Bisa(bar)
Seseorang
bersaksi, “Terbuat dari apa hatimu? Ajari
aku teknik menguasai diri dalam sabar. Memperhatikanmu bercerita kala itu, dengan
senyum yang tak absen ketika kondisimu masih dalam duka mendalam.”
“Teknik
menguasai diri dalam sabar” mungkin maksudnya : teknik menyembunyikan kesedihan,
teknik menyembuhkan luka sendirian, atau teknik bersandiwara pada semesta? Ntah,
yang pasti aku tak pantas kau sebut berhasil menguasai diri dalam sabar. Akan aku
perjelas…
Aku
sama seperti manusia lainnya, yang hidup dalam skenario Tuhan. Jadi, ketika kau
terkejut dengan berbagai tingkahku, ingatlah! Itu rancangan Tuhan, bukan
kebetulan. Lantas, jika timbul pertanyaanmu tentangku: lebih aku sarankan
bertanya langsung padaku, atau sampaikan pada Tuhan-ku. Sebab, jika orang lain
yang kau tanyai dapat aku pastikan itu keliru. Justru kau akan peroleh banyak spekulasi
tentangku yang memperkeruh rasa penasaranmu dan memaicung lebih banyak
pertanyaan-pertanyaanmu tentangku.
Aku
sama seperti manusia lainnya, yang hidup dalam kasih sayang Tuhan. Masih
menjadi manusia labil yang setengah-setengah sadar kesalahan dan angkuh pada
nikmat-Nya, padahal semua yang aku dapat hanyalah titipan. Kau tau? Yang kau
sebut “Teknik menguasai diri dalam sabar” hanyalah soalan rasa lelah tapi juga
berupaya percaya bahwa ini adalah ekspresi kasih sayang Tuhan. “Segitunya kamu percaya pada Tuhan? Bahkan
ketika luka, duka, dan ini semua…”
Aku
menolak alasan apapun yang berpotensi melemahkan kepercayaanku pada-Nya.
Bolehkah
aku sedikit bercerita? Tidak ada obat untuk sebuah kehilangan.
Komentar
Posting Komentar