Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Malam Ke-27 Ramadhan

“Tahun itu tidak ada yang mengira, kalau kebahagiaan Ramadhan di tahun sebelumnya adalah bahasa perpisahan.” Awal tahun 2019 , ibu hanya mengira bahwa nyeri yang dirasakan adalah nyeri biasa atau sekedar kecapekan. Beberapa alternative pengobatan tradisional coba ditempuh, entah benar ada perkembangan atau itu hanya sekedar pengakuan dari ibu untuk sekedar membuat anak-anaknya tidak khawatir.  Tetapi lambat laun, tampak penyakit ibu malah semakin memangkas ruang geraknya. Terlihat beberapa ruam yang sebelumnya kata ibu, “Itu memang efek dari pijatan. Adanya ruam, menandakan kalau penyakitnya pada keluar.” justru berubah menjadi biang tangis ibu pada suatu sore. Tidak sampai satu bulanan, nyeri yang ibu rasakan justru bertambah tingkatnya, sangat sakit. Ibu memang tidak bilang kalau yang beliau rasakan sangat menyakitkan. Tapi, dari penurunan aktivitas beliau dan tangisannya sudah cukup menandakan bahwa penyakitnya semakin parah. Sejak saat itu aktivitasnya lebih banyak terbaring di...

Sahabat

Gambar
  Disebuah desa di pinggiran kota besar, hidup seorang gadis bersama ibunya. Setiap pagi mereka mengayuh sepeda menuju kota untuk tujuan masing-masing, ibunya berjualan kerajianan, dan anaknya bersekolah di SMA Pelita. Namanya Aini, gadis sederhana yang menggeluti dunia sastra ini berhasil bersekolah di kota karena kegigihannya dalam belajar dan menabung. Setiap hari Senin dan Kamis, ia  memilih berpuasa guna menyisihkan uang sakunya. Aini bukanlah gadis yang menjadi primadona di sekolah. Ia sadar, dapat belajar di sekolah impiannya ini sudah cukup menjadi kebanggannya dan orang tuanya. Tidaklah mudah bagi Aini untuk menyesuaikan kehidupan di kota besar. Karena sekolahnya bukan sekolah tempat anak-anak dengan ekonomi sepertinya, justru mayoritas siswanya adalah anak dengan hidup yang berkecukupan. Hal ini tak lantas membuatnya minder dan dikucilkan di sekolahnya. Aini mencoba beradaptasi dengan mengikuti sebuah organisasi sekolah yang berkecimpung dalam dunia seni. Dari situ, ...

Monolog 2

   [Monolog] SURAT UNTUK IBU Di sebuah teras. Seorang anak menantikan perjumpaannya dengan sang ibu. Pikiran anak tersebut dipenuhi kerumitan yang tak siapapun tahu, kecuali ia dan Tuhan yang Maha Mendengar tiap deru tangis yang menyertainya dalam keheningan sepertiga malam. Pada malam pukul 21.20, sebuah surat ia tuliskan untuk ibunya. Dari       : buah hatimu Untuk    : ibu Selamat malam bu, terimalah salam rindu dariku yang kau sayang. Bu, apa Tuhan sudah sampaikan padamu? “Aku baik-baik saja.” Itu pesanku. Jika Tuhan memberitahumu perihal keadaanku sekarang selain pesanku itu, percayalah bu “Aku baik-baik saja”. Kehidupan ini tengah menempa diriku untuk mandiri, yang ku pikir adalah salah satu permintaanmu pada Tuhan –kau ingin buah hatimu mandiri– Tuhan sedang wujudkan. Semangati aku ya bu, proses ini cukup menguras tenaga dan pikiranku. Tapi tak apa selama Tuhan masih bersamaku, “Aku baik-baik saja.” Bu, semenjak menanti perjumpaan deng...

Monolog 1

   [Monolog] Kira dan Ibu Ada suasana berbeda yang dirasakan malam itu. Sang ibu menemukan fase kehidupan baru buah hatinya yang beranjak dewasa. Di sebuah teras dengan cahaya lampu temeram, mereka berbincang santai berteman teh dan kue yang tersaji hangat. “Bu,” “Iya,”  sahut ibunya usai menyeruput teh hangat. “Ada yang mengganjal dihati Kira,” / “Apa?” tanya ibunya. Kira terdiam sejenak  tiga detik kemudian berkata , “Apa alasan Tuhan ciptakan hati untuk wanita?” “Tuhan anugrahkan kelembutan dan kasih sayang dalam hati setiap wanita. Hanya dengan tutur katanya yang lembut, senyum ikhlas yang mampu menghilangkan kejenuhan, hingga sentuhan tangan penuh kasih sayang untuk sejenak menghilangkan beban masalah yang dihadapi. Tuhan juga anugrahkan wanita perasaan luar biasa dengan keahliannya mengontrol suasana hati. Kita harus banyak bersyukur atas keistimewaan itu.” “Tuhan begitu mengistim e wakan wanita, tapi kenapa Tuhan lebih sering membuat wanita menangis?” Ibunya t...

Kardus Berkat

Gambar
               Dari teras rumahnya, seorang anak berusia 6 tahun bernama Sarah memandang serombongan bapak-bapak yang berjalan beriringan dengan menenteng  berkat  (istilah Jawa untuk bingkisan yang didapat dari acara tahlilan). Bapak-bapak tersebut baru saja selesai menghadiri acara tahlilan pra-pernikahan yang biasa dilakukan oleh salah seorang warga di desanya. “Sarah, masuk nak!” kata ibunya.              “Nanti bu, sebentar lagi,” kata Sarah. Ia masih terduduk beberapa lama di teras tanah rumahnya sampai semua bapak-bapak yang dapat terjangkau indranya tadi lenyap dari pandangan Sarah. Tangannya masih menggenggam kitab, kepalanya masih berbalut jilbab, dan pandangannya masih menatap kearah yang sama. Namun, raut wajahnya berubah setelah cukup lama ia menunggu tak satupun orang menghampiri rumahnya untuk memberikan  berkat.  Angan-angan yang bercampur imajinas...

The Story of God's Love

Gambar
  MUSIM 1 Pada setiap kata itulah, keindahan mampu tergambar tanpa perlu raga saling berhadap. Rahasia yang Tuhan sembunyikan, tentang sepasang cerita berbeda yang dibuat-Nya untuk membuat mereka saling mengenal. Secarik surat beramplop merah ku temukan kembali di ransel sekolah milikku seusai olahraga. Berisi kata-kata  pujian tentang diriku dan makna cinta. Seakan sang penulis misterius itu tahu bahwa aku bukanlah wanita yang mudah jatuh cinta. Ya.. begitulah, cinta bagiku adalah suatu anugrah Tuhan yang harus dijaga. Tak sembarang orang dengan mudah memberi dan menghujat cinta. Aku berusaha untuk menjaga cinta yang ada dalam diriku tetap halal. Dengan cinta kepada Tuhan adalah kunci diriku, agar aku kelak tak salah memaknakan cinta sesama hamba-Nya. Sebab, cinta yang tumbuh di dalam hati datangnya dari Allah. Cinta disebut dengan fitrah, sbelum mencintai ciptaannya, maka cintai dulu Sang Maha Pencipta. Surat bertinta hitam ini tertulis bahwa, “Cinta dalam diam itu ind...