Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

It's Oke 2 Dekade

Semoga Tuhan melindungi ibuk senantiasa, aamiin. Ibuk tau, tepat 15 Juli tahun ini usiaku telah menginjak 2 dekade. Pikiranku bergerak lebih aktif mencoba memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersembunyi yang sewaktu kecil aku simpan sendiri, atau ku tanyakan kepada ibu tapi jawaban yang ku peroleh masih membuatku bingung. Aku ingin bercerita sedikit, untuk beberapa hariku sebelum tulisan ini terbaca. Dengarkan ya bu… Tiga hari sebelum aku mengunjungi makammu kala itu, aku abis kecelakaan. Aku sempat bilang padamu bahwa aku jatuh dari motor dan lututku terluka. Aku juga bilang padamu untuk tidak khawatir karena aku sudah belajar mengobati luka, dan mempraktikannya sekarang. Aku tidak apa-apa. Dalam proses pemulihan, ternyata ada kendala lagi. Laptopku perlu diservis, lebih tepatnya perlu diganti hehehe pengiriman naskahku terhambat, laporanku terhambat, dan beberapa aktivitasku yang memerlukan laptop jadi terhambat. Tapi tidak apa-apa, bukankah ibuk selalu bilang jika setiap h...

Novem(berdamai)

  “… dan sampai saat inipun, dalam doaku (kadang) masih ada namanya. Aku harus bagaimana? Disatu waktu aku sadar ini tidak baik untukku, tapi disisi lain aku tidak bisa melupakan kebaikannya.” Kau sudah membuktikan bahwa penjagaanmu selama ini terhadap dirimu sendiri tidak keliru. Bahkan Tuhan saja tidak rela apa yang ada dalam dirimu berkurang nilainya. Perlu ku ingatkan kembali ? Agaknya akan sedikit mengganggu suasana hatimu, tapi aku yakin ini tidak akan memperburuknya. Tindakanmu saat itu sudah tepat. Mengutarakan apa yang kau pikirkan dan rasakan dalam sebuah pengakuan singkat nan jelas, untuk mendapatkan kepastian. Ingat ? Sejak awal kau sudah siapkan diri menerima ‘sepaket’ –pertemuan dan perpisahan, bahagia dan sedih, mudah dan sulit, sakit dan sehat, tumbuh dan tumbang– ini hanyalah bagian dari semua itu. Sekali lagi ku katakan, kau tidak keliru. Kau itu berani mengontrol dirimu sendiri. Dan aku yakin itu hanya ‘kerikil kecil’ yang memberimu pelajaran untuk (lebih...

Teman-Teman Kecil

Gambar
  Tidak peduli dikira kekanak-kanakan atau lupa umur. Sekali lagi saya tegaskan! TIDAK PEDULI BAGAIMANA RESPON KALIAN MEMANDANG SAYA SAAT INI. Ya, saya sebut mereka “Teman-Teman Kecil”, bukan anak didik sebab saya dan mereka sama-sama merasakan manfaat dari ilmu serta memperoleh pelajaran hidup. Sungguh, kehadiran mereka bak malaikat yang Tuhan kirim untuk membuat saya merasa tidak kesepian, tidak sendirian, dan terbuka kesempatan untuk memandang semesta lebih jernih, lebih berwarna. Bersama mereka... sakit kepala ini hilang dengan tingkah polos mereka yang tidak bisa menahan ken*u* ketika asik tertawa merespon sebuah lelucon. Bersama mereka… kekhawatiran ini teralihkan sejenak ketika dengan penuh antusias mereka menceritakan kejadian-kejadian yang mereka temui kepada saya. Tidak jarang, moment-moment spontan mereka yang menyentuh perasaan: mereka tiba-tiba bilang sayang, mereka tiba-tiba bilang hanya ingin bersama saya, mereka tiba-tiba bertindak melindungi saya, hingga mereka...

