Si Bungsu: Adakah yang Mengerti?

 


Sekarang sudah jadi hal biasa, membungkam mulut sendiri untuk tetap diam dan tersenyum sebagai kendali untuk menghadapi penilaian orang lain yang mencuat silih berganti. Jikapun bersuara, cerita atau alasan hanya akan dianggap omong kosong – pikir orang-orang – semuanya berujung sia-sia.

Si bungsu cukup tahu siapa yang ia hadapi

Si bungsu cukup tahu situasi yang terjadi

Si bungsu cukup tahu apa itu ‘mengerti’

 

Terima kasih. Sudah berbicara dengan intonasi yang membuat telinga mengirim baik pesan kepada hati. Si bungsu mengerti, tapi ia hanya diberi kesampatan menunjukkan aksi yang berujung salah arti, lalu dibenci. Baiklah tak apa – Mereka bukan tak menyukaimu, tapi itu cara mereka menyelamatkan diri. Bukan menyakitimu – “Aku mengerti, memang belum sempurna. Bisakah kau lebih sabar sedikit lagi? Aku bisa kok.”

Baginya, Tuhan tak perah salah dan Tuhan tak akan membuatnya kecewa. Sekelilingnya adalah lingkungan dan orang-orang baik kiriman Tuhan karena menyayanginya. Oleh sebab itu, apapun yang terjadi tak pantas baginya untuk mengotori kasihsayang Tuhan meski hanya sekedar berpikir buruk bagaimana nantinya ini dan itu. Sebab Tuhan telah membuktikan, segala cerita dan sendu si bungsi tiap malam kala itu hanya Tuhan yang tau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malam Ke-27 Ramadhan

Yang Terbaik Dari-Nya