagi kebahagiaan, bukan sekadar memberikan coklat. Toh coklat juga baik kan untuk kesehatan, salah satunya mengurangi stres. Kamu juga harus banyak-banyak makan coklat, biar tidak stres.” kataku sembari bercanda dengan Hakim. “Kamu ini ada-ada saja,” katanya dengan ekspresi tawa di wajahnya. “... kamu wanita yang unik. Pemikiranmu sulit aku tebak. Aku jadi teringat Kisah Aisyah dengan Baginda Rasul.”, spontan aku menyahut, “Bisakah kelak kita seperti itu?”
Hakim terlihat kaget mendengar pertanyaanku. Namun, belum sempat menjawab terdengar adzan maghrib berkumandang, “Sudah adzan, mari berbuka!” kata Hakim kepadaku.
Ketegangan pun mencair seiring waktu berbuka tiba, kamipun berbuka dengan terlebih dulu memakan kurma, setelah itu menyantap hidangan utama yang telah kami pesan. Selesai berbuka, kamipun bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat maghrib.
Masing-masing dari kami bermunajad di masjid hingga isya’, dilanjutkan sholat isya’ dan tarawih di Masjid Raya Bandung. Setelah itu, kami pun pulang. Hakim mengantarkan ku pulang hingga bertemu orang tuaku.
Seusai membersihkan diri dan hendak beranjak tidur, handphonku berdering. Ternyata dari Hakim, akupun menjawabnya, “Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam warahamtullah,” jawab Hakim.
“Apa kabar Alya?” tanya Hakim seakan telah lama tak mengetahui keadaanku, padahal baru tadi sore kami bertemu. Aku lantas menjawab, “Alhamdulillah baik, ada apa?”
“Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu,”
“Apa?” tanyaku. “Tidak bisa lewat telephon,”
“Kenapa?” tanyaku. “Terlalu panjang penjelasannya,”
“Ya sudah, kapan?”. Sejenak, telephon sunyi. Lalu Hakim bersuara, “Tiga hari lagi aku akan datang ke rumahmu,” / “Kenapa harus menunggu tiga hari?” tanyaku mendesak.
“Soalnya besok aku mau ke rumah eyangku buat berpamitan kalau Senin aku akan balik ke Turki untuk diwisuda,”
“Kamu akan balik ke Turki secepat itu?”
“Kenapa? Aku tidak akan selamanya disana. Aku kesana cuma untuk diwisuda. Setelah itu mengurusi berkas-berkas mahasiswaku disana dan balik ke Indonesia.”
“Akan berapa lama di Turki?”
“In shaa Allah paling lama satu bulanan,” kata Hakim. Aku terdiam. “Halo? Alya?” suara Hakim membuyarkan lamunanku. “Iya,”
“Kamu baik-baik saja kan?” tanya Hakim.
“In shaa Allah aku baik-baik saja, akan aku tunggu tiga hari dari sekarang di rumahku.”
“Maaf, aku sudah membuatmu bersedih. Sudah membuatmu menanti sekian lama, dan..”
Belum usai ia berbicara aku menyelanya, “Tidak masalah bagiku, Allah ada bersama kita. Jadi serahkan semua kepada Allah, in shaa Allah akan baik-baik saja.”
“Aamiin. Baiklah kalau begitu, semoga Allah senantiasa menjaga kita.”
“Aamiin..” jawabku lirih. “Kalau begitu, sampai jumpa tiga hari lagi, Assalamualaikum warahmatullah.” Kataku sebagai penutup percakapan.
“Waalaikumsalam warahmatullahhi wabarakatuh.”
Berakhirlah perbicangan telephon malam itu. Ku letakan ponselku di meja, lantas beranjak untuk tidur. Dan pukul dua malam aku terbangun, bergegas berwudhu untuk melaksanakan tahajjud.
Dua raka’at tahajjud ku  tunaikan, bermunajad menanti subuh seusai mengasah hafalan dua juz malam itu. Lirihku berdoa di akhir munajad, “Ya Allah, Tuhan Sang Penguasa Malam, Sang Penguasa Hati. Jagalah kami, hamba dan Hakim Abdullah. Ridhoilah hubungan kami. Wahai Allah, jika hamba harus menunggu untuk waktu yang lama lagi. Maka, berikanlah hamba kesabaran, yakinkanlah hamba bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja. Aamiin...”