Bisa(bar)

  Seseorang bersaksi, “Terbuat dari apa hatimu? Ajari aku teknik menguasai diri dalam sabar. Memperhatikanmu bercerita kala itu, dengan senyum yang tak absen ketika kondisimu masih dalam duka mendalam.” “Teknik menguasai diri dalam sabar” mungkin maksudnya : teknik menyembunyikan kesedihan, teknik menyembuhkan luka sendirian, atau teknik bersandiwara pada semesta? Ntah, yang pasti aku tak pantas kau sebut berhasil menguasai diri dalam sabar. Akan aku perjelas… Aku sama seperti manusia lainnya, yang hidup dalam skenario Tuhan. Jadi, ketika kau terkejut dengan berbagai tingkahku, ingatlah! Itu rancangan Tuhan, bukan kebetulan. Lantas, jika timbul pertanyaanmu tentangku: lebih aku sarankan bertanya langsung padaku, atau sampaikan pada Tuhan-ku. Sebab, jika orang lain yang kau tanyai dapat aku pastikan itu keliru. Justru kau akan peroleh banyak spekulasi tentangku yang memperkeruh rasa penasaranmu dan memaicung lebih banyak pertanyaan-pertanyaanmu tentangku. Aku sama seperti manu...

(Lebar)an ?

Ketika tulisan ini telah mampu terbaca utuh, maka ketahuilah bahwa Aku berhasil membebaskan diri terhadap sesuatu yang membuat diriku rapuh.   Tuhan adalah pihak pertama yang mengetahui bagaimana perasaanku malam itu sebelum ku ceritakan tentangmu kepada ibuku (pihak kedua). Pasti “terbaik” adalah kata yang tak pernah tertinggal ditiap pintaku pada-Nya. Kala itu, diwaktu yang kata kebanyakan orang merupakan moment paling dekat dengan pencipta-Nya dan moment paling baik untuk meminta pada-Nya, aku menengadahkan tangan cukup lama. Takut, bahagia, dan kamu adalah topik yang ku diskusikan pada-Nya. Tentu ku sebutkan namamu, meski sebenarnya percuma karena Ia Maha Tau. Ntah, tak ku ketahui berapa kali Tuhan menangkap aku menyebutkan namamu dalam diskusiku dengan-Nya. Setelah puas membicarakanmu pada-Nya, aku kemudian meminta yang terbaik untuk hidupku. Aku meminta perlindungan dan aku meminta petunjuk-Nya. Kamu? Aku juga mendoakanmu. Sejak itulah, doa-doa untukmu tak pernah tertin...

Si Bungsu: Adakah yang Mengerti?

Gambar
  Sekarang sudah jadi hal biasa, membungkam mulut sendiri untuk tetap diam dan tersenyum sebagai kendali untuk menghadapi penilaian orang lain yang mencuat silih berganti. Jikapun bersuara, cerita atau alasan hanya akan dianggap omong kosong – pikir orang-orang – semuanya berujung sia-sia. Si bungsu cukup tahu siapa yang ia hadapi Si bungsu cukup tahu situasi yang terjadi Si bungsu cukup tahu apa itu ‘mengerti’   Terima kasih. Sudah berbicara dengan intonasi yang membuat telinga mengirim baik pesan kepada hati. Si bungsu mengerti, tapi ia hanya diberi kesampatan menunjukkan aksi yang berujung salah arti, lalu dibenci. Baiklah tak apa – Mereka bukan tak menyukaimu, tapi itu cara mereka menyelamatkan diri. Bukan menyakitimu – “Aku mengerti, memang belum sempurna. Bisakah kau lebih sabar sedikit lagi? Aku bisa kok.” Baginya, Tuhan tak perah salah dan Tuhan tak akan membuatnya kecewa. Sekelilingnya adalah lingkungan dan orang-orang baik kiriman Tuhan karena menyayangin...

Si Perekam dan 2 Pungawa

Begitulah, yang ditakdirkan-Nya sebagai jawaban atas harapan yang hampir pupus. Kesabaran penantian panjang, keridhoan menerima takdir, dan buah dari doa-doa yang dimintakan sebagai bentuk kesungguhan atas besarnya sebuah harapan. Hingga Sang Kuasa berhasil diluluhkan untuk mengasihinya, si Perekam yang dikawal dua punggawa dengan penjagaan bak putri raja. Punggawa pertama dengan keberanian, wibawa, dan ketegasan yang dimiliki menjadi garda terdepan. Punggawa inilah yang dekat dengannya sejak belia, dari masih asik bermain mainan mobil-mobilan hingga kini asik dengan kesibukan memusingkan masa depan. Kepada punggawa inilah keputusan diizinkan/tidak diizinkan berlaku sama legalitasnya dengan keputusan yang diberikan oleh pemegang utama tanggungjawab atas dirinya. Punggawa kedua, dengan tampang yang garang menambah kokoh pertahanan. Ditambah lagi karakter tenang, cerdik, dan penuh kasih seolah menegaskan bahwa pengawalan terhadapnya merupakan hal utama. Dari punggawa kedua inilah, ia bel...

