November(jumpa)


November. Sebuah ‘tugas negara’ mengharuskannya melakukan observasi ke beberapa tempat, melakukan survey dan pemetaan hingga analisis untuk menghasilkan sebuah laporan yang sempurna. Meskipun, sesempurna menurutnya belum tentu tak ada celah kesalahan bagi pihak yang akan menilai laporannya. Tapi ia tetap berusaha mengerjakan dengan sebaik mungkin.

Beberapa kali susunan laporannya direvisi, bertemu beberapa orang untuk diwawancarai, mengikuti kegiatan untuk mengobservasi, dan terkadang menghabiskan malam hingga subuh untuk menyusun laporan. “Kekuatan saya sampai mana? Kemampuan saya sampai mana?” begitulah kiranya ia menyemangati diri sendiri untuk bertahan dan segera menyelesaikan apa yang menjadi tugas serta tanggung jawabnya. Seperti sebuah tanangan, ia berusaha menanggapi positif apa yang sering memicu setiap orang untuk sambat.

Malam itu, ia memenuhi janji dengan seorang narasumber untuk diwawancarai. Tepat setelah selesai sholat maghrib kepada ayahnya ia kemudian berpamitan, mengayuh sepedanya menuju sebuah mushola yang telah dipenuhi anak-anak yang hendak mengaji. Suasana itu juga bagian dari data laporannya, observasi kegiatan mengaji dan mewawancarai seorang guru ngaji menjadi agendanya malam itu, di tempat itu.

Dari pintu mushola seorang guru ngaji yang ramah menyambut kedatangannya dengan penuh hangat, mempersilahkannya untuk duduk dan menanyakan beberapa pertanyaan yang dimaksudkan untuk mempermudah proses observasi dan wawancaranya. Ia dengan paduan yang telah dibawa kemudian menyodorkan selembaran kertas untuk dapat dibaca guru ngaji seraya memberikan penjelasan secara lisan. Dalam waktu singkat, guru ngaji tersebut memahami isi dari selembaran tersebut, kemudian mempersilahkannya mengambil data selama kegiatan mengaji berlangsung.

Setelah selesai melakukan observasi, ia melanjutkan sesi wawancara kepada guru ngaji. Lagi-lagi, atas keramahan yang didapatnya dari guru ngaji tersebut mampu membuat sesi wawancara berlangsung dengan santai tetapi tetap dapat memenuhi data-data yang diperlukan untuk laporannya. Tanpa sadar, obrolan antara ia dan guru ngaji tersebut berlanjut menjadi sharing santai di luar topik wawancara ketika jarum jam menunjukkan pukul 18.45 WIB.

Awalnya saling ngobrol seputar kesibukan, kemudian mengarah pada pertanyaannya terhadap suatu hal yang ingin ia ketahui dari sudut pandang agama menyikapinya. Guru ngaji kemudian memberikan penjelasan singkat, disambung sebuah nasehat, “Kamu tidak boleh terlalu tertutup, coba terbuka sedikit tetapi jangan terlalu membuka hingga membiarkan setiap orang dapat masuk seluasa. Siapapun yang mengetuk, sambut hangat dan berikan kesempatan ia untuk menyampaikan keperluan sambil kau jamu ia secukupnya dengan apa yang telah kau miliki.” Ya, nasehat itu membekas. Pengalaman yang disampaikan oleh guru ngaji ternyata hampir sama dengan apa yang ia alami. Sehingga malam itu sharing yang berlangsung singkat sangat bermakna untuknya.

Tidak cukup sampai di situ, agendanya jam 8 malam dilanjut dengan wawancara kepada tokoh agama setempat. Maka, setelah berpamitan kepada guru ngaji ia kemudian menuju ke rumah sahabatnya yang sebelumnya telah bersedia untuk membantu melakukan wawancara dengan tokoh agama tersebut.

Namun, kondisi hujan kemudian menunda sejenak jadwal wawancaranya dengan tokoh agama setempat, dan membuatnya berteduh beberapa saat di rumah sahabatnya sambil mengobrol. Memang tidak cukup banyak yang diobrolkan, tetapi karena sudah cukup tahu bagaimana ia, akhirnya sahabatnya berkata, “Kau sebenarnya butuh seseorang, meskipun dalam padanganmu ‘mencari teman bercerita itu siapapun bisa tetapi mencari teman bercerita dan dapat dipercaya itu tak bisa siapapun saja.’ Aku tahu kau mampu menghadapinya sendiri dan itu sudah kau buktikan, tapi jika ketidakpercayaanmu tak segera kau atasi itu akan jadi masalah. Maka, setidaknya kau butuh seseorang yang bisa dengannya kau tak mengkhawatirkan ceritamu hanya sekedar omong kosong. Pasti ada seseorang itu yang akan berhasil membuatmu percaya jika di dunia ini kau membutuhkan kehadirannya.” Setelah mendengar sahabatnya berkata seperti itu, ia menjadi lebih sedikit berbicara hingga hujan reda pukul 8.15 malam. Lalu ia bersama sahabatnya kemudian menuju ke rumah tokoh agama setempat untuk wawancara.

Yang menjadi kuasa-Nya, selang beberapa hari setelah perbincangan malam itu dengan guru ngaji dan sahabatnya. Pada pengujung November, ia berjumpa dengan seseorang yang seiring berjalannya waktu masih didiskusikannya dengan Tuhan untuk yang terbaik. Yang mengetuk… dan mencoba meraih percayanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam Ke-27 Ramadhan

Yang Terbaik Dari-Nya