Adzan subuh berkumandang, dua rakaat qobliyah subuh ku tunaikan sebelum melaksanakan kewajiban sholat subuh. Berdzikir pagi sejenak, lalu aku keluar menikmati udara pagi yang masih sejuk. Tak jauh-jauh, hanya disekitaran halaman rumah, meregangkan tubuh dengan beberapa gerakan selama tiga puluh menit. Setelah ku rasa cukup, akupun kembali masuk ke rumah.
Saat pandanganku mengarah ke pintu gerbang, terlihat sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan rumahku. Aku mendekatinya, lalu membukakan gerbang. Orang tersebut asing bagiku. Tidak berpenampilan tukang pos, tapi membawa sebuah bingkisan cukup besar.
“Permisi, apa betul ini rumahnya Alya As-syifa?” tanya pemuda tersebut.
“Iya betul, dengan saya sendiri. Ada perlu apa, ya?”
“Saya diutus untuk menyampaikan bingkisan ini kepada Anda.” sambil menyodorkan sebuah kotak kepadaku.
“Oh, terima kasih.(menerima bingkisannya) dari siapa?”
“Anda bisa mengetahui pengirimnya setelah membuka bingkisannya.”
Ekspresiku langsung berubah, kenapa tak langsung menyebutkan namanya?Kenapa harus terlebih dahulu membuka bingkisannya?Aneh, gumamku dalam hati.
“Saya berani menjamin ini bukan suatu rencana jahat yang berusaha mencelakai Anda.”
“Siapa yang menduga seperti itu?” tanyaku ketus.
“Mungkin, Anda menduga-duganya.”
“Baiklah, saya terima kirimannya. Tapi, Anda harus berani jamin kalau bingkisan ini bukan berisi barang-barang yang mencelakai saya juga orang lain. Anda berani?”
“In shaa Allah berani, ini foto copi KTP saya. (menyodorkannya kepadaku) bisa menjadi jaminan, di atasnya sudah saya tulis juga nomor telephon saya. Bisa Mbak Alya pegang.”
Aku pun mengambil KTP nya sebagai jaminan keamanan.
“Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualiakum.” kata orang tersebut berpamitan untuk pulang.
“Waalaikumsalam warahmatullah.”
Pemuda itu pergi meninggalkanku, berjalan dengan mengendari sepeda motornya kearah perempatan jalan kemudian menghilang dari padangan setelah berbelok kearah kiri.
Aku lantas masuk kedalam rumah dan meletakkan bingkisan itu diatas ranjang kamarku, mengambil sebuah pisau kecil untuk membantuku membuka bingkisan tersebut. Kertas pertama telah terlepas, masih ada lagi pembungkus di kertas kedua yang langsung ku buka. Nampak, ada sebuah kotak hitam yang tak nampak isinya. Diatasnya ada sebuah surat beramplop merah. Ku ambil amplop tersebut dan ku buka selembar surat yang terlipat didalamnya. Ku baca, “Assalamualaikum... terima kasih telah menerima bingkisan dariku. Akan sangat terhormat jika pemberianku engkau manfaatkan sebaik mungkin. Wassalamualaikum.”
Tiba-tiba umi masuk dengan membawa hiasan bunga yang telah disusunya rapi, “Paketan dari siapa, Al?” tanya umi kepadaku.
“Tidak tertera namanya, mi. Tapi, Alya seperti mengenal surat ini. Alya sering mendapatkannya sejak SMA. Memang bukan surat teror yang membahayakan Alya, tapi sampai sekarang Alya masih belum tahu pengirimnya siapa.”
“Kok bisa? Sampai kamu kuliah pun masih juga mendapatkannya?”
“Iya, mi. Malah, sekarang si pengirimnya memberikan Alya bingkisan ini, baru kali ini surat beramplop merah disertai sebuah bingkisan. Entah apa isinya Alya tidak berani membuka.”