(Januari)ndu

“Jika orang merasakan hadirmu saat melihatku. Bagaimana mungkin aku mampu untuk menghindari bekapan rindu padamu setiap waktu?” Aku menghapus kosakata “kehilangan” di kepalaku. Untuk bangkit ku maknai yang telah pergi, telah berlalu, dan bukan untukku dengan kata “kembali”. Kembali pada-Nya, atau kembali padaku. Jika pada-Nya, dipastikan kembali padaku dalam bentuk yang lebih baik. Jika kembali padaku, itu pemberian terbaik-Nya. Seseorang lantas bertanya, “Apa yang ingin kau lakukan jika ia kembali?” Pertanyaan yang menjebakku untuk terjerumus pada rasa penyesalan. Dengan tegas akan ku jawab, “Jangan mengandaikan sesuatu yang seratus persen bukan kuasamu atau Ia akan murka. Cukuplah aku menjalankan rencana-Nya dipenuhi syukur dan mempersiapkan diri hingga tiba waktu terbaik untuk kembali. Dipertemukan dengannya atau tidak, biarkan doa-doa memperkokohku.” Dibekap rindu. Penyambutan kembalimu kala itu memang berselimut sendu. Aku, ia, mereka, dan siapapun yang pernah menjumpaimu te...

Monolog 3

[Monolog] Ibu Membacanya Ia membebaskan cerita mengalir dengan judul yang tertulis “Tidak Ada Judul”. Ia juga telah berpesan kepada sang Ibu untuk membacanya ketika tulisannya selesai. Tak lupa, ia pun meminta tulisannya dikomentari, agar cerita-cerita berikutnya dapat lebih baik lagi.             Kira telah duduk di depan meja yang di atasnya terdapat selembar kertas dan bolpoin bertinta hitam. Hampir 20 menit dirinya hanya memandangi apa yang ada di hadapannya itu, seraya pikirannya menyusuri lambirin imaji yang setiap cabangnya menyuguhkan panorama beragam, tapi Kira kebingungan memilahnya. Kertas dan bolpin itu masih terdiam hingga menit ke-30.             Suara ketukan pintu terdengar ramah, Kira langsung dapat menebak sosok ibulah yang ada di balik pintu itu. Ia bangkit, lantas membuka pintu kamarnya dan membiarkan sang Ibu untuk masuk. “Ibu sudah menyelesaikan bacaa...

November(jumpa)

November. Sebuah ‘tugas negara’ mengharuskannya melakukan observasi ke beberapa tempat, melakukan survey dan pemetaan hingga analisis untuk menghasilkan sebuah laporan yang sempurna. Meskipun, sesempurna menurutnya belum tentu tak ada celah kesalahan bagi pihak yang akan menilai laporannya. Tapi ia tetap berusaha mengerjakan dengan sebaik mungkin. Beberapa kali susunan laporannya direvisi, bertemu beberapa orang untuk diwawancarai, mengikuti kegiatan untuk mengobservasi, dan terkadang menghabiskan malam hingga subuh untuk menyusun laporan.  “Kekuatan saya sampai mana? Kemampuan saya sampai mana?”  begitulah kiranya ia menyemangati diri sendiri untuk bertahan dan segera menyelesaikan apa yang menjadi tugas serta tanggung jawabnya. Seperti sebuah tanangan, ia berusaha menanggapi positif apa yang sering memicu setiap orang untuk  sambat. Malam itu, ia memenuhi janji dengan seorang narasumber untuk diwawancarai. Tepat setelah selesai sholat maghrib kepada ayahnya ia kemud...