Tau Diri
Sudah ku upayakan untuk melupakan, tapi kecil kesanmu masa itu melekat cukup kuat dan bertahan. Aku putuskan mengambil jalan lain, jalan penerimaan lalu menikmatinya. Menikmati setiap upayaku berbuah kegagalan sebab dalam tiap tindakan yang ku ambil, “Aku masih mengingatmu.” Sesekali aku lupa, tapi ingat… lalu lupa dan ingat lagi hingga terkadang aku mengeluh pada Tuhan sambal menangis, “Ya Allah… aku pasrah. Engkau tau aku menyerah pada-Mu atas segala upayaku melupakannya. Aku ingin ketenangan, maka ku mohon permudahkanlah. Aamiin.”
Pernah dengar Ritik Sendu berkata, “… urusannya udah selesai,
tapi akunya belum.” Dan mungkin itu yang sedang ku alam saat ini. Menganggap
semuanya sudah kembali membaik, tapi aku belum sepenuhnya pulih. Aku menyadari
ini salah, keliru, dan tidak baik untuk diriku. Tapi tolong tujukkan padaku,
bagaimana mengatasi itu?
Mengkoreksi diri? Itu sudah ku lakukan. Aku sudah flashback masa-masa
itu dan adakah yang keliru dari diriku? Ya, kekeliruan itu adalah mengikuti
perkataan orang lain. “Sejak kapan aku pedulikan omongan orang lain?”
yang memberitahuku, “… kau butuh seseorang… jangan terlalu menutup diri…” dan
ketika aku sedang merenungkan perkataan-perkataan itu, kau datang dengan
kepribadianmu yang dimana menunjukkan minus dan plus-nya (tapi aku menerimanya)
hingga seolah-olah semesta berpihak padaku dengan memvalidasi perkataan itu.
Aku membuka diri, lantas perbincangan demi perbincangan terbentuk. Dan ketika
ada sesuatu yang menurutku miskom lantas ingin mengklarifikasinya, disitulah
awal dari semua tragedi. Tidak ada yang benar atas semuanya. Aku keliru
mengartikan situasi itu, dan kau pun mememanfaatan kekeliruan itu, right?
Cara lain, fokus diri sendiri? Itu sudah ku lakukan. Aku tidak
menyalahkan keputusanku untuk mengenalmu dan mengatakan yang sebenarnya
tentangmu meski respon yang ku terima tidak sesuai harapan. It’s protect to
myself yang setiap orang mempunyai cara sendiri-sendiri, maka tindakanmu ku
anggap demikian. Membiarkan pertanyaanku untukmu terjawab sendiri, memanfaatkan
kemampuan yang ku miliki, dan menganggap semua itu tak butuh lagi penyelesaian.
Bravo, misimu berhasil. Tapi, tidak untuk menghancurkan prinsipku.
Sabrina Ara dalam tulisnanya, “Bila seseorang yang berdiri disampingku tidak
bisa bertahan dengan caraku berkembang, maka bukan pilihanku untuk tetap
tinggal.” Dan itu yang ku lakukan. Meski aku menerima dirimu dengan minus dan
plus yang kau miliki, tapi bukankah sebuah hubungan itu timbal balik? Bukan
sepihak.
Perbaiki diri sendiri? Sebelum ku putusakan untuk ke tahap itupun, aku sedang
berproses untuk memperbaiki diri. Maka jangan anggap perbaikan itu hanya untuk
sesuatu yang salah, perbaikan itu untuk perkembangan kepada sesuatu yang lebih
baik. Tapi ternyata, Tuhan tidak menginzinkan aku ditahap itu. Aku menganggap
ini perlindungan-Nya, maka akupun memohon pada-Nya bagaimana aku menyikapi
diriku terhadapmu.
Dari semua cara-cara itu, akhirnya ku putukan untuk lebih
mendekatkan diri pada Tuhan. Aku terus membujuk Tuhan untuk membantuku atas
permasalahan ini. Hingga akhirnya aku mendapatkan ketenangan, aku harus
menerima ini dan mengambil pelajaran berharganya. Maka ku putuskan, aku
pasrahkan diriku dan kau pada-Nya. Itu yang selalu ku ulang dalam doa-doaku
selama ini. Tidak lagi meminta panjang lebar tentang itu, tapi cukup dengan,
“Ya Allah, ku pasrahkan ia pada-Mu. Aku memohon perlindungan-Mu, petunjuk-Mu,
dan ridho-Mu untuk membuatku mampu menerima setiap setiap ketetapan-Mu dalam
hidupku.”
Komentar
Posting Komentar