Umi meletakkan hiasan bunga iru diatas meja kamarku, dan beranjak duduk diatas ranjang mencoba membuka bingkisan tersebut, “Wahhh.. cantik sekali.”
“Emang apa isinya?” tanyaku pada umi yang telah membuka bingkisan itu. Umi lalu mengambil isinya, dan menunjukkannya padaku. Sebuah gaun berwarna crem dengan hiasan batik dan manik-manik, terlihat cukup mewah.
“Idolamu itu tahu sekali gaun terbaik untuk wanita, apa di dalam surat yang sudah kamu baca itu tidak ada ajakan dia untuk berkencan?” tanya umi menggoda.
“Umiii...”
Umi tertawa cekikikan setelah puas menggodaku. “Apa Hakim sudah tahu tentang ini?” tanya umi padaku. “Belum, Alya belum memberitaukannya.” Jawabku.
“Kapan diberitahukan padanya? Dia harus tahu ini, jangan sampai timbul salah sangka yang membuat hancurnya sebuah ikatan.”
“Na’udzubillahimindzalik... in shaa Allah segera Alya beritahukan padanya.”
“Baiklah, semoga Allah senantiasa melindungi kalian.”
“Aamiin..”
Umi lantas membiarkan gaun itu terhambar diatas ranjangku, lalu berajak meninggalkan kamarku. Usai pintu kamar tertutup kembali, bergegas aku mengambil handphonku dan mencari kontak Hakim untuk ku hubungi. Melalui pesan WhatsApp ku kirim tulisan padanya, “Assalamualaikum, Hakim. Sudah sampai? Aku ingin bicara sesuatu.”. Pesan tersebut terkirim segera dengan tanda centang 2 warna abu-abu yang mengartikan terkirim namun belum terbaca.
Aku menunggu panggilan dari Hakim, hingga pukul 16:00 pesanku masih belum ada jawabannya. Baru setelah sholat tarawih, handphonku berdering. Segera ku respon bunyi tersebut dengan menjawab panggilannya, “Assalamualaikum.” kataku.
“Waalaikumsalam warahmatullah, ada apa?” tanya Hakim kepadaku.
“Ada yang ingin aku bicarakan, penting. Apa kamu tidak sibuk?” tanyaku.
“Tidak, bicara saja panjang lebar. Aku akan mendengarkannya.”
“Aku bingung mau memulainya darimana.”
“Kamu udah mulai perbincangan tadi dengan salam.” kata Hakim yang mencoba membuat lelucon. “Bukan memulai itu, memulai bercerita.” kataku.
“Ya sudah, dari orientasi..”
“Hakim...”
“Loh, benar kan sebuah cerita dimulai dari orientasinya dulu?”
“Kenapa ndak sekalian dari judulnya?”
Terdengar tawa kecil Hakim disambung berkata, “Baiklah.. baiklah, maaf. Mau bicara apa?”
“Jadi begini, aku sering mendapat kiriman surat beramplop merah sejak SMA hingga sekarang. Isinya bukan pasal teror-teror yang membahayakan, tapi yang jadi masalah bagiku itu tidak mengetahui siapa pengirimnya hingga sekarang. Aku sudah coba mencari tahu, tapi selalu gagal. Dan, tadi pagi aku mendapat sebuah bingkisan berisi gaun dari orang tersebut. Menurutmu bagaimana?” telephon sejenak sunyi. Aku mencoba memastikan semua baik-baik saja, “Halo.. Hakim? Kamu masih mendengarkan, kan?”
“I.. iya, aku masih mendengarkan,” jawab Hakim.
“Bagaimana?” tanyaku kembali. “Bagaimana apanya?”
“Bagaimana pendapatmu tentang apa yang aku alami tersebut?”
“Ya berdoalah! Allah akan segera memberitahumu orangnya.”
“Tapi aku ingin tahu sekarang, kamu tahu siapa orangnya?”
Telephon kembali hening sejenak, aku kembali memastikan, “Hakim?”
“Iya? Aku masih mendengarkan.”
“Kamu kenapa?” tanyaku. “Aku baik-baik saja, mungkin sedikit kelelahan.”jawabnya.
