The Power of Doa
Saya
menemukan tempat terbaik dimana Saya bercerita tanpa takut kecewa, bercerita segala
hal tanpa takut suara Saya dianggap sia-sia atau hanya omong kosong belaka, dan
bercerita apapun yang Saya rasa “Aku ingin ini diketahui.” Ya… dalam doa
Saya menemukan itu. Saya menemukan diri Saya yang ternyata sangat lemah
dihadapan-Nya, Saya menemukan diri Saya yang ternyata menyimpan banyak cerita, Saya
menemukan diri Saya yang ternyata sangat bergantung pada-Nya, dan Saya sangat
membutuhkan-Nya. Saya membutuhkan Allah, maka Saya percaya doa adalah bentuk
cinta-Nya.
Sang Maha Membolak-Balikkan
Hati Makhluk-Nya
Dalam
hidup setiap orang memiliki landasannya masing-masing, dibawah kendali Tuhan
yang Maha Esa. Landasan masing-masing itulah yang menjadikan kita ini
beragam. Namun, keberagaman itu tidak cukup untuk sekedar diketahui dan diakui.
Keberagaman harus disadari dan dimengerti, hingga tumbuh rasa menghargai dan
menghormati sebagai bagian dari kasih sayang sesama.
Ada
sebuah cerita, ini tentang satu keluarga yang tengah berduka. Orang-orang
sekitarnya tidak peduli bagaimana perjuangan keluarga tersebut menyelamatkan
hidup seorang anggota keluarga yang sedang Allah uji melalui penyakit yang
menyerang tubuhnya. Ketika kemudian Allah takdirkan kehilangan salah satu
anggota keluarganya, banyak orang berempati. Namun juga tak sedikit orang
menyayangkan itu terjadi, beberapa berkata “Nggak berusaha diobatin, kah?” /
“Kasihan ya, padahal penyakitnya itu bisa disembuhkan dengan operasi. Eh ini malah
sampai meninggal…” / “Coba saja dulu berobat kesana…” dan ucapan lainya.
Dibalik
ucapan-ucapan itu, mereka sebenarnya tau keluarga tersebut kehilangan salah
satu anggotanya lantas mereka berempati. Tapi, mereka tidak paham perasaan
keluarga tersebut. Tidak akan paham karena mereka tidak mengerti apa yang
sebenarnya terjadi. Yang mereka tahu hanyalah seorang anggota keluarga
meninggal karena sakit, sakit hingga meninggal. Hanya itu, tapi tidak dengan
upaya keluarganya melakukan pengobatan ke berbagai rumah sakit, melakukan
penanganan medis/non medis ke berbagai tempat pengobatan, memenuhi biaya
berobat dengan berbagai upaya, mencoba saran pengobatan yang kata orang akan
berhasil, hingga membuat anggota keluarga yang sakit tersebut tetap optimis
pada kesembuhan. Apa mereka juga tau, bagaimana beratnya mengambil keputusan
untuk prosedur penanganannya? Tidak. Bagi mereka, kenyataan seorang anggota
keluarga yang meninggal karena sakit itu cukup menandakan bahwa pihak keluarga
tidak sungguh-sungguh untuk menyelamatkan hidupnya. Yang berarti, secara tidak
langsung mereka mengingkari keyakinan akan takdir-Nya.
Maskipun
demikian, keluarga tersebut tidak terlalu mempermasalahkan orang-orang yang justru
memanfaatkan sedikit informasi yang diketahuinya sebagai konsumsi gosip.
Keluarga tersebut memilih abai untuk menanggapi orang-orang yang coba
mencampuri urusan internal keluarganya. Membiarkan semua tetap berjalan
semestinya, mengetahui apa yang perlu diketahui dan menjalankan apa yang perlu
dijalankan. Sembari berdoa untuk kebaikan sekarang dan kedepannya, maka biarlah
waktu sendiri yang akan melenyapkan perasaan keingintahuan orang-orang terhadap
keluarga tersebut.
