(Lebar)an ?
Ketika tulisan
ini telah mampu terbaca utuh, maka ketahuilah bahwa Aku berhasil membebaskan diri
terhadap sesuatu yang membuat diriku rapuh.
Tuhan
adalah pihak pertama yang mengetahui bagaimana perasaanku malam itu sebelum ku
ceritakan tentangmu kepada ibuku (pihak kedua). Pasti “terbaik” adalah kata
yang tak pernah tertinggal ditiap pintaku pada-Nya. Kala itu, diwaktu yang kata
kebanyakan orang merupakan moment paling dekat dengan pencipta-Nya dan moment paling
baik untuk meminta pada-Nya, aku menengadahkan tangan cukup lama. Takut,
bahagia, dan kamu adalah topik yang ku diskusikan pada-Nya. Tentu ku sebutkan
namamu, meski sebenarnya percuma karena Ia Maha Tau. Ntah, tak ku ketahui
berapa kali Tuhan menangkap aku menyebutkan namamu dalam diskusiku dengan-Nya.
Setelah
puas membicarakanmu pada-Nya, aku kemudian meminta yang terbaik untuk hidupku. Aku
meminta perlindungan dan aku meminta petunjuk-Nya. Kamu? Aku juga mendoakanmu. Sejak
itulah, doa-doa untukmu tak pernah tertinggal dalam tiap ibadahku pada-Nya. Kau
tak tau, tapi Tuhan tau itu.
Berbeda
dengan Tuhan. Kepada ibu... aku datang untuk bercerita bukan untuk berdiskusi.
Aku memberitahukan namamu, menceritakan tentangmu dan perjumpaan aku dengan
kamu pada waktu itu. Aku bercerita dalam keadaan bahagia dan haru (tak perlu dibayangkan) dan, bagaimana respon
ibuku? Sebagaimana umumnya seorang ibu yang melihat anaknya bahagia pasti akan
ikut bahagia.
Waktu
terus berjalan...
Apakah
ini jawaban Tuhan dari doa-doaku yang tak pernah tinggalkan kata “terbaik”?
Bagiku iya. Ketahuilah! sebelum ku percaya pada siapapun bahkan ketika aku
kehilangan percaya terhadap siapapun, Tuhan adalah sumber kepercayaanku. Maka jika
saat itu aku mempertanyakan “Bisakah aku
percaya padamu?” lantas jawaban yang kudapat adalah “Iya bisa in shaa Allah” itu cukup membisikkan dalam hatiku
perasaan tentang, “Selain hanya pada-Nya, aku bisa percaya padamu dalam hidup
ini".
Yang
terbaik menurut Tuhan adalah kini. Ketika pertanyaan yang seharusnya dijawab olehmu justru ku dapati sendiri jawabannya. Tuhan menunjukkan tabiatmu padaku, meskipun sampai
sekarang aku masih mempertanyakan apakah itu dirimu yang sebenarnya atau tidak?
Yang pasti, aku percaya pada dasarnya setiap orang itu baik. Kamu? Iya, aku
mengenalmu lewat obrolan kala itu, pertemuan kala itu, dan interaksimu padaku
kala itu. Ketahuilah! aku mengenalmu lewat caraku sendiri, sudut pandangku
sendiri tanpa campur tangan orang lain. Maka tenanglah, bagaimana dirimu dalam
kacamataku hanya soalan aku dan kamu, bukan bagaimana orang lain berbisik
padaku tentangmu.
Terima
kasih, sudah mengupayakan sedikit tenagamu untuk menjagaku, membingungkanku, dan
membuatku bahagia. Aku lega mengetahui ini sendiri, karna kondisiku tak akan
lebih buruk daripada aku mengetahui kamu berbohong atau mengetahuinya dari
orang lain. Aku terima sepaket perkenalan dengan sambutan baikmu, juga tindakan
terakhirmu ini. Tapi satu hal yang sampai sekarang masih jadi pertanyaanku,
kemana “maaf” setelah aku mengetahui perbuatanmu itu? Padahal kau pernah bilang
padaku suka mengucapkan maaf walaupun untuk kesalahan kecil. Bahkan memintaku
untuk mengingatkanmu jika kau lupa. Ah, sudahlah. Percuma juga aku memikirkan
ucapan maafmu, merespon pertanyaan terakhirku saja kau tak cukup nyali bukan? Tak
apa, aku terima dan akan selalu berdoa untuk yang terbaik. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar