Sahabat

 


Disebuah desa di pinggiran kota besar, hidup seorang gadis bersama ibunya. Setiap pagi mereka mengayuh sepeda menuju kota untuk tujuan masing-masing, ibunya berjualan kerajianan, dan anaknya bersekolah di SMA Pelita.
Namanya Aini, gadis sederhana yang menggeluti dunia sastra ini berhasil bersekolah di kota karena kegigihannya dalam belajar dan menabung. Setiap hari Senin dan Kamis, ia  memilih berpuasa guna menyisihkan uang sakunya. Aini bukanlah gadis yang menjadi primadona di sekolah. Ia sadar, dapat belajar di sekolah impiannya ini sudah cukup menjadi kebanggannya dan orang tuanya.
Tidaklah mudah bagi Aini untuk menyesuaikan kehidupan di kota besar. Karena sekolahnya bukan sekolah tempat anak-anak dengan ekonomi sepertinya, justru mayoritas siswanya adalah anak dengan hidup yang berkecukupan. Hal ini tak lantas membuatnya minder dan dikucilkan di sekolahnya. Aini mencoba beradaptasi dengan mengikuti sebuah organisasi sekolah yang berkecimpung dalam dunia seni. Dari situ, Aini mendapatkan teman yang seminat dengannya dalam hal berpuisi, yaitu Rara.
Ketika sekolah hendak mengadakan sebuah pamrean karya sastra. Aini dan Rara sangat berantusias mengikutinya. Mereka berlomba mengumpulkan karyanya lebih dulu untuk dapat ikut diseleksi.
Satu... dua hari telah berlalu, hari ini adalah hari pengumuman sepuluh karya puisi yang lolos seleksi untuk dapat dipamerkan di Pameran Sastra SMA Pelita. Tujuh nama telah disebut, tiga puisi diantaranya hasil karya Santi(panitia pelaksana pameran), dan sebuah puisi hasil karya Rara. Nama Aini masih belum terdengar. Ia gelisah, harap-harap cemas men-dengarkan tiga nama terakhir.
“Tenanglah, An! In shaa Allah lolos.” kata Rara mencoba menyakinkan Aini.
“In shaa Allah, Ra. Semoga saja begitu.” jawab Aini yang telah sedikit pesimis.
Tiga nama terakhir telah disebut, total sepuluh nama yang disebut tidak ada satupun nama Aini yang mereka panggil. Aini menjauh dari kerumunan orang. Berlari menuju tempat sepi, lalu menangis. Menyalahkan dirinya sendiri, membayangkan betapa bodohnya ia tidak mampu menciptakan puisi yang baik. “Untuk apa puluhan puisi telah aku buat sejak dulu? Jika untuk mengikuti seleksi seperti ini saja aku gagal.” kata Aini marah kepada dirinya sendiri.
“Kegagalan itu bukan untuk disesali, tapi untuk evaluasi. Kemudian, memperbaiki. Itu lebih baik.” nasehat Rara kepada Aini.
“Kamu lolos Ra, berarti karyamu bagus. Sedangkan aku, katakan padaku Ra! Apa aku tidak pantas menjadi seorang juara?”
“Bicara apa kamu. Semua orang memiliki peluang untuk menjadi juara. Ayolah.. jangan seperti ini! In shaa Allah, diluar sana akan ada orang yang mengagumi puisi-puisimu dan menunggu karya-karya terbaikmu. Jika bukan disini, disanalah kau akan jadi pemenang.”
“Ketika semuanya menertawaiku, kau yang bersedia menjadi tamengku. Ketika semua orang menghindariku, kau justru berusaha mendekat dan berteman denganku. Lalu ini, ketika aku sudah tidak percaya pada kemampuanku sendiri, kaulah satu-satunya orang yang yakin aku mempu melakukannya. Kenapa, Ra?”
“Aku sahabatmu. Inilah gunanya sahabat, aku akan selalu mendukung langkah baikmu, dan kita akan menitih keberhasilan bersama. Bismillah.”
Aini dan Rara saling melengkapi, Rara berhasil mengembalikan semangat Aini. Kini, Aini tak lagi kecewa akan kegagalan yang telah mengalaminya. Ia melanjutkan kembali  bakatnya berpuisi bersama Rara yang mencoba hobi barunya, yaitu bernyanyi.
“Sudah berapa karya sastra yang kamu buat dan kamu diamkan begitu saja?” tanya Rara.
“Aku diamkan? Maksudnya?”
“Ya.. cobalah karyamu itu kamu kirim ke penerbit. Siapa tahu mereka tertarik, belum pernah mencoba kan?”
“Mengirimkannya ke penerbit? Yang benar saja kamu. Ikut seleksi di sekolah saja tidak lolos, mau dikirimkan ke penerbit. Apa bagusnya puisiku ini? Rara.. Rara...”
“Apa salahnya mencoba. Atau begini saja, aku buat puisimu itu menjadi lagu. Lalu nanti direkam untuk di up load di media sosial. Kita lihat tanggapan publik nantinya. Sekalian, aku ingin menguji kemampuanku bermusik.” kata Rara dengan santai melanjutkan bermain gitar di gazebo sekolah.
“Terserah kamu saja lah.” jawab Aini.
Akhirnya, Ainipun mengikuti usulan Rara. Mereka kemudian mempersiapkan segala kebutuhan untuk proses perekaman. Setelah siap dengan Rara yang menyanyikan puisi Aini, videopun dibuat. Tiga menit, lebih lima detik durasinya. “Serahkan padaku, biar aku yang urus semuanya. Kau akan ku kabari setelah tiga hari video ini di up load.” kata Rara kepada Aini.
“Baiklah, terima kasih Ra.”
“Sama-sama”
Setelah Rara memposting video itu ke vlog pribadinya, banyak orang yang menyukai video tersebut. Ada yang sebagian memuji suara Rara, dan sebagian lainnya mengagumi keindahan puisi Aini. Hingga seorang penulis pun ikut mengomentari postingan tersebut, ia ingin menemui sang pencipta lirik lagu yang telah dinyayikan oleh Rara.
Aini ditemani Rara pun bertemu kak Gani, sang penulis yang tengah mempersiapkan penerbitan bukunya, “Koleksi Klasik”. Sebuah buku berisi kumpulan puisi dari banyak orang yang telah melewati seleksi begitu ketat untuk dapat mengisi halaman buku tersebut, tak sembarang karya dapat terpampang pada lembaran buku itu. Namun, Aini ditawari langsung kak Gani mengisi mengisi lembaran bukunya dengan dua judul puisi. Tanpa berpikir panjang, Aini menyetujui penawaran tersebut. Puisinya pun ikut menjadi bagian Koleksi Klasik bersama dengan puluhan puisi terbaik lainnya.
Bersama Aini diacara peluncuran buku “Koleksi Klasik” kak Gani, Rara didaulat menjadi bagian acara tersebut dengan menyanyikan lagu yang liriknya berasal dari puisi karya Aini. Suaranya yang merdu, dan kelihaiannya memainkan gitar berpadu dengan indah menghasilan lagu yang mampu membuat tamu yang hadir bertepuk tangan mengagumi penampilan Rara.
Pada akhirnya, persahabatan Aini dan Rara menunjukkan bahwa sahabat adalah mereka yang tak pernah meninggalkan apapun keadaan kita. Mereka selalu ada bukan karena keinginan kita, tapi karena Tuhan menjadikan sahabat sebagai salah satu perantara kasih sayang-Nya. Percayalah! Ada tempat yang Tuhan persiapkan untukmu, sang juara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam Ke-27 Ramadhan

Yang Terbaik Dari-Nya