Dan
ya, setelah beberapa tahun semenjak kejadian itu. Salah seorang anggota
keluarga menceritakan kisahnya tentang keajaiban doa yang ia panjatkan dikala
menghadapi situasi tersebut. Ia bercerita betapa bahagianya ia ketika Allah
memudahkannya menyadari kenikmatan akan doa. Kurang lebih begini pengakuannya, “Saat
itu kami masih berduka, kami pun sadar sedang menjadi perbincangan banyak
orang. Tapi tangan kami hanya dua, tidak cukup untuk membungkam mulut
orang-orang yang membicarakan kami. Dalam diam, saya mencoba menenangkan diri. Melakukan
apa yang disarankan keluarga ketika saya tiba-tiba menangis, “Doakan… baca
al-quran.” Alhamdulillah Allah memberi saya petunjuk, Allah seperti mengarahkan
saya untuk menyakini keajaiban dari doa, dan akhirnya terbentuk mindset dalam
diri saya bahwa, “tindakan mereka itu adalah cara mereka untuk menyelamatkan
diri, bukan untuk untuk menyakitiku.” Maka, posisi saya bagi mereka adalah
ancaman, tapi bagi saya mereka butuh bantuan. Dari situ, mengalir ketenangan
dalam batin saya. Saya menemukan cara untuk menghadapi situasi tersebut, yaitu
dengan berdoa untuk mereka yang menyakiti saya.
Saya
tau Tuhan itu tidak akan mengabulkan doa-doa yang buruk, kecuali doa buruk yang
dipanjatkan oleh orang yang terdzolimi. Sekalipun terdzolimi, saya pun tidak
akan berdoa akan hal buruk. Maka, menghadapi hal itu saya selalu berdoa untuk
kebaikan mereka. Yang paling saya sadari, saya pernah berdoa, “Ya Allah,
lembutkanlah hatinya, bahagiakan ia dan keluarganya.” Terhadap seseorang yang
dengan ucapannya telah melukai hati saya hingga membuat saya menangis menyadari
ia tega berucap seperti itu.
Untuk
lukanya, jika Anda bertanya dimaafkan atau tidak? Saya hanya mampu menjawab, kesalahan
apapun selama saya masih hidup dan Anda pernah berbuat baik sama saya atau
keluarga saya, in shaa Allah akan saya maafkan. Tapi, jika ditanya sakitnya?
Masih melekat, tapi semoga Allah melapangkan hati saya untuk mampu melihat
kebaikan-kebaikan Anda yang in shaa Allah menjadi ketenangan saya.
Kembali
lagi, ketika saya merespon ucapan tidak mengenakkan itu dengan doa, dan saya
berusaha menyakininya. Masya Allah, Allah tunjukkan sendiri kuasa-Nya dengan
membuat saya menyaksikan dan merasakan perubahannya. Alhamdulillah, atas
petunjuk-Nya orang tersebut sekarang lebih setabil emosinya, lebih menyukuri
apa yang dimilikinya, serta berbahagia bersama keluarganya. Terlepas dari apa
permasalahan dalam hidupnya, Allah yang membantu-Nya dan in shaa Allah saya
akan turut mendoakannya. Selain itu, atas izin Allah semuanya mulai pulih dan
membaik. Orang-orang tidak lagi mempermasalahkan “Kok bisa sampai meninggal…”
tapi yang saya ketahui sekarang, mereka justru mengenang kebaikan-kebaikan
almarhumah semasa hidupnya. Alhamdulillah, semoga menjadi alam baik baliau di
akhirat kelak. Aamiin.”
Dari
pengakuan tersebut, ia menuturkan betapa besar kuasa Allah atas kehidupan ini.
Allah menggerakan hati hamba-Nya untuk memperbaiki diri, dan men-setting
semesta untuk berpihak pada-Nya. Wallahu’alam, keajaiban doa itu ada. Kita
hanya perlu memupuknya dengan keimanan, kemudian saksikanlah keagungan-Nya.
Komentar
Posting Komentar