“Ya sudah, kita lanjutkan perbincangan lain kali lagi. Beristirahatlah! Salam buat keluarga disana. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Perbincangan dengan Hakim melalui telephon tersebutpun berakhir, namun kegelisahan ini tak ikut berakhir. Aku semakin dibuat penasaran tetang identitas pengirim tersebut.
Beberapa jam telah berlalu, mata ini masih enggan terpejam. Aku berusaha untuk tertidur dengan membuat diriku lelah menata kamarku. Namun, masih tetap tidak bisa. Dan akhirnya, hal tersebut berlangsung selama dua hari berturut-turut.
Raut wajahku terbaca oleh umi dan kakakku yang saat itu tengah berbincang di ruang tengah, mereka mengkhawatirkan kondisiku. Disarankanlah aku untuk berobat, namun aku enggan menurutinya. Menurutku, semua ini tak akan lantas sembuh dengan obat-obatan dokter. Aku hanya perlu tahu siapakah si pengirim surat-surat beramplop merah tersebut. Sudah cukup, itu obat yang tepat.
Hingga akhirnya, keadaanku diketahui oleh Hakim. Umi yang memberitahukannya lewat telephon. Dan sepulangnya Hakim dari Klaten, rumah eyangnya. Ia lantas bertamu ke rumahku, dan kami berbincang di ruang tamu.
“Kamu kenapa?” tanya Hakim.
“Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja kok.”
“Ketahuan sekali bohongnya.” kata Hakim memarahiku.
“Baiklah, semua ini gara-gara aku penasaran sama si pengirim surat beramplop merah tersebut. Aku hanya ingin tahu siapa dia, aku tidak akan memarahinya. Aku hanya ingin berkenalan, minimal tahu namanya lah. Meskipun tidak harus bertemu.”
“Jangan menyiksa dirimu dengan mencaritahu tentang dia, kamu harus jaga kesehatanmu. Sebulan setelah lebaran kita akan menikah, dan aku ingin pastikan kamu baik-baik saja hingga bersamaku.”
“Bantu aku mencaritahu tentangnya.” kataku memohon pada Hakim.
“Aku akan membantumu. Sekarang, giliran aku yang bercerita. Kamu harus mendengarkannya baik-baik.”
“Baiklah, aku akan mendengarkannya.”
“Maafkan aku, aku telah menyiksamu dengan tingkahku selama ini. Alya, ada sebuah rahasia besar yang ingin aku beritahukan padamu.”
“Apa?” tanyaku singkat. Aku jadi takut, rahasia apa yang ingin Hakim beritahukan? Apa ini masalah kita, atau keluarganya. Atau kehidupannya. Aku menduga-duga, dan Hakim melanjutkan berbicara. Namun, sebelum berbicara, ia mengeluarkan sebuah surat yang terlipat dari balik jaketnya, lantas membacanya hingga aku mendengarnya, “Assalamualaikum.. Duhai Akhwat yang ku kagumi. Takkah kau lihat.. dimalam yang tenang ada sebuah rembulan yang bersinar begitu terang. Yang ingin diperhatikan setiap pasang mata. Dan.. dibawah sinarnya, ada satu orang yang menantikan sesosok bidadari tuk menemaninya menikmati anugrah Sang Kuasa. Itulah diriku. Aku terdiam dalam sebuah penantian. Aku diam menyakini sebuah pilihan.. pilihan yang menyakut hati juga kehidupan. Karena aku yakin, aku tak salah memilih diam sebagai cara tuk mencintaimu, diam tuk menjagamu, diam dalam memperjuangkan cintamu. Dan saat aku merindukan mu, aku pun juga diam. Diam dengan hati yang berdoa kepada Allah, “Ya Allah.. aku merindhukannya.. dia yang ku perjuangkan cintanya. Atas nama Mu, sampaikan rindhu ini padanya,” Duhai Akhwat yang ku kagumi. Maaf, selama ini aku telah berbohong dengan berlagak biasa dihadapanmu. Itu karena, aku ingin menjaga cinta ini tetap murni hingga Allah menyatukan kita. Ku mohon, anggaplah..anggaplah saat ini adalah sebuah pertemuan yang tertunda. Dan.. percayalah!! Allah telah persiapkan waktu yang tepat, yaitu saat aku mendatangi rumahmu bersama keluargaku. Duhai Akhwad yang ku kagumi, jadikan aku imam dalam hidupmu!”
