Si Perekam dan 2 Pungawa


Begitulah, yang ditakdirkan-Nya sebagai jawaban atas harapan yang hampir pupus. Kesabaran penantian panjang, keridhoan menerima takdir, dan buah dari doa-doa yang dimintakan sebagai bentuk kesungguhan atas besarnya sebuah harapan. Hingga Sang Kuasa berhasil diluluhkan untuk mengasihinya, si Perekam yang dikawal dua punggawa dengan penjagaan bak putri raja. Punggawa pertama dengan keberanian, wibawa, dan ketegasan yang dimiliki menjadi garda terdepan. Punggawa inilah yang dekat dengannya sejak belia, dari masih asik bermain mainan mobil-mobilan hingga kini asik dengan kesibukan memusingkan masa depan. Kepada punggawa inilah keputusan diizinkan/tidak diizinkan berlaku sama legalitasnya dengan keputusan yang diberikan oleh pemegang utama tanggungjawab atas dirinya. Punggawa kedua, dengan tampang yang garang menambah kokoh pertahanan. Ditambah lagi karakter tenang, cerdik, dan penuh kasih seolah menegaskan bahwa pengawalan terhadapnya merupakan hal utama. Dari punggawa kedua inilah, ia belajar bahwa kita tak bisa mengandalkan orang lain untuk bahagia.

Dua punggawa, dan menjadi terakhir. Hidup bak putri raja menjadi sorotan mayoritas orang terhadapnya. Mereka kira apapun yang diminta pasti ada, bahkan keinginan yang masih dalam angan-angan seolah-olah dapat dengan mudahnya menjadi nyata dalam sekejab cukup dengan mantra, “Aku mau…”

Sungguh sangat berlebihan anggapan orang-orang, terima kasih. Itu membuktikan bahwa peran orang-orang di sekeliling si Perekam pantas mendapatkan predikat “BERHASIL”. Ketahuilah! Ia mendapatkan apa yang dibutuhkan, bukan segala yang diinginkan. Ia juga memperoleh apa yang orang-orang peroleh, yaitu kasih sayang dengan kadar yang cukup untuk membuatnya bahagia. Tidak ada yang dilebih-lebihkan dalam mengajari arti hidup kepadanya. Semuanya sama. Hanya corak rekamannya saja yang ‘tampak’ berbeda-beda sebab itu merupakan kuasa-Nya.

Bagaimana rekaman si Perekam? Ia menangkap lebih banyak gambar hingga terbentuk kekhasan yang dapat menyempurnakan apa yang disebut “utuh”. Ia mengurai semua dalam senyap, meski riuh terdengar, “Kalo ada apa-apa cerita aja.” Namun tidak ada yang bisa ‘sangat paham’ dirinya kecuali dirinya sendiri. Itulah mengapa respon “Ternyata ya…” sering orang-orang lontarkan atas apa yang dirinya lakukan, baik itu tindakan maupun perbuatan. Sebab baginya, “Saya percaya diri saya, saya melakukan karna saya yakin, oleh sebab itu bagaimanapun setelahnya saya cukup berlapang dada menerima.”

Ia menangkap tanggang jawab, kemandirian, keberanian, ketabahan, kelembutan, ketegasan, dan kepercayaan.

Ia ingin juga coba mengupayakan. Tapi si perekam tetaplah si perekam, mencoba ambil peranpun tak pernah mendapat percaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam Ke-27 Ramadhan

Yang Terbaik Dari-Nya