Monolog 3
[Monolog] Ibu Membacanya
Ia membebaskan
cerita mengalir dengan judul yang tertulis “Tidak Ada Judul”. Ia juga telah berpesan
kepada sang Ibu untuk membacanya ketika tulisannya selesai. Tak lupa, ia pun meminta
tulisannya dikomentari, agar cerita-cerita berikutnya dapat lebih baik lagi.
Kira telah duduk di depan meja yang
di atasnya terdapat selembar kertas dan bolpoin bertinta hitam. Hampir 20 menit
dirinya hanya memandangi apa yang ada di hadapannya itu, seraya pikirannya
menyusuri lambirin imaji yang setiap cabangnya menyuguhkan panorama beragam,
tapi Kira kebingungan memilahnya. Kertas dan bolpin itu masih terdiam hingga
menit ke-30.
Suara ketukan pintu terdengar ramah,
Kira langsung dapat menebak sosok ibulah yang ada di balik pintu itu. Ia
bangkit, lantas membuka pintu kamarnya dan membiarkan sang Ibu untuk masuk.
“Ibu sudah menyelesaikan bacaan buku yang Kira bagi ke ibu dua hari lalu.
Sekarang, sesuai instruksi Kira. Apa yang ingin Kira tunjukkan ke ibu?” tanya
sang Ibu menagih ucapan Kira yang ingin menunjukkan sesuatu padanya.
Dengan memegang selembar kertas Kira
mengatakan, “Cerita Kira belum tertulis ketika ibu sudah menyelesaikan buku
bacaan yang Kira bagi.” Sang Ibu lantas mengambil kertas dalam genggaman Kira, Kertas
itu masih kosong.
Melihat Kira yang berdiri murung
karena kecewa belum menuliskan cerita apapun untuk ibunya baca, “Kesinilah Nak!
Temani ibu duduk dulu.” Perintah sang Ibu. Kira kemudian duduk di samping
ibunya yang masih memegang kertas kosong itu. “Tidak apa-apa, Kira belum
menyelesaikan kejutannya, ibu akan menunggu sampai Kira siap menunjukkannya.
Karena memang sepertinya, ibu yang terlalu bersemangat untuk melihat kejutan
ide-ide cantik Kira, makanya ibu cepat sekali menyelesaikan bacaan buku itu.
Isinya bagus, Ibu suka buku yang Kira bagi. Kira sendiri udah membacanya?”,
Kira menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa ia telah lebih dulu membaca buku
itu sebelum diberikan kepada ibunya.
Tiba-tiba Kira berkata, “Bu, Kira sudah terpikirkan
sesuatu untuk Kira tulis di kertas itu.” Sang Ibu sedikit terkejut, namun juga
sedikit lega karena putrinya yang murung kembali tersenyum. Tanpa berkata
apapun, ibu kemudian mengembalikan kertas kosong itu kepada putrinya.
TIDAK ADA JUDUL
Tuhan telah memperkenalkan kenikmatan kecil di surga
dengan kehadiran bidadari yang menjelma dalam wujud “Ibu”. Terima kasih, telah
menyediakan tempat paling nyaman dalam rahimmu sebelum dunia menerima
kehadiranku. Terima kasih untuk waktu kurang lebih sembilan bulan bersedia ku
repotkan. Bahkan hingga detik ini pun, keberadaanku di dunia ini masih saja
merepotkanmu. Maafkanlah Aku. Sungguh, Aku sangat menyayangimu hingga Tuhan pun
tahu hadiah apa yang tepat untuk Ibu, yaitu keindahan surga dengan kenikmatan
yang tak terbayangkan oleh siapapun. Dan Aku akan selalu mendoakan ibu untuk
itu.
Komentar
Posting Komentar