Ku perhatikan dan ku dengarkan dengan seksama kata demi katanya, dan tanpa ku sadari air mataku menetes. Mulutku bergetar, lantas keluar dari mulutku sebuah pertanyaan, “Itu surat yang pernah aku baca, surat untuk siapa?”
“Untuk akhwat yang ku kagumi sejak tujuh tahun lalu.”
“Siapa dia?”
“Dia yang menyinggahi sebagian ruang hatiku sekarang. Aku masih mencintainya.”
Tubuhku kaku, mulutku membisu. Tak tahu harus berkata apa lagi. Sebagian pikiranku dikuasai kecemasan akan runtuhnya hubunganku dengan Hakim. Ucapan istighfar berulang kali tersebut dalam hatiku. Aku berusaha mengendalikan kecemasanku.
“Sebentar, boleh ku baca suratnya?” kataku padanya.
Hakim menyerahkannya padaku, lalu ku baca dengan seksama surat tersebut meskipun dengan perasaan hati yang tak karuan. Ku selesaikan hingga pada bagian akhir aku menemukan ketidakcocokan tulisan di dalam surat dengan apa yang tadi diucapkan oleh Hakim, “Sebentar, tadi kamu bilang yang terakhir, jadikan aku imam dalam hidupmu!. Tapi disini tertulis, izinkan aku mengkhitbahmu?”
“Akhwat tersebut telah aku khitbah. Dan sebentar lagi akan ku nikahi.”
Aku terdiam, lalu bertanya dengan nada suara gemetar,  “Siapa maksudmu?”
“Dirimu! Kaulah Akhwat yang ku kagumi selama ini,”
Tubuhku melemas, aku tertunduk menyeka air mata yang sedari tadi tertahan keluar sembari mengucap takbir, “Allahhu Akbar.. Allahhu Akbar.. jadi, dulu kau sengaja menyelipkan surat itu dalam bukuku?”
Hakim mengangguk. Aku lanjut berkata, “Pantas waktu aku kembalikan surat itu kamu tidak marah.”
“Maafkan aku.. tolong maafkan aku...”
“Kejutan yang luar biasa, kamu berhasil membuatku ketakutan setengah mati mengira kau menyukai wanita selain aku. Dan ternyata, kau menjebakku.”
“Aku tidak menjebak, hanya berusaha untuk berkata jujur.” kata Hakim yang mengelak untuk disalahkan.
“Terserah, apa namanya itu. Yang pasti, tadi aku cukup ketakutan.”
“Itu baru satu. Masih ada lagi.”
“Apa? Masih berapa banyak lagi?”
“Kalo yang satu ini akan menjawab penasaranmu.”
“Siapa orangnya?” tanyaku mendesak Hakim.
“Berjanjilah terlebih dulu kalau semuanya akan menjadi baik-baik saja setelah aku memberitaukannya,”
“Aku berjanji.”
“Baiklah. Jadi yang selama ini si pengirim surat beramplop merah adalah... aku sendiri.”
“KAMU?!” aku sangat terkejut. Tak pernah menduga sama sekali, kalau Hakim adalah aktor dibalik surat-surat itu. “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?” tanyaku padanya.
“Iya, aku menunggu hingga saat yang tepat itu datang. Aku ingin mengenalmu melalui perantara surat itu. Maafkan aku.”
“Allahhu akbar.. aku tidak menyangka sama sekali, jika kau mengagumiku jauh sebelum aku mengenalmu. Apa istimewanya diriku dihadapanmu? Bukankah banyak wanita yang lebih baik dariku dekat denganmu. Tapi, kenapa kau memilih seorang Alya sebagai sosok yang kau kagumi? Padahal imanku jauh dibawahmu. Apa yang membuatmu tertatik kepadaku?”
“Wallahu a’lam, inilah permainan Allah. Tak ada yang mengetahuinya.”
“Aku sungguh tidak menduga sama sekali, tentang suratmu dan tentang amplop merah itu. Semua itu kamu yang melakukannya, Hakim Abdullah. Berarti, bingkisan pagi itu pun juga darimu?”
