(Januari)ndu

“Jika orang merasakan hadirmu saat melihatku. Bagaimana mungkin aku mampu untuk menghindari bekapan rindu padamu setiap waktu?”

Aku menghapus kosakata “kehilangan” di kepalaku. Untuk bangkit ku maknai yang telah pergi, telah berlalu, dan bukan untukku dengan kata “kembali”. Kembali pada-Nya, atau kembali padaku. Jika pada-Nya, dipastikan kembali padaku dalam bentuk yang lebih baik. Jika kembali padaku, itu pemberian terbaik-Nya. Seseorang lantas bertanya, “Apa yang ingin kau lakukan jika ia kembali?”

Pertanyaan yang menjebakku untuk terjerumus pada rasa penyesalan. Dengan tegas akan ku jawab, “Jangan mengandaikan sesuatu yang seratus persen bukan kuasamu atau Ia akan murka. Cukuplah aku menjalankan rencana-Nya dipenuhi syukur dan mempersiapkan diri hingga tiba waktu terbaik untuk kembali. Dipertemukan dengannya atau tidak, biarkan doa-doa memperkokohku.”

Dibekap rindu. Penyambutan kembalimu kala itu memang berselimut sendu. Aku, ia, mereka, dan siapapun yang pernah menjumpaimu telah tertanam rindu yang demikian dalamnya. Tanpa terlontar petanyaan, atau diminta mengingat-ingat tentangmu mereka serempak sepakat berkata, “Dia cantik, baik.” Atau terkadang berkata padaku saat saling berjumpa, “Kau mirip dengannya., sangat mirip…” kemudian dilanjut ku dengar ceritanya tentangmu.

Suka kali aku menjelaskan bagaimana sosokmu. Kenapa tidak? Orang lain saja bisa sampai pilu menggambarkanmu dengan kalimat, “Nggak ada orang sebaik dirinya.” Aku ingin tau banyak kebaikan itu, kebaikanmu. Sampai-sampai berhasil Tuhan terbujuk untuk segera melebur rindu padamu. Jangan tanyakan kenapa lagi, sudah jelas ada rindu yang membekas mengiringi waktuku setelah kembalimu pada-Nya.

“Tuhan… tolong kabarkan padanya aku baik-baik saja.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam Ke-27 Ramadhan

Yang Terbaik Dari-Nya