“Iya, aku yang mengirimkannya untukmu.”
“Lalu, kenapa waktu aku menelphonmu dan memberitahukannya perihal bingkisan itu kamu tidak mengakuinya?”
“Kau sudah tahu dari awal, kalau ini adalah kejutan. Dan aku berhasil membuatmu terkejut.”
“Masya Allah, sungguh hanya Allah yang tahu semua ini adalah perbuatanmu.” Kami terdiam sejenak. Aku menenangkan diriku yang benar-benar tak habis pikir atas semua yang telah terjadi tentang aku dan Hakim.
Aku kembali mengawali perbincangan, “Tapi, aku juga harus berterima kasih kepadamu. Berkat surat-surat itu, aku tersadar bahwa manusia diciptakan untuk saling mengenal dan untuk berpasang-pasangan. Surat itu juga mengefek padaku cukup besar. Untuk pertama kalinya, aku mengagumi seorang pria selain ayahku. Kau tahu siapa orangnya?”
“Siapa?” tanya Hakim kepadaku. “Dirimu. Ya, dirimu lah pria pertama yang ku kagumi. Namun, saat aku tak sengaja mengetahui isi surat itu. Kekaguman ku terhadapmu pupus, ditambah aku menduga kau berta’aruf dengan Aini. Akhirnya aku memilih mundur perlahan, seorang Hakim Abdullah mustahil bisa begitu akrab dengan Alya Assyifa. Itulah yang terbesit dalam pikiranku saat itu. Aku hampir saja menyerah, namun kau datang dengan membawa sebuah perubahan baik yang sekarang terjadi padaku. Masya Allah.. Allah Maha Tahu. Ia lebih tahu apa yang dibutuhkan hambaNya. Dan, Allah menunjukkan padaku, bahwa aku membutuhkan sosok dirimu.” aku mengusap air mata yang telah mengalir membentuk aliran sungai kecil membasahi wajahku.
“Tulang rusuk dan pemiliknya tak akan pernah tertukar, dan akan bersatu pada saatnya. Terbukti, kaulah tulang rusukku yang telah hilang selama ini. Allah yang melakukannya, semua yang terjadi adalah sekenario Allah. Dan keyakinan pada-Nya lah yang membuat semuanya berakhir nikmat dan indah. In shaa Allah.”
Tak ada kata yang keluar lagi dari mulutku selain isak tangis dalam perbincanganku dengan Hakim.
Terjawab sudah teka-tekiku, tentang surat beramplop merah, tenang pengirimnya, tenang alasan yang menyertainnya, dan semua yang ternyata Hakim lah pelakunya. Bersama Allah ia telah rencanakan semuanya, dan tak sedikitpun aku mengetahui. Hingga akhirnya, Allah telah siapkan waktu yang tepat untuk aku mengetahui semua ini. Doa-doaku telah berakhir dengan indah atas kuasa Allah. Begitupun rahasia tentang jodoh yang in shaa Allah Hakim Abdullah adalah pilihan terbaik dari Allah untukku.

###




MUSIM 12
Cinta itu ada, dan nyata. Meskipun seseorang sengaja menganggapnya mustahil. Tapi, cinta selalu ada disetiap diri manusia, sekalipun orang tersebut kejam. Tapi, kita harus ingat! Allah Maha Adil. Allah ciptakan hati yang keras untuk pria, tapi Allah ciptakan hati yang lembut untuk wanita. Disitulah keadilan Allah terlihat. Kerasnya hati pria, akan lunak dengan kelembutan kasihsayang wanita.
Dan untuk menemukan cinta tersebut. Percaya adanya Tuhan, percaya kuasaNya, percaya keadilanNya, dan percaya CintaNya adalah kunci menemukan cinta sejati yang Tuhan telah siapkan. Percayalah! Bahwa Tuhan telah menciptakan makhluknya dengan berpasang-pasangan. Seperti yang telah dijelaskan dalam Al-quran surat Adz-Dzariyaat ayat 49, yang artinya : “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.”

SELESAI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam Ke-27 Ramadhan

Yang Terbaik Dari-Nya